BBQ 2014.12.14: Ilmu Syar’i yang Bermanfaat

catatan ilmuAlhamdulillah pada Ahad 14 Desember 2014 telah dapat dilangsungkan kajian BBQ (Belajar Bareng Quran) yang salah satunya mengundang Ustadz Ammi Nur Baits (pengelola Situs Konsultasi Syariah) untuk menjadi pemateri kajian ini. BBQ adalah kajian ikhwan KMI-S yang biasanya diadakan setiap hari Sabtu atau Ahad dua pekan sekali, dan alhamdulillah mulai pertemuan bersama Ustadz Ammi ini insya Allah beliau selanjutnya berkenan menjadi pemateri tetap kajian BBQ.

Pada kajian pertama dengan Ustadz Ammi ini, materi yang dibahas adalah mengenai ilmu (syar’i) yang bermanfaat. Beliau mengambil rujukan dari Kitab Al-Fawa’id karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah pada salah satu tulisan yang secara khusus mengambil faedah dari Surat Qaf ayat ke-37. Berikut ini rangkumannya.

Apa itu ilmu yang bermanfaat?

Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dapat memberikan pengaruh baik (atau pengingat/dzikro) pada sang penuntut ilmu, yang tampak dalam perkataan maupun perilakunya. Dengan ilmu yang bermanfaat, seorang penuntut ilmu akan lebih dekat hatinya kepada Allah  dan perbuatannya condong pada kebaikan (cek juga Surat Ar-Ra’d: 28).

Bagaimana mendapatkan ilmu yang bermanfaat?

Ibnul Qayyim secara khusus merujuk pada Surat Qaf ayat ke-37 mengenai bagaimana caranya agar kita dapat meraih ilmu yang bermanfaat.

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَ‌ىٰ لِمَن كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ

 “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya. [Qaf: 37]

 Ada empat syarat/cara untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat berdasarkan ayat ini:

1. Sumber ilmu haruslah baik (dapat menjadi pengingat)

Perhatikan bahwa para generasi terdahulu pun sangat selektif dalam memilih guru. Orang-orang yang tidak cukup kapasitasnya dalam menyampaikan ilmu tentu tidak bisa dijadikan rujukan. Seperti halnya dalam ilmu-ilmu duniawi (sains, teknik, ekonomi, dst) ada spesialisasinya, begitu pula dalam berbagai cabang ilmu keislaman pun perlu pengetahuan yang cukup untuk bisa dijadikan rujukan.

Sebagai contoh, para sahabat (radhiyallahu ‘anhum) adalah generasi terbaik penuntut ilmu karena mereka langsung menuntut ilmu dari sumber yang terbaik, Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam. Bahkan mereka dijamin tidak akan kafir selama ada Rasulullah bersama mereka, seperti disebutkan dalam Surat Ali Imran: 101,

وَكَيْفَ تَكْفُرُ‌ونَ وَأَنتُمْ تُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللَّـهِ وَفِيكُمْ رَ‌سُولُهُ ۗ وَمَن يَعْتَصِم بِاللَّـهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَىٰ صِرَ‌اطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Dan bagaimanakah bisa kamu (para sahabat) menjadi kafir jika ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”

Generasi setelah sahabat pun masih mencontohkan bagaimana mereka menuntut ilmu dari sumber ilmu yang mumpuni. Merekalah generasi tabi’in, yang belajar langsung dari para sahabat, dan generasi tabi’ut tabi’in, yang belajar langsung dari para tabi’in.

Ulama madzhab pun, kalau saja kita tahu, sebenarnya adalah para “murid yang saling berguru”. Imam Ahmad bin Hanbal merupakan murid Imam Syafi’i. Imam Syafi’i adalah murid Imam Malik, sedangkan Imam Malik dan Imam Abu Hanifah adalah satu generasi yang saling bertukar pendapat.

Sayangnya, di masa kini dengan berbagai kemudahan media, orang-orang awam pun banyak yang memberanikan diri seolah-olah “berilmu”. Padahal mereka sebenarnya hanya bermodal sumber-sumber terjemahan atau salin kanan kiri (copas) dari pencarian di internet.

Tentunya bukan berarti tidak baik jika belajar atau mencari pengetahuan dengan bantuan media saat ini, namun perlu tahu diri kapasitas kita sebagai penuntut ilmu. Keberadaan guru / sumber ilmu yang terpercaya dan sesuai kapasitasnya sangatlah dibutuhkan untuk menjadi langkah awal agar ilmu yang dipelajari dapat bermanfaat.

2. Menggunakan hati / Memiliki hati yang sehat

Syarat kedua, penuntut ilmu yang bermanfaat selayaknya pun memiliki hati yang “sehat”, yaitu hati yang dapat ditembus oleh nasihat. Sebaliknya, hati yang mati adalah hatinya orang-orang munafiq, mereka berkumpul bersama kaum muslimin sekadar untuk menghindari disebut sebagai kafir.

Orang-orang munafiq mengetahui kebenaran, tetapi tidak melaksanakannya. Mudah-mudahan kita terhindar dari sifat penuntut ilmu yang munafiq yang hatinya telah mati.

3. Mendengarkan dengan seksama

Dalam proses menuntut ilmu, sangat penting untuk mendengarkan dengan seksama. Bahkan, betapa banyak orang dengan keterbatasan penglihatan namun mereka menjadi ulama besar. Ini bisa terjadi dengan izin Allah karena mereka memanfaatkan pendengaran mereka untuk mendapatkan ilmu. Dengan keterbatasan penglihatan justru mereka terhindar dari dosa-dosa yang dapat diperbuat mata dan lebih fokus dalam menuntut ilmu.

4. Menyaksikan / Tidak lalai

Setelah mendengarkan dengan seksama, sangat penting juga bagi kita untuk selalu mengingat ilmu yang telah diperoleh dan tidak lalai dengannya. Sering kita jumpai para penuntut ilmu setelah selesai suatu kajian malah lupa dengan ilmu yang telah didengarnya. Ini karena mereka lalai terhadap ilmu tersebut.

Imam Syafi’i rahimahullah mengibaratkan ilmu seperti binatang buruan, dan mencatat ilmu tersebut ibarat mengikat binatang buruannya. Oleh karena itu, ada baiknya para penuntut ilmu selalu membawa catatan dalam setiap kajian. Apalagi bagi yang daya ingatnya lemah. Sangat baik pula bila setelah kajian selalu mengulang-ulang materi yang telah diperoleh dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Ciri-ciri seseorang telah meraih ilmu yang bermanfaat

Setelah menuntut ilmu, tentu kita ingin mengetahui bagaimana cirinya ilmu yang kita raih itu bermanfaat atau tidak. Ada setidaknya beberapa tanda ilmu tersebut bermanfaat:

  1. Ilmu tersebut memiliki kekuatan untuk membisiki pemiliknya agar beramal. Ini dapat ditunjukkan dari upaya pemilik ilmu untuk mengamalkan ilmu yang telah dipelajarinya.
  2. Pemilik ilmu yang bermanfaat tidak suka pujian. Ia bersifat seperti air, lebih suka mengalir ke bawah.
  3. Pemilik ilmu yang bermanfaat menghindari ketenaran. Ia lebih memilih tidak dikenal. Kalaupun kemudian dikenal, itu karena karya-karya dan amal-amalnya yang mengalir terus tak lekang oleh waktu meski mereka telah tiada.
  4. Pemilik ilmu yang bermanfaat selalu berprasangka buruk pada dirinya sendiri bahwa ia belum benar-benar meraih ilmu yang bermanfaat. Dengan demikian ia selalu merasa dirinya kurang dan terus menuntut ilmu tanpa henti.

Demikian sekilas rangkuman materi BBQ bersama Ustadz Ammi ini. Mudah-mudahan bermanfaat.

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)