BBQ 2014.12.28: Istiqomah

istiqamah

Alhamdulillah pada Ahad 28 Desember 2014 telah dapat dilangsungkan kajian BBQ (Belajar Bareng Quran) kembali bersama Ustadz Ammi Nur Baits (pengelola Situs Konsultasi Syariah). BBQ adalah kajian ikhwan KMI-S yang biasanya diadakan setiap hari Sabtu atau Ahad dua pekan sekali yang di antaranya diisi dengan tilawah Al-Quran para peserta dan materi dari ustadz. Hidangan sedap dari tuan rumah alhamdulillah semakin menambah lezatnya kajian ini.

Setelah di pertemuan sebelumnya Ustadz Ammi membahas proses menuntut ilmu syar’i yang bermanfaat, kali ini beliau membahas istiqomah dan kiat-kiat menggapai istiqomah. Seperti yang kita ketahui, istiqomah biasa dimaknai sebagai “komitmen”, atau konsisten dan konsekuen dengan apa yang telah dikomitmenkan. Seperti apakah istiqomah dalam tuntunan syariat? Berikut ini rangkumannya.

Makna Istiqomah

Istiqomah secara bahasa bermakna al-i’tidal (lurus). Sementara itu menurut syariat, istiqâmah adalah meniti jalan lurus (agama yang lurus / Islam) tanpa menyimpang ke kanan atau ke kiri. Istiqomah mencakup melakukan seluruh ketaatan, amalan wajib maupun amalan sunnah, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi, serta meninggalkan seluruh yang dilarang.

Ada cukup banyak ayat di dalam Al-Quran yang memerintahkan istiqomah. Di antaranya dalam Surat Huud: 112,

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَ مَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

“Maka istiqomahlah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” [Surat Huud: 112]

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhu mengatakan bahwa ayat ini merupakan ayat yang paling berat dilaksanakan. Beliau berkata juga bahwa istiqomah bermakna berlaku lurus melaksanakan hal-hal yang telah disyariatkan [cek Tafsir Ibnu Katsir].

Nasihat untuk istiqomah pun muncul dalam beberapa hadits, di antaranya adalah

عَنْ عَمْرٍو وَقِيْلَ أَبِيْ عَمْرَةَسُفْيَانَ بْنِ عَبْدِاللهِ الثَّقَفِي رَضِيَ اللهُ عَنْهَ ، قَالَ: قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ ، قُلْ لِيْ فِيْ اْلإِسْلاَمِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًاغَيْرَكَ. قَالَ: قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ . رواه مسلم

Dari Abu ‘Amr, dan ada yang mengatakan dari Abu ‘Amrah Sufyan bin ‘Abdillah ats-Tsaqafi radhiyallahu’anhu, yang berkata: “Aku berkata, ‘Ya Rasulallah! Katakanlah kepadaku dalam Islam sebuah perkataan yang tidak aku tanyakan kepada orang selain engkau.’ Beliau menjawab, ‘Katakanlah, aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.‘ ” [HR Muslim No. 38]

Meski istiqomah bermakna menempuh jalan yang lurus, ini tidak berarti seorang yang memiliki karakter istiqomah akan selalu lurus. Kekurangan dan khilaf merupakan suatu  keniscayaan. Tersirat dari petikan Surat Fusshilat: 6,

فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُ‌وهُ

“…Maka istiqomahlah kamu (beribadah) kepada-Nya dan mohonlah ampunan kepada-Nya…” [Surat Fusshilat: 6]

Dalam ayat ini terdapat isyarat bahwa pasti ada kelalaian (kekurangan) dalam istiqamah yang diperintahkan. Maka, kita diperintahkan untuk selalu pula menyertainya dengan istighfar (mohon ampun kepada Allah) yang menghasilkan taubat dan kembali kepada istiqamah.

Kiat-Kiat Menggapai Istiqamah

Ada beberapa kiat yang bisa kita coba agar dapat menggapai istiqamah dalam beramal. Terutama istiqamah untuk amalan-amalan sunnah, karena amalan wajib sudah tentu tidak boleh kita tinggalkan.

1. Memiliki amalan rutin “andalan” sesuai tuntunan As-Sunnah

Ada beberapa amalan yang tersebut dalam As-Sunnah (hadits-hadits Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam) yang jika dilakukan dengan konsisten akan diganjar dengan surga. Setiap amalan bahkan memiliki pintu surganya sendiri-sendiri. Misalnya, pintu Ar-Rayyan untuk orang yang berpuasa. Contoh lain, pintu surga dibuka untuk Bilal radhiyallahu’anhu di antaranya melalui shalat sunnah 2 rakaat setelah wudhu yang tidak pernah ditinggalkannya (cek HR Bukhari No. 1149 dan Muslim No. 2458).

Bisa dibayangkan jika kita memiliki beragam amalan sunnah yang dilakukan dengan istiqomah, tentunya lebih banyak pintu surga yang dapat terbuka. Bahkan, jika suatu ketika seseorang yang istiqamah mengamalkan suatu sunnah tertentu berhalangan melakukannya (dengan udzur syar’i), insya Allah pahalanya akan tetap diperoleh sepanjang ia bertaubat dan kembali istiqamah melakukan amalan tersebut.

Berdasarkan hal di atas, ada baiknya ketika memilih amalan rutin yang dijadikan andalan untuk istiqamah ini kita pilih amalan yang ringan disesuaikan kemampuan kita (namun tetap sesuai sunnah). Misalnya, jika hendak memilih antara rutin melakukan puasa Senin-Kamis atau puasa Daud, lebih baik memilih puasa Senin-Kamis untuk menghindari khilaf dalam pelaksanaan puasa Daud yang relatif lebih berat.

Ada suatu kisah dari sahabat ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu’anhu yang sangat bersemangat di masa mudanya meminta diizinkan puasa sunnah setiap hari. Namun, Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam melarangnya dan menganjurkan puasa Senin-Kamis. Pada akhirnya, ‘Amr bin ‘Ash memilih puasa Daud dan ia mengakui beratnya puasa tersebut ketika sudah di penghujung usianya. Ia mengatakan benarnya nasihat Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam agar memilih puasa Senin-Kamis saja, meski tentu pada kenyataannya ‘Amr bin ‘Ash benar-benar istiqamah tidak pernah meninggalkan puasa Daud satu kali pun.

Jadi, sangat penting bagi kita untuk memiliki amalan sunnah andalan ini untuk dilakukan secara istiqamah, yang ringan saja dulu tetapi konsisten dilakukan. Perlu dipertimbangkan kondisi ketika fisik kita melemah, mampu tetap istiqamah melakukan amalan tersebut atau tidak. Seperti disebutkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” [HR Muslim No. 783]

2. Luruskan niat dan berdoa pada Allah agar dimudahkan istiqamah

Meluruskan niat dalam beramal sangat penting agar amalan kita tidak hangus karena riya’ (ingin dilihat/dipuji orang lain). Allah tidak akan menerima amalan yang dilakukan tidak ikhlas bukan mengharap ridha-Nya. Perbanyak pula doa agar dimudahkan untuk ikhlas dan istiqamah dalam beramal.

Dalam Al Qur’an Allah Ta’ala memuji orang-orang yang beriman yang selalu berdo’a kepada-Nya untuk meminta keteguhan iman ketika menghadapi ujian. Allah Ta’ala berfirman,

وَكَأَيِّن مِّن نَّبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِ‌بِّيُّونَ كَثِيرٌ‌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّـهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا ۗ وَاللَّـهُ يُحِبُّ الصَّابِرِ‌ينَ وَمَا كَانَ قَوْلَهُمْ إِلَّا أَن قَالُوا رَ‌بَّنَا اغْفِرْ‌ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَ‌افَنَا فِي أَمْرِ‌نَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانصُرْ‌نَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِ‌ينَ فَآتَاهُمُ اللَّـهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الْآخِرَ‌ةِ ۗ وَاللَّـهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikutnya yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang sabar. Tidak ada do’a mereka selain ucapan: ‘Ya Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan teguhkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.‘ Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” [Surat Ali ‘Imran: 146-148]

Doa lain yang dicontohkan orang-orang beriman di masa lalu dan terekam di dalam Al-Quran adalah

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

“Ya Rabb kami, limpahkanlah kesabaran atas diri kami, dan teguhkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.” [Surat Al-Baqarah: 250]

Kemudian, ada pula doa untuk diberikan keteguhan dan ketegaran di atas jalan yang lurus,

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau, karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” [Surat Ali Imron: 8]

Dan doa yang paling sering Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam panjatkan adalah

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

“Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).”

Ummu Salamah pernah menanyakan kepada Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam, mengapa doa tersebut yang sering beliau baca. Nabi shallallaahu’alaihi wa sallam menjawab,

يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِىٌّ إِلاَّ وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ

“Wahai Ummu Salamah, yang namanya hati manusia selalu berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya.” [HR Tirmidzi No. 3522]

3. Memilih teman / komunitas / pergaulan yang baik

Dalam upaya menggapai keistiqamahan, sangat penting pula bagi kita untuk memilih teman pergaulan atau komunitas yang baik, yaitu komunitasnya orang-orang shalih. Atau, kalaupun kita sulit melihat keshalihan orang lain, setidaknya kita memilih teman-teman yang bersama mereka itu dapat membantu menambah semangat kita dalam beramal kebaikan.

Rasulullah Shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda:

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu, salah satu di antara kalian hendaknya memperhatikan siapa yang dia jadikan teman. [HR Abu Dawud No. 4833 dan At-Tirmidzi No. 2378]

Allah menyatakan dalam Al-Quran bahwa salah satu sebab utama yang membantu menguatkan iman para shahabat Nabi adalah keberadaan Rasulullah shallaallahu’alaihi wa sallam langsung di tengah-tengah mereka. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Bagaimana mungkin kalian (para sahabat) menjadi kafir, sedangkan ayat-ayat Allah dibacakan kepada kalian, dan Rasul-Nya berada di tengah-tengah kalian? Dan barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya dia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” [Surat Ali ‘Imran: 101]

Allah juga memerintahkan agar selalu bersama dengan orang-orang yang baik. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” [Surat At-Taubah: 119]

Nabi shallallahu’alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita agar bersahabat dengan orang yang dapat memberikan kebaikan dan sering menasihati kita.

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً

“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang buruk  adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya (orang shalih), engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” [HR. Bukhari No. 2101]

Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, “Hadits ini menunjukkan larangan berteman dengan orang-orang yang dapat merusak agama maupun dunia kita. Dan hadits ini juga menunjukkan dorongan agar bergaul dengan orang-orang yang dapat memberikan manfaat dalam agama dan dunia.” [Fathul Bari 4/324]

Para ulama pun menganjurkan agar kita selalu dekat dengan orang-orang sholih dan membentuk komunitas yang saling mengingatkan dalam kebaikan. Ibnul Qayyim mengisahkan, “Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah), jika ditimpa perasaan gundah gulana atau muncul dalam diri kami prasangka-prasangka buruk atau ketika kami merasakan sempit dalam menjalani hidup, maka kami segera mendatangi Ibnu Taimiyah untuk meminta nasihat. Dengan hanya memandang wajah beliau dan mendengarkan nasihat beliau serta merta hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang.” [Shahih Al Wabilush Shoyyib, Dar Ibnul Jauziy]

Itulah pentingnya bergaul dengan orang-orang yang sholih. Oleh karena itu, sangat penting sekali mencari lingkungan yang baik dan mencari sahabat atau teman dekat yang semangat dalam menjalankan agama sehingga kita pun bisa tertular aroma kebaikannya. Jika teman kita adalah orang-orang shalih, ketika kita keliru, ada yang selalu menasehati dan menyemangati kepada kebaikan. Lain halnya jika teman kita adalah orang-orang yang buruk amal perbuatannya, tidak ada yang menasihati kita dan bahkan kita bisa ikut-ikutan berperilaku buruk.

Sarana penunjang istiqamah: Selalu menuntut ilmu

Seperti perkataan yang lazim diketahui, ilmu sebelum amal, maka sepantasnya kita pun terus menambah ilmu, mendekat pada sumber-sumber ilmu yang bermanfaat. Dengan bertambahnya ilmu, amalan yang kita lakukan insya Allah akan lebih sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam sehingga jalan menuju istiqamah pun lebih terbuka. Banyak-banyaklah berinteraksi dengan komunitas kebaikan, yang di antaranya adalah majelis-majelis ilmu.

Demikian sekilas rangkuman materi BBQ bersama Ustadz Ammi ini. Mudah-mudahan bermanfaat.

Baarakallahu fiikum

Divisi Tarbiyah KMI-S 2014/2015

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)