Buljum 2016.4.1: Pasangan yang Membawa Keberuntungan Pernikahan

Dalam salah satu hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda:

تُنْكَحُ المَرْأةُ لأَرْبَعِ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وجَمَالِهَا ولِدِيْنِهَا فَاظْفَرْ بِذاتِ الدين تَرِبَتْ يَدَاك

“Seorang perempuan dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, karena kedudukannya, karena kecantikannya, (atau) karena agamanya. Pilihlah yang beragama, maka kau akan beruntung, (jika tidak, kau) termasuk orang yang merugi.” [HR. Bukhari 5/1958]

Lanjut baca

Buljum 2016.3.25: Masuk Islamnya Bangsa Turk

“Demi Allah, sesungguhnya perkara yang kalian tidak sukai ini adalah perkara yang kamu keluar mencarinya, yaitu syahadah (gugur di medan perang di jalan Allah ). Kita itu tidak berjuang karena jumlah pasukan atau kekuatan. Kita berjuang untuk agama ini yang Allah telah memuliakan kita dengannya. Bergeraklah. Hanya ada salah satu dari dua kebaikan: kemenangan atau gugur (syahid) di medan perang.”  – Abdullah bin Rawahah di Perang Mu’tah, ketika Pasukan Muslim berhadapan dengan Pasukan Romawi yang jumlahnya jauh lebih banyak.

Lanjut baca

Buljum 2016.3.18: Identitas Seorang Muslim

Apakah bedanya seorang muslim dengan manusia lainnya? Seorang manusia mendefinisikan dirinya dengan ras, kebangsaan, sebuah identitas yang seorang manusia dapatkan ketika dia lahir dan melekat hingga ajalnya. Seperti orang Jepang yang mendapatkan “identitas”-nya karena dilahirkan oleh orang tua yang berdarah Jepang atau seperti orang Amerika Serikat yang mendapatkan “identitas”-nya karena ia dilahirkan di dalam wilayah Negeri Paman Sam. Di sisi lain, seorang muslim mendefinisikan dirinya dengan sebuah jalan hidup yang telah ia pilih, yaitu Islam.

Lanjut baca

Buljum 2016.3.11: Mungkin Itu Lebih Baik Bagi Kita

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Quran,

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْ‌هٌ لَّكُمْ وَعَسَىٰ أَن تَكْرَ‌هُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ‌ لَّكُمْ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ‌ لَّكُمْ وَاللَّـهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah Mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” [QS. Al-Baqarah: 216] Lanjut baca

Buljum 2016.3.4: Menyegerakan Taubat

Manusia merupakan makhluk Allah yang bahkan disebutkan sebagai tempat salah dan lupa. Tidak ada manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan, dan karenanya Allah menyediakan sarana taubat. Tidak ada manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan, dan karenanya Allah justru akan menggantikan kaum yang tidak pernah berbuat kesalahan. Seandainya kaum itu ada. Lanjut baca

Buljum 2016.2.19: Mari Berkumpul di Sana

Bagaimana perasaan kita jika ada teman yang mengundang kita untuk berkumpul bersama menikmati berbagai hidangan lezat yang telah disiapkannya? Bukankah senyum paling merekah yang akan kita berikan pada teman kita itu beserta jawaban yang mantap, ”OK, ikut dong!” Jarang sepertinya ada yang merasa kesal atau jengkel ketika diundang untuk makan. Sekarang bagaimana jika teman kita mengundang kita berkumpul bukan untuk makan bersama, tapi untuk mendengarkan kajian ilmu syar’i yang disampaikan oleh seorang ustadz? Apakah kita akan merasa senang juga? Apakah senyuman merekah itu akan terkembang juga di wajah kita? Semoga kita bisa juga menjawab dengan mantap, “OK, insya Allah saya ikut!” Tapi, kasus yang kedua ini mungkin lebih beragam jawabannya dibandingkan dengan kasus yang pertama. Mungkin yang lebih sering kita rasakan adalah adanya perasaan malas, tidak peduli atau mungkin kesal karena saat itu justru kita sedang ingin jalan-jalan atau refreshing setelah penat di sekolah atau di tempat kerja.

Lanjut baca

Buljum 2016.2.12: Membina Diri Sendiri di Manapun Berada

Ada sebuah fragmen menarik dalam kisah kehidupan Rasulullah ﷺ. Hal ini terjadi setelah umat Islam dengan gilang gemilang meluluhlantakkan benteng Yahudi Khaibar yang merupakan ancaman bagi umat Islam saat itu dalam keterlibatan mereka pada pendanaan perang Khandaq. Ketika itu sepupu Rasulullah ﷺ—Ja’far bin Abi Thalib—bersama sekelompok sahabat kembali dari hijrahnya—ke negeri Habasyah—ke tengah-tengah masyarakat kaum muslimin di Madinah. Ketika itu Rasulullah ﷺ bersabda, “Aku bingung apa yang membuat senang diriku, apakah karena menangnya kita di Khaibar ataukah kembalinya kaum muslimin dari Habasyah.”

Lanjut baca

Buljum 2016.2.5: Memaknai Waktu

وَالعَصرِ إِنَّ الإِنسانَ لَفي خُسرٍ إِلَّا الَّذينَ آمَنوا وَعَمِلُوا الصّالِحاتِ وَتَواصَوا بِالحَقِّ وَتَواصَوا بِالصَّبرِ

“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan merugi (celaka), kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.” [QS. Al-‘Ashr: 1-3]

Lanjut baca

Buljum 2016.1.29: Islam Bukan Agama Prasmanan

Prasmanan, adalah sebuah istilah yang tidak asing di telinga kebanyakan kita. Yakni cara menjamu makan dengan mempersilakan tamu mengambil dan memilih sendiri hidangan yang sudah ditata secara menarik di beberapa meja. Mana yang ia suka; ia ambil. Sebaliknya yang tidak ia suka; ia tinggalkan. Model penyajian makanan seperti ini banyak ditemukan dalam resepsi pernikahan dan yang semisal. Prasmanan dalam pandangan Islam boleh-boleh saja. Tentu selama yang disajikan adalah makanan dan minuman yang halal, serta tidak berlebih-lebihan. Lantas mengapa artikel ini berjudulkan, “Islam bukan agama prasmanan”? Jawabannya karena sebagian kaum muslimin menyikapi ajaran Islam seperti prasmanan. Alias, mana ajaran yang ia suka; ia pakai. Adapun ajaran yang tidak ia sukai; maka ia tinggalkan. Pola prasmanan dalam beragama seperti ini tidak bisa diterima dalam Islam. Lanjut baca