Buljum 2015.8.7: Ekspedisi Ilmu Musa (2): Berburu Mutiara Hikmah

Terkadang pengetahuan dan hikmah tak dapat kita cerna dalam benak, sebagaimana mikroba tak dapat dilihat dengan mata telanjang. Untuk melihat ilmu dalam berbagai konteks kehidupan, diperlukan kacamata khusus. Hal inilah yang dimiliki Khadir dan tidak dimiliki Musa Selama perjalanan, kedua nabi Allah berjalan menyusuri padang hikmah dan lautan ilmu.

 Mari kita berjalan mengiringi tapak mereka di kisah pertama.

Musa dan Khadir menumpang sebuah perahu orang miskin, yang tak meminta upah akomodasi.

فَانطَلَقَا حَتَّىٰ إِذَا رَكِبَا فِي السَّفِينَةِ خَرَقَهَا ۖ قَالَ أَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ أَهْلَهَا لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا إِمْرًا

“Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khadir melobanginya.  Musa berkata, ‘Mengapa kamu melobangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya? Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.’” (QS. Al-Kahfi: 71)

Untuk pertama kalinya, Musa melanggar janjinya untuk tidak mempertanyakan tindak-tanduk Khadir.

قَالَ أَلَمْ أَقُلْ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا

“Dia (Khidhr) berkata, ‘Bukankah aku telah berkata: Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku.’” (QS. Al-Kahfi: 72)

Peristiwa ini menunjukkan berbagai pelajaran terkait akhlak seorang penuntut ilmu. Yang pertama, reaksi Musa ketika Khadir melubangi perahu menampakkan simpati terhadap Ahluhaa atau penghuni kapal. Musa membuang jauh sikap egois. Yang kedua, jawaban Khadir terhadap Musa menunjukkan cerminan ekspresi seorang guru yang mendidik seorang murid yang bukan sekedar manusia biasa. Semakin tinggi kedudukan seseorang, sebagaimana Musa yang merupakan Nabi ‘Ulul ‘azmi, maka perlakuan yang didapatkannya sepatutnya sebagaimana kedudukan tersebut. Khadir tidak memberikan pemakluman karena Musa tak layak mendapatkannya.

Mari beranjak ke daratan. Kisah kedua menceritakan peristiwa pembunuhan seorang anak kecil di pinggir pantai oleh Khadir. Musa tentunya tak berdiam diri memaklumi peristiwa ini.

فَانطَلَقَا حَتَّىٰ إِذَا لَقِيَا غُلَامًا فَقَتَلَهُ قَالَ أَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةً بِغَيْرِ نَفْسٍ لَّقَدْ جِئْتَ شَيْئًا نُّكْرًا

“Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata, ‘Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain?  Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu perkara yang mungkar.’” (QS. Al-Kahfi: 74)

Musa menaikkan kritikannya dari imraa (kesalahan yang besar) menjadi nuqraa (perkara yang mungkar). Bagaimana tidak? Terjadi pembunuhan seorang anak yang belum memasuki tahap baligh di depan matanya. Peristiwa ini menegaskan kenabian Khadir. Tak mungkin seseorang diperbolehkan membunuh kecuali atas izin Allah ﷻ.

Dengan sisa satu kesempatan, Musa dan Khadir berjalan lagi ke suatu kota yang tidak menjamu mereka dengan baik. Jangankan akomodasi, segelas air pun tak diberikan. Adab memuliakan tamu yang diterapkan pada komunitas di Timur Tengah tidak terlihat pada kota ini. Dalam kealpaan akan pangan dan papan, Musa dan Khadir menemukan tembok yang terlihat akan roboh. Khadir memperbaiki bangunan tersebut sampai batu bata terakhir. Musa tak dapat menahan untuk tidak berkomentar.

قَالَ لَوْ شِئْتَ لَاتَّخَذْتَ عَلَيْهِ أَجْرًا

“(Musa) berkata, ‘Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.’” (QS. Al-Kahfi: 77)

Komentar terakhir Musa menyatakan awal dari perpisahan sang guru dan murid. Khadir memberikan mutiara hikmah dari kejadian-kejadian yang dilihat Musa sebagai hadiah perpisahan mereka.

Pada kisah kapal yang dilubangi, Khadir menjelaskan bahwa seorang raja mendatangi mereka dari kejauhan dan merampas kapal-kapal yang mereka lihat, beserta harta-harta yang terkandung di dalamnya. Jika kapal tersebut cacat, maka Raja dan pasukan perampok akan kewalahan mengurusinya. Pemilik kapal yang mereka tumpangi adalah seorang miskin (mempunyai harta, namun tak cukup). Walau miskin, mereka tetap merelakan tumpangan kepada kedua pencari ilmu tersebut. Yang mereka lakukan adalah melayani orang-orang yang melayani Islam, sehingga harta mereka digunakan di jalan Allah. Allah membalas jerih payah mereka dengan sebuah takdir yang indah.

Peristiwa pembunuhan anak kecil, mengajarkan kepada kita dalamnya arti sebuah takdir Allah. Khadir berkata bahwa anak tersebut akan tumbuh menjadi orang yang dapat mengantarkan orang tuanya kepada kekufuran, yang dapat berarti keluar dari Islam atau menjadi tidak bersyukur. Jika anak itu hidup, maka status kedua orang tua anak tersebut akan berubah di sisi Allah. Hadits riwayat Tirmidzi mengatakan bahwa jika seseorang bersabar setelah nyawa anaknya direnggut, maka balasannya minimal adalah surga. Jika Allah mencintai hambanya, maka Allah akan mengujinya.  Allah memberikan sebuah skenario yang indah dengan terselamatkannya anak tersebut dan orang tuanya.

Kisah kota dengan penduduk tak menyambut dan tembok yang akan runtuh merefleksikan pertolongan Allah yang sangat strategis. Di bawah tembok yang Khadir betulkan, terdapat emas peninggalan ayah anak-anak yang tinggal pada bangunan tersebut. Jika anak-anak yatim itu menemukan emasnya sekarang, maka penduduk kota yang pelit akan dengan mudah mengelabui anak-anak tersebut dan mengambil hartanya. Jika emas tersebut ditemukan oleh anak-anak yatim itu setelah mereka beranjak dewasa, maka mereka akan lebih bijak mengaturnya dan dapat mengambil banyak manfaat darinya. Menunggu merupakan proses yang cukup berat, namun kita harus yakin bahwa Allah lebih mengetahui waktu yang tepat.

Pada kisah pertama, Khadir mengasosiasikan perbuatan melubangi kapal terhadap dirinya sendiri, namun pada kisah ketiga, beliau mengatakan bahwa penantian pengambilan harta untuk anak-anak tersebut adalah kehendak Tuhannya. Khadir menunjukkan sebuah akhlak yang mulia, yaitu ketika kita berbuat keburukan, maka kita menyalahkan diri kita, namun segala kebaikan selalu datang dari Allah ﷻ.

Dalam perjalanan, Musa dan Khadir melihat seekor burung yang menciduk air dengan paruhnya. Khadir berkata: “Sesungguhnya ilmuku dan ilmumu dan ilmu yang kita peroleh dari Allah itu hanyalah seteguk air yang diperoleh burung kecil itu di tengah hamparan lautan ilmu yang dimiliki Allah.” (HR. Bukhari)

Setiap kejadian memilki ilmu. Penuntut ilmu adalah mereka yang menyelam mendalami hamparan ilmu Allah yang luas, mencoba mengambil mutiara hikmah sebanyak-banyaknya.

Wallahu A’lam.

(Disarikan dari ceramah Yasir Qadhi mengenai tafsir surah Al-Kahfi dan kitab Shahih Bukhari Bab surat Al-Kahfi, hadits 4356-4358)

Penulis: Hamzah

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)