Asal bukan babi?

Bismillahirrahmanirrahim,

Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah. Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
[Q.S. Al-Baqarah: 172-173]

Makanan merupakan hal sederhana yang bisa menjadi sangat kompleks ketika kita menyederhanakannya (baca: menyepelekannya), kenapa? Berikut ini kami uraikan secara ringkas agar menjadi pengingat bagi kita semua. :)

Sebelum masuk pada pembahasan utama, mari sedikit kita mengingat kembali konsekuensi dari syahadatain kita. Ber-Islam (bersyahadat) artinya mengakui Allah sebagai pembuat aturan dan Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa Sallam sebagai suri tauladan terbaik yang Allah utus. Ini adalah pokok yang harus dipegang teguh. Selanjutnya pada dasarnya hukum segala sesuatu yang berurusan selain dengan ibadah adalah mubah kecuali yang dilarang. Seperti adat istiadat, kebiasaan, jual-beli, makanan-minuman, dll.

Terkadang dalam urusan makanan dan minuman kita tidak berhati-hati, padahal tinggal dimanapun kita harus tetap berhati-hati dalam urusan ini, karena bisa jadi banyak doa kita tertolak karena hal ini.

Makanlah makanan yang halal, niscaya doamu akan diterima olehNya.

Banyak orang yang berambut kusut, berpakaian kumal, terlihat sangat kelelahan (seolah berada dalam perjalanan jauh), makanannya haram, pakaiannya haram, dan selalu mencari yang haram kemudian mereka mengangkat kedua tangan sambil berdoa, ‘Ya Rabbku, Ya Rabbku,’ maka bagaimana mungkin doa-doa mereka diterima olehNya?
[HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Ada pula ancaman terkait makanan yang haram,

Setiap daging yang tumbuh dari makanan yang diharamkan, niscaya api neraka lebih berkenan sbg tujuan tempat kembalinya.
[HR. Tirmidzi dari Kaab bin Ujrah]

Yang lebih menakutkan dan karena sifatnya yang teramat halus kita bisa terjerumus kedalam ke-SYIRIKAN, kenapa? Karena kita membuat hukum sendiri dengan menyatakan “selama daging yang dimakan bukan babi, maka halal dan aman”. Padahal telah ada aturan yang amat jelas di Al-Quran Al-Karim,

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
[Q.S. Al-Ma’idah: 3]

Ingat pada pokok di atas, bahwa hanya Allah yang berhak membuat hukum, bukan akal kita.

Islamic Center Jepang juga telah menetapkan bahwa seluruh daging di Jepang berstatus haram kecuali yang berlabel halal dan hingga saat ini baru ada sedikit sekali tempat pemotongan hewan halal di Jepang (Hokkaido, Tohoku, Kyushu), sementara daging halal produk impor sebagian besar dari Australia dan Brazil (sumber: informasi TUMCA). Meski begitu, alhamdulillah di kantin Tohoku University (Kawauchi dan Aobayama) telah ada menu halal. Di Kota Sendai sendiri secara bahkan telah ada 3 restoran halal dan 2 toko halal yang menyediakan bahan makanan halal di Sendai.

Makanan dan restoran halal di Sendai (Sumber: http://www.facebook.com/groups/Sendaimuslims/)

Makanan dan restoran halal di Sendai (Sumber: http://www.facebook.com/groups/Sendaimuslims/)

Oleh karena itu, sebetulnya tidak ada alasan bagi kita menyepelekan permasalahan ini, apalagi dengan alasan tinggal di Jepang sehingga sulit mendapatkan makanan halal. Ingatlah kembali kisah sahabat dan orang-orang shaleh terdahulu yang begitu amat memperhatikan apa-apa yang masuk kedalam perutnya. Abu Bakar radhiyallahu’anhu pernah meminum susu yang diberikan oleh budaknya. Setelah diberitahu oleh budaknya mengenai asal-usul susu tersebut yang diperoleh dari pekerjaan yang haram (meskipun susu itu sendiri halal), Abu Bakar lantas memuntahkannya lalu berdoa,

Ya Allah Rabbku, sungguh aku memohon ampunanMu atas sisa minuman yang masih terkandung di dalam aliran darahku, dan yang nantinya bercampur menjadi dagingku.

Begitupun halnya dengan Umar ibn Khattab radhiyallahu’anhu, yang meminum susu unta dari harta zakat karena sebuah kesalahan yang tidak ia ketahui sebelumnya sehingga Umar memasukkan jari-jarinya ke mulutnya untuk memuntahkan susu unta tersebut. Aisyah radhiyallahu’anha mengatakan bahwa ibadah yang utama adalah menjaga diri dari mengonsumsi makanan yang diharamkan oleh Allah.

Di Jepang, hewan tidak dipotong dengan cara-cara yang telah ditentukan syariat sehingga ia berstatus bangkai yang haram dimakan. Dan ada begitu banyak syubhat terkait minuman, termasuk didalamnya adalah bir dengan 0% kandungan alkohol. Sebagai mukmin yang baik maka adalah suatu keutamaan jika kita meninggalkan segala perkara syubhat. Tetapi kebanyakan kita masih mengedepankan hawa nafsu seperti yang Allah sindir dalam ayat berikut:

Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas.
[Q.S. Al-An’am: 119]

Sebetulnya tidaklah begitu sulit menemukan jajanan yang bisa dimakan atau tidak karena saudara-saudara kita telah meluangkan waktunya untuk mencarikan informasinya buat kita, silakan cek di sini, ada banyak sekali yang bisa dimakan. Apalagi seluruh produk makanan dan minuman di Jepang selalu dicantumkan komposisi bahan-bahan dasar pembuatnya. Jadi, sebenarnya gugur alasan darurat bagi kita dan bebas memakan daging apa saja asal bukan babi karena masih ada komunitas muslim dan saudara-saudara kita dari negara lain yang menyediakan makanan halal disini.

Sesungguhnya nafsu yang buruk selalu mengajak kita untuk mencoba hal-hal yang baru, sementara hal-hal tsb sesungguhnya terlarang atau mengandung perkara yang meragukan. Seperti misalnya dalam perjalanan field course/trip, lalu anda disediakan bento makan siang, tampilan yang indah dan menawan telah menarik hati anda sementara anda tidak tahu apa komposisinya dan tidak mencari tahu dengan bertanya pada teman atau pendamping anda. Berawal dari coba-coba, lama-lama menjadi terbiasa dan menyepelekan.

Ketahuilah bahwa sesungguhnya surga itu dikelilingi hal-hal yang tidak disukai. Sedangkan api neraka itu dibalut dengan kesenangan-kesenangan syahwati (yang membinasakan). [HR. Muslim]

Saudaraku, berhati-hatilah terhadap apa yang akan masuk kedalam perut kita, jauhkan diri dan tinggalkanlah hal-hal yang meragukanmu, dan lawanlah syahwat lidah dan perutmu untuk mencoba semua makanan di sini. Bersungguh-sungguhlah karena memang jalan menuju surgaNya itu penuh duri, rintangan dan berliku-liku. Jika rindu teramat sangat dengan masakan khas Indonesia maka buatlah request bagi petugas masak pada pertemuan rutin KMI-S atau hubungi secara langsung ibu-ibu di sini, mereka akan dengan tangan terbuka membantu membuatkannya, insya Allah.

Wallahu A’lam.

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)