BBQ 2015.11.15: Islam itu Rahmat

islamrahmat

Alhamdulillah pada hari Ahad, 15 November 2015, telah dapat dilangsungkan kajian BBQ (Belajar Bareng Quran) kembali bersama Ustadz Ammi Nur Baits (pengelola Situs Konsultasi Syariah). BBQ adalah kajian ikhwan KMI-S yang biasanya diadakan setiap hari Ahad dua pekan sekali yang di antaranya diisi dengan tilawah Al-Quran para peserta dan materi ringkas dari Ustadz Ammi. Hidangan sedap dari tuan rumah alhamdulillah semakin menambah lezatnya kajian ini. Jazaakallahu khairan kepada Sdr. Abdurro’uf yang kali ini telah meluangkan waktu dan tenaganya untuk menjamu para peserta.

Pada sesi BBQ kali ini Ustadz Ammi mengangkat tema “Islam itu Rahmat”. Pembahasan ini berangkat dari kenyataan bahwa masih banyak di antara masyarakat awam yang menganggap Islam sebagai agama yang berat, pun bagi kaum muslimin sendiri. Padahal, Allah Subhanahu Wa Ta’ala justru menurunkan syariat Islam sebagai rahmat kepada manusia melalui perantara Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam. Syariat Islam diturunkan untuk mengatur kehidupan kita sehari-hari, mengatur Halal dan Haram, dan banyak lagi, yang semuanya tidaklah menyusahkan.

Allah Berfirman dalam Surat Al-Anbiyaa ayat 107:

وَمَا أَرْ‌سَلْنَاكَ إِلَّا رَ‌حْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Dan tiadalah kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.”

Syariat Islam yang dibawa Nabi Muhammad shallallaahu’alaihi wa sallam merupakan rahmat bagi seluruh alam serta membawa kebaikan bagi seluruh makhluk Allah. Perlu diketahui bahwa syariat Islam itu jauh lebih ringan daripada beberapa syariat lainnya yang pernah turun pada masa manusia sebelum era Nabi Muhammad. Sebagai contoh, syariat Yahudi atau Bani Israil disebutkan dalam Surat Al-An’am ayat 146:

وَعَلَى الَّذِينَ هَادُوا حَرَّ‌مْنَا كُلَّ ذِي ظُفُرٍ‌ ۖ وَمِنَ الْبَقَرِ‌ وَالْغَنَمِ حَرَّ‌مْنَا عَلَيْهِمْ شُحُومَهُمَا إِلَّا مَا حَمَلَتْ ظُهُورُ‌هُمَا أَوِ الْحَوَايَا أَوْ مَا اخْتَلَطَ بِعَظْمٍ ۚ ذَٰلِكَ جَزَيْنَاهُم بِبَغْيِهِمْ ۖ وَإِنَّا لَصَادِقُونَ

“Dan kepada orang-orang Yahudi, Kami haramkan segala binatang yang berkuku dan dari sapi dan domba, Kami haramkan atas mereka lemak dari kedua binatang itu, selain lemak yang melekat di punggung keduanya atau yang di perut besar dan usus atau yang bercampur dengan tulang. Demikianlah Kami hukum mereka disebabkan kedurhakaan mereka; dan Sesungguhnya Kami adalah Maha benar.”

Pada ayat di atas, yang dimaksud dengan binatang berkuku ialah binatang-binatang yang jari-jarinya tidak terpisah antara satu dengan yang lain, seperti unta, itik, angsa, dan lain-lain. Sebagian ahli tafsir mengartikan dengan hewan yang berkuku satu seperti kuda, keledai, dan sejenisnya.

Perhatikan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala menurunkan peraturan yang menyulitkan hidup kepada Bani Israil dikarenakan kezaliman mereka sendiri, seperti disebutkan dalam surat An-Nisaa ayat 160:

فَبِظُلْمٍ مِّنَ الَّذِينَ هَادُوا حَرَّ‌مْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبَاتٍ أُحِلَّتْ لَهُمْ وَبِصَدِّهِمْ عَن سَبِيلِ اللَّـهِ كَثِيرً‌ا

“Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah.”

Bandingkan syariat Yahudi tersebut dengan syariat Islam, di dalam syariat Islam tidak ada peraturan yang bersifat menyempitkan ataupun merepotkan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala tentunya yang paling tahu kondisi hamba-Nya, karena Ia Maha Pengampun, Maha Bijaksana, serta Maha Tahu terhadap hamba-Nya. Maka, Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan selalu memberi yang terbaik kepada hamba-Nya, sebagaimana firman Allah dalam petikan Surat Al-Baqarah ayat 286:

لَا يُكَلِّفُ اللَّـهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya …”

Syariat Islam juga merupakan sebaik-baiknya peraturan. Hal-hal yang dihalalkan itu pastinya merupakan hal-hal yang baik bagi manusia, sedangkan hal-hal yang diharamkan merupakan hal-hal yang buruk bagi manusia. Ini tidak seperti di zaman Bani Israil, ketika makanan-makanan yang baik pun diharamkan bagi mereka (karena kezaliman mereka). Peraturan kehidupan sehari-hari pun sangat menyulitkan, apalagi jika sampai berbuat dosa besar.

Pada masa Bani Israil, jika ada bagian pakaian yang terkena najis, diwajibkan untuk memotong bagian yang terkena najis itu. Jika ada yang melakukan kesyirikan lalu hendak bertaubat, taubat itu tidak akan diterima kecuali dengan bunuh diri, atau lebih tepatnya saling membunuh antara kaum musyrikin, seperti disebutkan dalam Surat Al-Baqarah ayat 54:

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ أَنفُسَكُم بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ فَتُوبُوا إِلَىٰ بَارِ‌ئِكُمْ فَاقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ‌ لَّكُمْ عِندَ بَارِ‌ئِكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ ۚ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّ‌حِيمُ

“Dan (ingatlah), ketika Musa Berkata kepada kaumnya: ‘Hai kaumku, Sesungguhnya kamu Telah menganiaya dirimu sendiri Karena kamu Telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), Maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan Bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; Maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya dialah yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.'”

Pada ayat di atas, maksud dari “membunuh dirimu” itu di antaranya ada ahli tafsir yang mengartikan bahwa orang-orang yang tidak menyembah anak lembu itu membunuh orang yang menyembahnya. Adapula yang mengartikan bahwa orang yang menyembah patung anak lembu itu saling bunuh-membunuh, dan apa pula yang mengartikan bahwa mereka disuruh membunuh diri mereka masing-masing untuk bertaubat.

Maka, dengan syariat Islam yang kita miliki saat ini, sudah sepatutnya kita malu apabila mencoba-coba menawar syariat, atau mencari celah untuk melanggar syariat tersabut. Misalnya seputar shalat 5 waktu, makanan halal-haram, seputar kewajiban berjilbab bagi muslimah, panduan bersosialisasi dengan sesama manusia, dan lainnya, semuanya tidaklah memberatkan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga memberikan syariat Islam kepada manusia sebagai wujud cinta-Nya kepada manusia. Di dunia, manusia pasti butuh sebuah pedoman, sebuah peraturan dalam hidup mereka. Oleh karena itu, Allah Subhanahu Wa Ta’ala pun menurunkan syariat Islam sebagai aturan yang sempurna untuk kesejahteraan dan rahmat bagi manusia. Syariat Islam merupakan hadiah terbesar Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada manusia, sehingga sudah sepatutnya manusia harus bersyukur terhadap hadiah tersebut.

Terkait dengan rasa syukur kita terhadap syariat Islam, kita bisa ambil pelajaran dari sebuah hadits yang dituturkan melalui Mu’awiyyah bin Abi Sofyan radhiyallahu’anhuma. Beliau mengisahkan,

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَلَى حَلْقَةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ فَقَالَ مَا أَجْلَسَكُمْ قَالُوا جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللَّهَ وَنَحْمَدُهُ عَلَى مَا هَدَانَا لِلْإِسْلَامِ وَمَنَّ بِهِ عَلَيْنَا قَالَ آللَّهِ مَا أَجْلَسَكُمْ إِلَّا ذَاكَ قَالُوا وَاللَّهِ مَا أَجْلَسَنَا إِلَّا ذَاكَ قَالَ أَمَا إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفْكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ وَلَكِنَّهُ أَتَانِي جِبْرِيلُ فَأَخْبَرَنِي أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِي بِكُمْ الْمَلَائِكَةَ

“Sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati satu halaqah para sahabatnya (dengan Mu’awiyyah di dalamnya), lalu beliau bertanya: ‘Majelis apakah ini?’ Mereka (para sahabat) menjawab: ‘Kami duduk untuk berdzikir kepada Allah. Kami memuji-Nya atas hidayah-Nya berupa Islam dan atas anugerah-Nya kepada kami.’ Beliau bertanya lagi: ‘Demi Allah, apakah kalian duduk untuk itu?’ Mereka menjawab: ‘Demi Allah, kami duduk hanya untuk itu.’ Beliau pun kemudian bersabda: ‘Sungguh, aku tidaklah menyuruh kalian bersumpah karena mencurigai kalian, tetapi karena aku didatangi Jibril ‘alaihis-salaam yang memberitahukan bahwa Allah ‘azza wa jalla membanggakan kalian di depan para malaikat.’ ” [HR. Muslim no. 2701]

Perhatikan bagaimana para sahabat berkumpul dan berzikir, mendiskusikan tentang indahnya islam. Mereka memuji Allah atas hidayah-Nya berupa Islam. Kalaulah bukan karena itu, mereka pasti masih berada dalam kejahilan dan kezaliman. Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam pun menjawab bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala membanggakan mereka (para sahabat) di depan para malaikat.

Oleh sebab itu, kita sebagai manusia sepatutnya merenung akan betapa hebatnya aturan Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah mengatur seluruh aspek kehidupan, bahkan meliputi tata cara nikah, adab suami-istri hingga perceraian. Dengan mensyukuri keberadaan syariat Islam juga, kita dapat membangun keimanan masing-masing agar lebih kuat lagi.

***

Demikian rangkuman materi BBQ bersama Ustadz Ammi ini. Mudah-mudahan bermanfaat.

Baarakallahu fiikum.

Perangkum: Reyhan Daffa Athariq
Penyunting: Abu Royyan
Divisi Media KMI-S 2015/2016

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)