Bank Syariah: Apakah Benar-benar Syar’i?

ekonomi-syariahCatatan: Tulisan ini adalah opini pribadi. Penulis bukanlah orang yang memiliki kompetensi yang cukup untuk menentukan fatwa apakah operasional Bank Syariah halal atau haram. Studi kasus ke setiap Bank diperlukan untuk menentukan kehalalannya, karena termin dan klausul perjanjian setiap Bank berbeda-beda.

Bank syariah belakangan ini menjadi fenomena di dunia finansial dan perbankan. Dengan menganut sistem yang berbeda dari bank biasa (bank konvensional), Bank syariah turut disebut-sebut sebagai jawaban atas semrawutnya sistem perbankan di seluruh dunia. Banyak pakar berpendapat perbankan syariah memiliki karakteristik berupa less heat, maka dari itu sistem ini tahan menghadapi krisis. Sistem perbankan konvensional dan berbagai instrumen keuangan yang aneh-aneh dituduh sebagai biang kerok berbagai krisis keuangan yang terjadi, dengan krisis finansial yang terkini adalah subprime mortgage crisis di Amerika tahun 2008.

Total aset dan total dana yang berhasil dihimpun dari masyarakat (istilahnya “Dana Pihak Ketiga”) oleh Bank Syariah semakin bertambah dari tahun ke tahun dengan sangat cepat. Profesor Celia de Anca, pakar Islamic Banking dari IE Business School, Madrid, menyatakan bahwa dari tahun 2006-2010, total aset bank-bank syariah di seluruh dunia tumbuh 23,46% per tahun (compound annual rate). Data dari majalah perbankan terkemuka The Banker menyatakan bahwa total aset di dalam industri perbankan syariah mencapai US$ 895 miliar di tahun 2010. Di Indonesia sendiri industri ini juga berkembang dengan cepat dengan rata-rata pertumbuhan industri ini mencapai 40,2% per tahun, dikutip dari pernyataan Ketua Dewan Komisioner LPS Heru Budihargo. Beliau juga menyatakan bahwa per 2012, total aset bank syariah adalah sebesar 4,2% dari total aset perbankan secara keseluruhan.

Namun di balik itu semua timbul pertanyaan, apakah bank-bank syariah sudah pantas menyandang titel “syariah” yang selalu mereka pakai untuk menarik nasabah? Apakah semua operasional bank syariah sudah benar-benar mengikuti kaidah syariah dan aturan-aturan Islam?

Perdebatan Seru

Para periset perbankan syariah dan ulama masih bertentangan satu sama lain mengenai ke-syariah-an bank syariah. Sheikh Muhammad Taqi Usmani, anggota the Accounting and Auditing Organization for Islamic Finance Institutions (AAOIFI) yang menetapkan standar syariah untuk semua institusi finansial syariah di seluruh dunia menyatakan bahwa 85% dari seluruh sukuk (surat utang syariah) yang diperdagangkan di seluruh dunia tidak sesuai dengan kaidah Islam (dan tentunya berarti tidak syariah).

Perbedaan utama sukuk dan surat utang lainnya adalah tidak adanya bunga di dalam surat perjanjian antara peminjam dan pemberi pinjaman. Walaupun begitu, banyak ulama yang juga berprofesi sebagai praktisi berpendapat bahwa termin perjanjian yang kompleks banyak dimanfaatkan oleh pemberi pinjaman untuk menyembunyikan “bunga” atas pinjaman. Praktek seperti ini tidak hanya terdapat di dalam sukuk, tapi juga banyak terjadi di transaksi-transaksi lain seperti pinjaman usaha, kredit rumah, dan perjanjian sewa.

Selain termin perjanjian yang kompleks, ada satu hal lagi yang dimanfaatkan peminjam untuk menyembunyikan “bunga”, yaitu dengan menggunakan istilah-istilah Islam dalam perjanjian. Praktik ini dilakukan di hampir semua bank syariah. Saat bertransaksi dengan bank syariah, nasabah/peminjam akan dicekoki dengan istilah-istilah semacam murabahah, mudarabah, ijarah, dan lain-lain. Penggunaan istilah-istilah Islam semacam itu menimbulkan kesan bahwa transaksi sudah sesuai dengan syariah, namun banyak terjadi kasus dimana pihak pemberi pinjaman hanya men-dompleng istilah-istilah Islam tetapi sebenarnya transaksi mengandung unsur riba.

Seorang bankir berkebangsaan Kuwait bernama Ahmad Al-Sarraf sempat menulis sebuah artikel tentang hal ini, yang berjudul “The Non-usury Deception”. Dalam artikel tersebut Ahmad mengutip pernyataan seorang pakar bank syariah bernama Profesor Hamid Al-‘Ali yang menyatakan “bank-bank Islam menyamarkan riba dengan membuat dokumen-dokumen yang terlihat sebagai dokumen penjualan, namun sejatinya merupakan dokumen perjanjian dengan bunga. Oleh karena itu, siapapun yang menganggap bahwa bank tradisional dan bank Islam berbeda adalah orang yang keras kepala”.

Sejatinya, prinsip perbankan yang sesuai syariah adalah konsep berbagi resiko (sharing risk). Dalam kasus mudarabah (bagi hasil), jika peminjam mendapat untung dari usahanya, maka pemberi pinjaman akan mendapat sebagian dari keuntungan tersebut. Namun jika peminjam menderita kerugian usaha, maka pemberi pinjaman tidak akan mendapatkan apapun. Dalam dunia finansial modern, konsep seperti ini paling dekat dengan konsep modal ventura (venture capital) atau juga dengan konsep reksa dana (mutual fund). Baik di dalam usaha modal ventura dan reksa dana, pemberi pinjaman juga turut menanggung resiko usaha yang dijalani peminjam, jadi jika usaha peminjam merugi, maka pemegang reksa dana atau investor modal ventura juga tidak akan mendapat apa-apa.

Kondisi di luar negeri

Reputasi baik perbankan syariah membuat konsep tersebut menyebar dengan cepat ke berbagai negara. Namun di balik itu, perdebatan ke-syariah-an perbankan syariah juga terus berlangsung di seluruh belahan dunia.

Di India, baru-baru ini (November 2012) Gubernur Reserve Bank of India (RBI) menolak ide perbankan syariah di sistem perbankan India. Dia berpendapat kalau “perbankan” secara Islami itu sama sekali tidak mungkin. Dia bahkan berkata bahwa “perbankan” Islam itu hanyalah mitos. Menurut dia, jika sebuah institusi keuangan ingin menjalankan operasional keuangan secara 100% syariah, maka institusi tersebut harus memikirkan bentuk operasional lain. Bank tidak mungkin menjadi jawaban. Bank adalah institusi yang harus berinteraksi dengan bank lain untuk bisa menjalankan aktifitasnya sehari-hari. Jika satu bank syariah muncul di sebuah sistem yang dipenuhi oleh bank-bank konvensional, maka mau tidak mau bank syariah tersebut juga harus menjalankan transaksi yang tidak sesuai dengan syariah, seperti yang biasa dilakukan oleh bank-bank konvensional. Transaksi yang dimaksud termasuk yang berkaitan dengan surat utang, treasury bills (surat utang negara), commercial paper, dan sebagainya yang tentu saja mengandung unsur bunga.

Bank syariah juga harus menghadapi persaingan dengan bank-bank konvensional yang ada di dalam industri perbankan untuk menarik minat nasabah. Di saat bank non-syariah dapat menawarkan bunga untuk menarik nasabah, bank syariah tidak bisa menggunakan teknik yang sama karena bunga dilarang di dalam Islam. Salah satu trik yang banyak digunakan adalah menetapkan rasio pembagian profit yang se-kompetitif mungkin dengan rate bunga yang ditawarkan bank non-syariah ke nasabahnya.

Hal lain yang terjadi di India diantaranya adalah ironi indeks syariah (Sharia Index) di pasar saham Bombai. Walaupun menyandang titel syariah, namun perusahaan-perusahaan penghuni indeks tersebut adalah perusahaan yang operasionalnya dilakukan dengan tidak sesuai syariah. Perusahaan terbesar di indeks tersebut adalah Reliance, konglomerasi swasta terbesar di India. Walaupun perusahaan tersebut menginvestasikan banyak uang di surat utang berbunga dan instrumen keuangan berbunga lainnya, tapi perusahaan ini tetap masuk ke dalam indeks syariah. Tata Consultancy, yang juga banyak berinvestasi di jenis instrumen keuangan yang sama, juga masuk ke dalam indeks syariah ini.

Sementara itu di Dubai, penyalahgunaan prinsip-prinsip syariah menjadi hal yang biasa ditemukan di bank-bank syariah di Dubai. Hussain Hamed Hassan, ulama anggota dewan syariah di Dubai Islamic Bank dan Dubai Financial Market menyatakan bahwa tugas dewan syariah adalah menetapkan struktur dari produk finansial bank, namun perihal bagaimana memasarkan produk tersebut diserahkan sepenuhnya ke bank syariah sendiri. Seringkali bankir-bankir yang menjual produk finansial tersebut berlatar belakang bank non-syariah, jadi cara berpikir merekapun masih non-syariah. Hal ini menyebabkan seringnya terjadi penyalahgunaan produk finansial syariah. Masalah kekurangan SDM yang berkompetensi di dalam prinsip syariah ini menjadi salah satu masalah terpenting yang harus diatasi industri perbankan syariah jika ingin benar-benar murni syariah.

Kondisi di Indonesia

Di Indonesia sendiri kondisi ke-syariah-an produk perbankan syariah juga masih dalam pertanyaan besar. Menurut artikel yang ditulis oleh Dr. Muhammad Arifin Baderi yang kemudian dimuat di situs www.pengusahamuslim.com, banyak bank-bank syariah yang melanggar fatwa-fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI yang terkait keuangan syariah.

Beberapa di antaranya adalah:

• Murabahah (pembiayaan pembelian properti)
Fatwa DSN (nomor 04/DSN-MUI/IV/200) menyatakan bahwa bank harus membeli barang yang diperlukan nasabah atas nama bank sendiri, dan pembelian ini harus sah dan bebas riba. Pada prakteknya, di dalam transaksi murabahah bank hanya bertindak sebagai intermediator antara nasabah dan penjual barang yang diinginkan nasabah (biasanya berupa properti). Bank hanya menyalurkan pembiayaan untuk membantu nasabah membeli barang yang diinginkannya, tanpa membeli barang tersebut atas nama bank sendiri.

• Mudharabah (bagi hasil)
Fatwa DSN (nomor 07/DSN-MUI/IV/2000) menyatakan bahwa lembaga keuangan syariah sebagai penyedia dana menanggung semua kerugian akibat dari mudharabah kecuali jika nasabah melakukan kesalahan yang disengaja, lalai, atau menyalahi perjanjian. Praktek yang beredar luas di lapangan adalah nasabah yang mendapatkan pinjaman masih diwajibkan untuk mengembalikan modal secara utuh, walaupun dia mengalami kerugian dalam usahanya.

• Gadai emas
Fatwa DSN (nomor 25/DSN-MUI/III/2002 dan 26/DSN-MUI/III/2002) menyatakan bahwa besarnya biaya pemeliharaan dan penyimpanan barang gadai tidak boleh ditentukan berdasarkan jumlah pinjaman, melainkan berdasarkan kepada pengeluaran yang nyata-nyata dikeluarkan. Fakta yang terjadi di lapangan menunjukkan bahwa ongkos penyimpanan yang dibebankan ke nasabah seringkali melebihi biaya penyimpanan barang gadai.

Kesimpulan

Industri perbankan syariah dan institusi-institusi yang berada di dalamnya belum benar-benar 100% mengikuti kaidah syariah dan aturan-aturan Islam di dalam operasionalnya sehari-hari. Masih banyak ditemukan praktek-praktek non-syariah yang dilakukan institusi berlabel syariah. Mengutip pernyataan pakar Islamic Banking Celia de Anca, standardisasi regulasi dan interpretasi hukum syariah sendiri merupakan 2 hal yang masih menjadi tantangan di dunia perbankan syariah global. Industri ini memang memiliki potensi yang sangat masif, namun untuk memanfaatkan potensi tersebut dan menjalankannya dengan benar, masih banyak hal yang harus dibenahi.

Penulis: Muhammad Rifqi

Rujukan:

  • Edzan Raharjo. Perbankan Syariah di Indonesia Tumbuh Melesat. Diunduh dari situs http://finance.detik.com/ pada tanggal 1 Januari 2013.
  • John Foster. How Sharia-compliant is Islamic Banking? Diunduh dari situs http://news.bbc.co.uk/ pada tanggal 1 Januari 2013.
  • R. Jagannathan. Islamic banking is a myth; RBI is right to reject it. Diunduh dari situs http://www.firstpost.com/ pada tanggal 1 Januari 2013.
  • Tim Redaksi. Fatwa DSN MUI Vs Praktek Perbankan Syariah. Diunduh dari situs http://pengusahamuslim.com/ pada tanggal 1 Januari 2013.
  • Uta Harnischfeger. Islamic banks ‘ignored sharia’. Diunduh dari situs http://www.thenational.ae/ pada tanggal 1 Januari 2013.
Bookmark the permalink.

3 Comments

  1. Salam kenal Bang… Coba lihat link berikut dari Syeikh Imran Hosein:

  2. selain dari pada penjelsan di atas biasanya bank syariah didalam akad murabbahah menerapkan harga yang berbeda antara jangka waktu yang berbeda, misal nasabah mau membeli mobil dengan harga pokok 10 juta maka bank memberikan harga lima belas juta dalam jangka wqaktu satu tahun namun apabila nasabah keberatan dalam waktu satu tahun maka bank menawarkan penambahan waktu satu setengah tahun dengan total harga yang bukan lagi limabelas juta akan tetapi bisa jadi tuju belas juta

  3. Bank syariah belakangan ini menjadi fenomena di dunia finansial dan perbankan. Dengan menganut sistem yang berbeda dari bank biasa (bank konvensional), Bank syariah turut disebut-sebut sebagai jawaban atas semrawutnya sistem perbankan di seluruh dunia.
    Maju terus Bank syariah Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)