• Home
  • MABRUK
  • Ahmad bin Fadhlan: Pembawa Islam ke Negeri Rusia
MABRUK

Ahmad bin Fadhlan: Pembawa Islam ke Negeri Rusia

Sumber: impawards.com

Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Dengan izin Allah Ta’ala, kita bisa mendapati berbagai wilayah berpenduduk Muslim di berbagai penjuru dunia. Wilayah dengan mayoritas Muslim bisa kita dapati mulai dari Senegal di ujung barat, Indonesia di ujung timur, dan pesisir Mozambik di ujung selatan. Dalam tulisan ini, insya Allah akan dibahas mengenai sejarah tersebarnya Muslim di sisi utara, di wilayah Republik Tatarstan yang sekarang bagian dari Rusia. Seorang tokoh penting yang melalui dakwahnya Allah Ta’ala memberi hidayah bagi penduduk Tatarstan adalah Ahmad bin Fadhlan.
Tatarstan, yang dalam Bahasa Persia berarti Negeri Tatar, adalah salah satu dari 21 republik (wilayah otonomi) di Federasi Rusia. Kota terbesarnya bernama Kazan, dibangun di tepi Sungai Volga (sungai terpanjang di Eropa). Kebanyakan penduduknya berasal dari Suku Tatar. Nenek moyang Suku Tatar adalah Suku Bulgar yang masuk Islam di abad ketiga Hijriah/abad kesepuluh Masehi. Islam sampai ke daerah itu melalui perdagangan; Sungai Volga adalah jalur dagang penting yang menghubungkan perniagaan antara Bangsa Norse (Viking) dan Kekhalifahan Abbasiyah.
Setelah mengenal Islam, Raja Almisy, pemimpin Suku Bulgar, mengirimkan delegasi kepada Amirul Mu’minin Khalifah al-Muqtadir. Delegasi itu sampai di Baghdad pada tahun 309 H (921 M). Mereka meminta kepada Khalifah untuk mengirim orang yang bisa mengajarkan perintah-perintah Allah Ta’ala dan hukum-hukum Islam, orang yang bisa membangun masjid dan menaikkan mimbar, serta untuk memberi bantuan dana untuk membangun benteng-benteng untuk mempertahankan negara dari musuh-musuhnya. Khalifah menyetujui permintaan itu. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, kekhalifahan mengirimkan delegasi Muslim ke wilayah nun jauh di utara itu. Untuk memberi pelajaran dalam hal agama, Khalifah menyiapkan tim fuqaha yang dipimpin oleh Ahmad bin Fadhlan.
Tidak banyak diketahui mengenai asal usul dan masa kecil Ahmad bin Fadhlan. Ia adalah seorang faqih di Baghdad dengan pengetahuan fiqih yang dalam, dan Khalifah mempercayainya untuk perjalanan dakwah tersebut. Dia menulis catatan mengenai perjalanan itu dengan sangat rinci, menggambarkan flora dan fauna di daerah yang dilalui dan kebudayaan berbagai kaum yang ia temui, di antaranya Kaum Oghuz, Bashkir dan Viking. Walaupun terpotong-potong, sebagian besar naskahnya ditemukan pada tahun 1923 M. Walaupun satu milenium telah berlalu, tetapi para sejarawan masih bisa menapak tilas jejak delegasi itu.
Delegasi berangkat dari Baghdad di Bulan Safar 309 H, bertepatan dengan Juni 921 M. Rute yang diambil melalui Hamadan, Rey (Teheran), Neyshabur, dan Bukhara. Mereka mencapai Khwarizm, saat itu ujung dunia Islam, pada Bulan Rajab (November). Di tempat itu, mereka harus berhenti karena berhadapan dengan rintangan berat yang belum pernah dihadapi kebanyakan penduduk Baghdad: musim dingin yang membeku. Ahmad bin Fadhlan mengisahkan bahwa setiap kali ia pulang dari pemandian umum janggutnya beku setelah sampai di rumah. Sungai Jayhun (Amu Darya) membeku dari ujung ke ujung, dan kuda bisa melintasinya sebagaimana ia melintasi jalan.
Delegasi menghabiskan Bulan Sya’ban, Ramadhan, dan Syawal di Khwarizm, menunggu sungai mencair dan musim semi datang. Selama itu, mereka mempersiapkan perbekalan, pakaian-pakaian tebal, dan bertawakal, menyerahkan segala urusan kepada Allah Ta’ala. Mereka banyak mendengar dari penduduk lokal mengenai betapa bahayanya rute yang akan mereka lintasi. Mereka harus melintasi stepa (padang rumput) yang sangat luas dan dihuni negeri-negeri kafir.
Delegasi bertolak dari Khwarizm di awal Dzulqaidah 309 H (Maret 922 M). Mereka menembus dalam ke padang rumput, tidak bertemu dengan seorangpun selama berhari-hari, dan mengalami kesulitan demi kesulitan. Walaupun Bulan Maret telah datang, hawa dingin bersilih ganti dengan badai salju yang membuat hari-hari mereka di Khwarizm terasa seperti musim panas. Seseorang di delegasi bertanya kepada Ahmad bin Fadhlan, “Apa yang Tuhan inginkan dari kita? Di sini Dia menyiksa kita dengan hawa dingin, dan jikalau kita tahu apa yang Dia inginkan dari kita, pasti akan kami berikan!” Ahmad bin Fadhlan menjawab, “Dia ingin agar kita terus berkata, ‘La ilaha illallah’.” Beberapa saat kemudian, pertolongan Allah Ta’ala datang. Mereka menemukan hutan penuh dengan kayu, yang kemudian mereka bakar untuk menghangatkan diri dan mengeringkan pakaian.
Setelah 70 hari perjalanan penuh dengan ujian kesabaran, mereka mencapai Kerajaan Bulgar pada tanggal 12 Muharram 310 H, bertepatan dengan 12 Mei 922 M, tanggal yang masih diperingati hingga kini di Tatarstan. Mereka disambut baik oleh Raja Almisy, yang kemudian mengganti namanya menjadi Ja’far bin Abdullah. Ahmad bin Fadhlan dan timnya menetap di Kerajaan Bulgar selama setengah tahun dan selama itu mereka memberi berbagai pelajaran mengenai Islam, cara membaca al Qur’an, hukum waris, membujuk agar pemandian pria dan wanita dipisah, dan berbagai hal lainnya.
Setelah Bulan Mei datang Bulan Juni, dan di tempat yang sangat jauh di utara itu, malam sangat singkat. Ahmad bin Fadhlan mencatat beberapa ijtihad mereka mengenai penyesuaian. Karena waktu maghrib hanya beberapa menit dan waktu isya’ tidak sampai dua jam, di masjid maghrib selalu dijama’ dengan isya. Mereka menyarankan orang tidak tidur malam agar tidak terlewat subuh.
Setelah delegasi kembali ke Baghdad, penduduk negeri berusaha menjalankan Islam sejauh kemampuan mereka, walaupun kadang-kadang cobaan datang. Di abad ke-13, Mongol dan sekutunya datang dari timur dan menghancurkan negara mereka, tetapi setelah itu dengan izin Allah Ta’ala beberapa khan mereka masuk Islam. Seorang dari mereka mendirikan Kekhanan Sibir di Tyumen, yang kemudian menyebarkan Islam sampai ke Khanty-Mansi. Di abad ke-16, Kekaisaran Rusia datang dari barat dan sejak itu wilayah itu masuk ke Rusia, tetapi secara umum Islam ditolerir. Di awal abad ke-20, pemberontakan komunis terjadi di Rusia dan seluruh agama ditekan dan berbagai kegiatan keagamaan dilarang. Komunisme runtuh di tahun 1991.
Sekarang, di abad ke-21, Kazan dengan jumlah penduduk kurang lebih sebanyak Semarang adalah kota terbesar keenam di Rusia. Masjid-masjid kembali dibuka, dan sejarah panjang wilayah itu membuat menjadi daya tarik bagi para turis.
Wallahu a’lam bisshowab.

Rujukan:
James E. McKeithen, “The Risalah of Ibn Fadlan: An Annotated Translation with Introduction,” PhD dissertation, Department of Near Eastern Languages and Literatures, Indiana University, 1979.
Salah Zaimeche, “The Travels of Ibn Fadlan”, http://www.muslimheritage.com/article/travels-ibn-fadlan

Related posts

Kurban : Bukti Cinta Pada Ilahi

KMI Sendai

Inovasi, Penelitian dan Peradaban

KMI Sendai

Inspirasi dari M. Shoufie Ukhtary

KMI Sendai

Leave a Comment

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.