BBQ 2015.11.01: Tafsir Surat At-Tiin

at-tiin

Alhamdulillah pada Ahad 1 November 2015 telah dapat dilangsungkan kajian BBQ (Belajar Bareng Quran) kembali bersama Ustadz Ammi Nur Baits (pengelola Situs Konsultasi Syariah). BBQ adalah kajian ikhwan KMI-S yang biasanya diadakan setiap hari Ahad dua pekan sekali yang di antaranya diisi dengan tilawah Al-Quran para peserta dan materi ringkas dari Ustadz Ammi. Hidangan sedap dari tuan rumah alhamdulillah semakin menambah lezatnya kajian ini. Jazaakallahu khairan kepada Sdr. Angga Hermawan yang kali ini telah meluangkan waktu dan tenaganya untuk menjamu para peserta.

Pada sesi BBQ kali ini Ustadz Ammi membahas tafsir Surat At-Tiin. Surat At-Tiin digolongkan sebagai surat Makkiyyah. Perlu dicatat bahwa pembagian ini bukan berdasarkan tempat, melainkan berdasarkan periode kenabian. Jika dibagi menurut tempat turunnya surat tersebut, pembagian Makkiyyah dan Madaniyyah saja belum cukup karena ada beberapa surat dan ayat yang diturunkan ketika Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam berada di luar kota Makkah dan Madinah. Surat ini terdiri dari 8 ayat yang ringkas dan padat makna.

وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ ﴿١﴾ وَطُورِ‌ سِينِينَ ﴿٢﴾ وَهَـٰذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ ﴿٣﴾ لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ ﴿٤﴾ ثُمَّ رَ‌دَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ ﴿٥﴾ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ‌ غَيْرُ‌ مَمْنُونٍ ﴿٦﴾ فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّينِ ﴿٧﴾ أَلَيْسَ اللَّـهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ ﴿٨﴾  0

Mari kita simak terjemah dan tafsir ringkasnya ayat demi ayat.

1 – Demi (buah) Tiin / Delima dan (buah) Zaitun

Terkadang Allah Subhanahu wa Ta’ala bersumpah dengan nama makhluk-Nya. Allah berhak melakukan ini karena Dia-lah Sang Malik, Sang Raja. Ibarat kata, seorang raja berhak melakukan sesuatu, tetapi di waktu yang sama dia melarang rakyatnya untuk melakukan hal tersebut.

Perlu diketahui bahwa ada 3 pendapat ulama tentang At-Tiin dan Az-Zaituun di dalam ayat ini:

  • Pendapat pertama, merujuk kepada buah tin dan buah zaitun yang dimanfaatkan oleh manusia.
  • Pendapat kedua, merujuk kepada tempat buah-buah tersebut tumbuh, yaitu di Negeri Syam (Suriah dan sekitarnya).
  • Pendapat ketiga, merujuk kepada masjid-masjid, yaitu At-Tiin merujuk kepada Masjid Ashabul Kahfi, dan Az-Zaituun merujuk kepada Baitul Maqdis.

Pendapat yang dikuatkan oleh jumhur ulama adalah pendapat kedua.

2 – Dan demi bukit Sinai

Tursina adalah bukit Sinai, tempat Nabi Musa ‘alaihissalam menerima wahyu.

3 – (Dan demi) kota ini yang aman

Balad Al-Amin merujuk kepada kota Mekkah. Kota Mekkah ini disebut Balad Al-Amin karena merupakan kota paling aman sedunia dengan keberadaan Ka’bah di dalamnya. Dikisahkan bahwa ketika ada penduduk Mekkah yang keluar kota untuk berdagang, mereka tidak akan diganggu. Jika ada yang mengganggu, para pengganggu tersebut tidak akan diperbolehkan masuk ke Mekkah, dan juga tidak boleh beribadah di Ka’bah,

Hal yang menarik dari 3 ayat pertama surat At-Tiin ini adalah bahwa tempat-tempat yang disebutkan di sini merupakan tempat diangkatnya 3 Nabi Allah yang dijadikan Rasul Ulul Azmi. Ketiga nabi tersebut adalah Nabi Isa ‘alaihissalam yang diangkat menjadi nabi di Negeri Syam, Nabi Musa ‘alaihissalam yang menerima wahyu di Bukit Sinai, dan Nabi Muhammad shallallaahu’alaihi wa sallam yang diangkat menjadi Nabi di area Mekkah. Para nabi/rasul inilah yang telah membawa syariat paling besar, yang sekarang mewakili 3 pemahaman besar di dunia, yaitu Yahudi, Nasrani dan Islam.

4 – Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya

Allah Ta’ala menjadikan manusia dengan bentuk sempurna, dengan sifat-sifat yang tidak dimiliki makhluk lain, seperti binatang dan jin. Oleh karena itu sepatutnya kita bersyukur sebagai manusia dan tidak perlu mencari-cari bantuan dari selain kepada Allah. Sungguh aneh jika ada manusia yang meminta tolong pada jin atau setan karena mereka lebih buruk dari manusia. Allah menyembunyikan rupa jin karena pada dasarnya mereka buruk rupa.

5 – Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)

Menurut ahli bahasa, kata “asfala saafiliin” maknanya seperti aspal, yang biasa kita pijak untuk berjalan di atasnya. Ada dua pendapat mengenai ayat ini:

  • Pendapat pertama, ayat ini bermakna manusia akan kembali ke neraka.
  • Pendapat kedua, ayat ini bermakna manusia akan bermakna kembali kepada usia ketika kita tidak ingat apa-apa, yaitu di usia pikun. Supaya tidak pikun, kita bisa menghafalkan Al-Quran seperti yang dilakukan Ibnu Jarir Ath-Thabari.

Pendapat yang disepakati jumhur ulama adalah bahwa ayat ini bermakna manusia akan kembali pada neraka, berdasarkan pengecualian pada ayat berikutnya.

6 – Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya

Ayat ini merupakan pengecualian dari ayat sebelumnya, yaitu “Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh”. Perhatikan jika diambil pendapat bahwa “asfala saafiliin” pada ayat sebelumnya bermakna “pikun”, ini merupakan suatu kesalahan, karena orang yang beriman dan beramal saleh bisa jadi akan pikun di masa tuanya. Tentunya hal yang aneh jika orang beriman dan beramal saleh yang pikun pada masa tuanya malah pahalanya terputus akibat kepikunannya. Ini bisa jadi tidak adil bagi orang-orang yang telah beriman dan beramal saleh. Itulah sebabnya, lebih kuat pendapat bahwa manusia akan dikirim ke neraka, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh.

Iman dan amal saleh merupakan dua hal yang berbeda yang saling menopang satu sama lainnya. Iman berarti mentauhidkan Allah Ta’ala, sementara amal saleh berarti mengikuti perbuatan Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam sesuai dengan panduan Allah Ta’ala.

Pahala yang tidak terputus pada ayat ini bermakna surga. Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa ada beberapa orang yang belum masuk surga karena dia diberi hukuman terlebih dahulu.

7 – Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu?

Kaum Quraisy tidak percaya akan datangnya Hari Pembalasan dikarenakan mereka berpendapat bahwa, “Allah tidak bisa mengembalikan tanah menjadi manusia.” Padahal, telah disebutkan di ayat-ayat sebelumnya bahwa Allah Ta’ala telah menciptakan manusia dari tanah, dan pastinya Allah bisa melakukannya lagi dengan kehendak-Nya.

8 – Bukankah Allah hakim yang seadil-adilnya?

Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan Dzat Paling Bijaksana. Keadilan yang ada di dunia ini tidak sempurna. Ayat ini merupakan tanggapan terhadap pendustaan Hari Kiamat, yaitu hari adanya pemberian balasan pahala maupun hukuman. Jika Hari Kiamat tidak ada, maka itu berarti Allah tidak adil, dan itu tidak mungkin.

Terkadang, setelah membaca ayat ini, ada yang melafalkan

بَلَى، وَأَنَا عَلَى ذَلِكَ مِنَ الشَّاهِدِيْنَ

Lafal tersebut juga disebutkan setelah membaca beberapa ayat lain, seperti ayat terakhir Surat Al-Qiyamah. Riwayat dari lafal ini dihukumi dhaif oleh Syaikh Al-Albani. Lafal ini boleh saja dibaca jika saat sedang membaca Al-Quran biasa, sebagai sebuah respon alami dari pertanyaan yang ada pada akhir ayat Surat At-Tiin tersebut. Namun ada baiknya jangan dibaca ketika sedang shalat untuk menghindari penambah-nambahan yang berpotensi bid’ah pada ibadah shalat.

***

Surat At-Tiin ini, seperti kebanyakan Surat Makkiyyah lainnya, lebih menekankan penguatan aqidah daripada akhlak ataupun hukum. Hal ini dikarenakan penanaman aqidah akan membuat manusia lebih mudah menerima perintah dalam memperbaiki akhlak maupun melaksanakan hukum-hukum. Itulah di antara hikmah mengapa Allah lebih dulu menurunkan ayat-ayat aqidah sebelum menurunkan ayat-ayat seputar hukum.

Demikian rangkuman materi BBQ bersama Ustadz Ammi ini. Mudah-mudahan bermanfaat.

Baarakallahu fiikum.

Perangkum: Reyhan Daffa Athariq
Penyunting: Abu Royyan
Divisi Media KMI-S 2015/2016

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)