BBQ 2015.12.20: Meninggalkan Harta yang Haram

meninggalkan-harta-haram

Alhamdulillah pada hari Ahad, 20 Desember 2015, telah dapat dilangsungkan kajian BBQ (Belajar Bareng Quran) kembali bersama Ustadz Ammi Nur Baits (pengelola Situs Konsultasi Syariah). BBQ adalah kajian ikhwan KMI-S yang biasanya diadakan setiap hari Ahad dua pekan sekali yang di antaranya diisi dengan tilawah Al-Quran para peserta dan materi ringkas dari Ustadz Ammi. Hidangan sedap dari tuan rumah alhamdulillah semakin menambah lezatnya kajian ini. Terima kasih untuk Keluarga Nailul yang telah meluangkan waktu dan tenaganya untuk menjamu para peserta, jazaahumullaahu khairan.

Pada pertemuan BBQ ini, Ustadz Ammi mengangkat tema “Meninggalkan Harta yang Haram”. Maha Suci Allah yang telah menciptakan agama Islam sebagai bimbingan bagi umat manusia. Allah juga yang memberikan cobaan-cobaan kepada manusia untuk menguji kesabaran mereka. Ada sebuah kisah tentang kaum ‘Ad, yaitu suatu kaum yang tinggal pada masa Nabi Hud. Mereka merasa bahwa merekalah umat yang terkuat. Akibatnya, mereka pun sombong dan menyimpang dari ajaran Allah. Maka, Allah Subhanaahu wa Ta’ala pun membinasakan mereka. Ada pula cobaan untuk bani Israil berupa wanita, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits,

إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خضرة، وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّــقُوا الدُّنْــيَا وَاتَقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِـي إِسْرَائِـيلَ كَانَتْ فِي النِسَاءِ

Sesungguhnya dunia ini begitu manis nan hijau. Dan Allah mempercayakan kalian untuk mengurusinya, Allah ingin melihat bagaimana perbuatan kalian. Karenanya jauhilah fitnah dunia dan jauhilah fitnah wanita, sebab sesungguhnya fitnah pertama kali di kalangan Bani Israil adalah masalah wanita.” [H.R. Muslim: 2742]

Pada zaman ini, manusia menghadapi sebuah cobaan baru, yaitu harta. Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِى الْمَالُ

Sesungguhnya bagi setiap umat ada cobaan, dan cobaan bagi umatku adalah harta.” [HR. At-Tirmidzi dari Ka’ab bin ‘Iyadh radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 592]

Tidak jarang ada manusia yang tidak peduli apakah harta yang ia dapatkan itu halal atau haram, padahal harta yang haram dapat berdampak berbahaya bagi manusia. Ada yang beralasan bahwa sekarang untuk mencari harta yang halal itu susah, dan dikarenakan kondisinya darurat, tidak apa-apa memakan makanan yang haram. Sebenarnya itu tipuan iblis belaka.

Mari kita lihat beberapa cara agar lebih mudah untuk meninggalkan hal-hal yang haram, terutama dalam masalah harta.

Pahami bahwa hidup bukan hanya sekali di dunia, namun akan adanya Hari Akhir, atau hidup sesudah mati.

Semua hal yang kita lakukan di dunia ini pasti dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Oleh karenanya, sudah sepatutnya kita memerhatikan setiap hal yang kita lakukan, termasuk perkara halal dan haram ini. Allah Subhanaahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Al-Muthaffifiin:

وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ  الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ   وَإِذَا كَالُوهُمْ أَو وَّزَنُوهُمْ يُخْسِرُ‌ونَ

  1. Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang*,
  2. (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi,
  3. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. 

    [Surat Al-Muthaffifiin: 1-3]
    * yang dimaksud dengan orang-orang yang curang di sini ialah orang-orang yang curang dalam menakar dan menimbang.

Dalam ayat tersebut, kita dapat mengambil hikmah bahwa sebagai manusia, kita tidak boleh melebih-lebihkan timbangan dan tidak boleh pula mengambil apa yang seharusnya bukan milik kita. Oleh sebab itu, kita tidak boleh mengambil hak kita, namun di sisi lain kita tidak serius atau malas dalam menunaikan kewajiban.

Masalah halal dan haram ini bukan sekedar masalah fiqh, namun ia juga merupakan masalah yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Pada zaman Rasulullah dahulu, ketika beliau berdakwah di Mekah, beliau menitikberatkan tentang masalah aqidah dan akhlak. Pascahijrah ke Madinah, akhlak para pengikutnya sudah terbangun sehingga mereka taat kepada perintah Allah dan Rasul-Nya tanpa bertanya ataupun beralasan. Mereka merasa bahwa kepentingan Allah Subhanaahu wa Ta’ala jauh lebih tinggi daripada kepentingan pribadi.

Salah satu contoh yang bisa diambil adalah ketika diharamkannya khamr. Waktu itu, khamr merupakan aset ekspor, terutama saat musim kurma. Masyarakat Arab di Mekah dan Madinah kala itu mengekspor khamr ke Syam dan mengimpor gandum darinya. Mereka sebenarnya tidak banyak yang menyukai khamr, namun membudidayakannya dikarenakan potensi pasarnya. Walaupun khamr ini memberi banyak keuntungan, namun ketika diturunkan ayat tentang larangan khamr yang disampaikan secara bertahap, kaum muslimin (para sahabat) segera taat dan tidak membantahnya.

Ada sebuah kisah tentang seorang sahabat bernama Abu Thalhah radhiyallahu’anhu, yaitu ayah tiri Anas bin Malik, seorang sahabat lainnya yang banyak meriwayatkan hadits. Saat belum turun larangan mutlak terhadap khamr, Abu Thalhah pernah dititipkan harta milik anak yatim. Ia kemudian menggunakan harta itu untuk membudidayakan khamr karena berpikir ia dapat menggandakan uang tersebut jika khamr berhasil dijual. Ketika khamr itu hampir siap dijual, turunlah larangan tentang khamr. Abu Thalhah pun bingung dan datang kepada Rasulullah. Ia bertanya apakah ada cara lain agar khamr itu dapat tetap dijual, seperti diubah menjadi cuka terlebih dahulu. Namun, Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam mengatakan bahwa itu tetap tidak bisa, dan Abu Thalhah langsung tunduk pada syariat.

Sikap ini cukup berlawanan dengan sikap manusia masa kini, ketika adanya larangan terhadap sesuatu, kita kerap malah membuat pembenaran. Seharusnya kita mengambil hikmah dari kisah Abu Thalhah radhiyallahu’anhu serta para muslim terdahulu ketika telah jelas perihal sebuah perintah maupun larangan, maka langsung tunduk pada syariat Allah tanpa ada bantahan sedikitpun.

Bangun kesadaran akhirat, bahwa di dunia ini tidak ada yang gratis.

Kaki itu tidak akan bergeser hingga ditanya dari mana harta yang ia peroleh, dan untuk apa harta itu ia gunakan. Seperti itulah konsep ekonomi dalam Islam, yaitu tentang dari mana harta yang seseorang peroleh, dan untuk apa harta itu ia gunakan. Seringkali kita iri terhadap mereka yang lebih kaya, padahal orang orang yang lebih kaya akan dihisab lebih lama dikarenakan kekayaannya.

Agar dapat menjauh dari harta yang bukan hak kita, sebaiknya kita belajar memahami konsep rezeki yang benar dalam Islam. Dalam penciptaan manusia, ketika manusia sudah 4 bulan dalam kandungan, malaikat datang untuk meniupkan ruh, dan mencatat 4 hal, termasuk takdir dan rezeki. Di dunia ini, hanya Allah yang menanggung semua rizki manusia.

Ketika kita sadar bahwa rezeki ditetapkan oleh Allah semata, seharusnya kita waspada agar tidak berlebih-lebihan dalam mengumpulkan harta. Bisa jadi, barang-barang yang ada di rumah kita, belum tentu semuanya murni rezeki kita, bisa jadi sebagian merupakan hak untuk orang lain. Di sisi lain, walaupun kita tahu bahwa rezeki sudah ditetapkan Allah, kita tidak boleh tidak kerja atau bermalas-malasan kerja, karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan.

Sebaiknya kita menjauhi sikap ingin cepat kaya dan maruk. Banyak penguasa pada zaman dahulu yang mempunyai sikap ini dan akhirnya kekuasaannya runtuh. Sikap ini dapat menyebabkan banyak dampak negatif, seperti orang kerap melakukan segala cara untuk mendapatkan harta, termasuk dengan berhutang, yang pada akhirnya menjadi beban untuk dirinya sendiri dan akan membuatnya jatuh kepada cara-cara yang haram untuk mendapatkan harta.

Ketahuilah bahayanya harta yang haram.

Jika kita melihat kisah kaum kaum terdahulu, tidak sedikit kaum yang Allah timpakan wabah dan bencana dikarenakan ketamakan mereka. Kita sebagai seorang muslim sudah sepatutnya berusaha untuk memahami bahaya yang disebabkan harta yang haram agar dapat lebih mudah menghindarinya. Ancaman untuk setiap daging yang tumbuh dari harta haram adalah api neraka. Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلَّا كَانَتْ النَّارُ أَوْلَى بِهِ

Tidak ada daging yang tumbuh dari as-suht, kecuali neraka lebih layak baginya.” [HR. Turmudzi 614 dan dishahihkan al-Albani]

Mencari komunitas yang baik.

Komunitas itu penting, karena sebuah komunitas dapat memberikan motivasi dari luar diri sendiri. Kita sebagai manusia tidak cukup berjuang sendiri dengan memotivasi diri sendiri. Contohnya, dalam skala keluarga, istri mendukung suami, ayah mendukung anak, dan seterusnya. Selain itu, perlu juga kita cari komunitas yang baik di sekitar lingkungan sosial kita, agar kita selalu diingatkan untuk berbuat baik, termasuk dalam hal mencari nafkah dari harta yang halal sehingga dapat menghindari yang haram.

Demikian catatan BBQ untuk kali ini. Semoga kita semua senantiasa terpelihara dari harta-harta yang haram.

Baarakallahu fiikum.

Perangkum: Reyhan Daffa Athariq
Penyunting: Abu Royyan
Divisi Media KMI-S 2015/2016

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)