Buljum 2015.7.31: Ekspedisi Ilmu Musa (1): Bertolak ke Pertemuan 2 Lautan

Ilmu merupakan anugerah bagi mereka yang meresapinya sampai hati. Sebaliknya, adalah petaka bagi mereka yang menjadi congkak karenanya. Kisah Nabi Musa dan Nabi Khadir dalam surat Al-Kahfi merupakan lumbung hikmah, bagaimana seorang hamba menyikapi ilmu.

Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari, disebutkan bahwa suatu ketika Nabi Musa ditanya oleh seorang Bani Israil mengenai siapa orang yang paling pintar di muka bumi. Tanpa ragu beliau menjawab, “Akulah manusia yang paling pandai.”

Jawaban tersebut masuk akal, mengingat beliau adalah pemimpin Bani Israil dan kepadanya diturunkan Kitab Taurat secara langsung dari Yang Maha Mengetahui. Pernyataan Musa tersebut membuahkan teguran dari Allah, dalam sebuah hadits qudsi, “Wahai Musa, Aku mempunyai seorang hamba yang saleh dan alim melebihi pengetahuan-pengetahuan yang ada padamu. Dia berada di suatu tempat pertemuan dua lautan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِفَتَاهُ لَا أَبْرَحُ حَتَّىٰ أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا

“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya, ‘Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua laut; atau aku akan berjalan (terus sampai) bertahun-tahun.’” (QS. Al-Kahfi : 60)

Berangkatlah Nabi Musa bersama muridnya, Yusya’ bin Nuun, ke tempat bertemunya dua lautan. Allah menunjukkan tempat tersebut melalui seekor ikan yang dibawa oleh Yusya’. Di tengah perjalanan, mereka memutuskan beristirahat di sebuah batu besar. Tiba-tiba ikan yang dibawa Yusya’ melompat keluar dari bejana ke arah sungai ketika Nabi Musa sedang berisitirahat.

Peristiwa ini merupakan indikator bahwa mereka telah sampai ke tempat tujuan. Namun Yusya’ lupa menyampaikan hal tersebut kepada Nabi Musa, dan baru ingat ketika mereka berdua telah berjalan sangat jauh dan berniat memakan ikan tersebut untuk mengobati rasa lapar. Tanpa banyak komentar, Musa memutuskan untuk kembali ke tempat batu besar, di mana mereka beristirahat sebelumnya.

Pada akhirnya, mereka bertemu sosok yang disebutkan Allah sebagai عبدًا من عبادنا (seorang hamba dari sekian banyak hamba-hamba Kami). Ibnu Hajar dan beberapa ulama berkata bahawa beliau dijuluki khadir atau خضر yang berasal dari kata أخضر (hijau), karena tanah yang beliau kunjungi akan selalu menjadi hijau. Beliau adalah seorang dari sekian banyak nabi Allah dan diberikan rahmat dan ilmu yang tidak diketahui Musa.

Setelah memberikan salam, Nabi Musa menyampaikan niatnya untuk berguru kepada Nabi Khadir. Nabi Khadir berkata bahwa Musa tak akan sanggup bersabar bersamanya, karena banyak hal yang akan membingungkannya di sepanjang perjalanan. Dengan sopan, Nabi Musa mengatakan:

قَالَ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا

“Insyaa Allah, kau akan mendapatiku sebagai orang yang bersabar dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun.” (QS. Al-Kahfi : 69)

Akhirnya, dengan sebuah syarat untuk jangan bertanya apapun mengenai tindak-tanduk Khadir, mereka berdua melanjutakan perjalanan panjang.

Menurut Imam Bukhari, Nabi Musa merupakan orang pertama yang melakukan perjalanan jauh dengan niat untuk mencari ilmu. Sikap beliau menunjukkan betapa mulianya ilmu untuk dicari, sampai-sampai rela meninggalkan kaumnya. Seorang penuntut ilmu tak cukup jika belajar hanya dari buku-buku, Google, ataupun Wikipedia karena interpretasi terhadap sumber ilmu tersebut bisa saja salah. Oleh karena itu, belajar dari sosok seorang guru penting untuk meluruskan paradigma mengenai ilmu yang dipelajari.

Nabi Musa termasuk seorang nabi ‘Ulul ‘azmi (lima nabi yang diberikan mukjizat oleh Allah swt.) sehingga posisinya jelas lebih tinggi daripada Nabi Khadir dan Yusya’. Meskipun begitu, posisi tersebut tidak menimbulkan kecongkakan bagi beliau.

Ketika Yusya’ lupa mengabarkan bahwa ikan yang ia bawa dalam bejana lompat ke sungai, Nabi Musa sama sekali tidak membentaknya walaupun mereka sudah membelakangi tempat tujuan dengan jarak yang cukup jauh. Kesantunan Nabi Musa juga terlihat ketika beliau pertama kali bertemu dengan Khadir.  Khadir jelas-jelas mengenali Musa, karena ketinggian statusnya pada zaman tersebut. Seseorang dengan status yang tinggi bisa saja memberikan perintah degnan nada yang arogan, atau meminta tolong dengan nada yang biasa, namun hal tersebut tidak dilakukan Nabi Musa. Ketika mengetahui bahwa ada seseorang yang memiliki ilmu yang tidak dimilikinya, beliau langsung merendahkan dirinya untuk ilmu tersebut. Nabi Musa meminta berguru kepada Nabi Khadir dengan nada yang santun dan hormat.

قَالَ لَهُ مُوسَىٰ هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا

Musa Berkata kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (QS Alkahfi: 66)

Rahmah (belas kasih/ kemurahan hati) merupakan sifat Allah yang sering disebutkan dalam Al-Qur’an dan juga merupakan hal yang diberikan Allah swt kepada Nabi Khadir.

فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِّنْ عِندِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِن لَّدُنَّا عِلْمًا

“Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba kami, yang Telah kami berikan kepadanya rahmat dari sisi kami, dan yang Telah kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (QS. Al Kahfi: 65).

Allah menyebutkan bahwa Nabi Khadir diberikan rahmah sebelum ‘ilmaa (ilmu). Seorang pencari ilmu dituntut memiliki akhlak yang baik. Tanpa akhlak yang baik, maka orang-orang akan meninggalkan kita. Rasulullah ﷺ pun sebelum menyeru orang-orang kepada Islam diberi gelar Al-amin (dapat dipercaya) karena keagungan akhlaknya.

… فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ…

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imran: 159)

Dalam percakapannya dengan Nabi Musa, Khadir memosisikan dirinya pada sepatu Musa. Beliau menunjukkan rasa simpati kepadanya karena takut Musa tak akan sanggup mengikutinya. Selebihnya beliau juga menguji keseriusan Nabi Musa dalam proses pencarian ilmu.

Ada banyak mutiara hikmah dari sikap Musa sebagai guru bagi Yusya’ sekaligus murid Nabi Khadir. Kerendahan hati, keingintahuan tinggi, adab yang baik, serta kesabaran dalam perjalanan ditunjukkan oleh beliau hingga mencapai tempat bertemunya 2 lautan.

Waktu yang kita investasikan untuk menuntut ilmu sangat berharga, oleh karena itu marilah kita menjadi bagian dari golongan hamba-hamba Allah yang mengombinasikan akhlak yang baik dan ilmu yang mumpuni.

Ada benarnya filosofi Melayu yang sering kita dengar, “Ilmu bagaikan padi, semakin berisi semakin merunduk.” Buang jauh rasa congkak dan mari bertolak mengarungi bahtera ilmu yang luas.

Wallahu’alam bishshowab.

(Disarikan dari ceramah Yasir Qadhi mengenai tafsir surah Al-Kahfi)

Bersambung ke bagian 2 Ekspedisi Ilmu Musa

Penulis: Hamzah

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)