Buljum 2015.8.14: Semangat Sang Kakek dan Syiar Islam Melalui Shalat Berjamaah

Sendai, suatu pagi di musim dingin, alhamdulillah, Jepang diguyur salju lebat sejak semalam yang lalu. Hujan salju ini mungkin yang terlebat dalam beberapa belas/puluh tahun terakhir untuk beberapa kota besar. Saat itu dilaporkan di sebuah koran, di area Kanto ketebalan rata-rata salju bisa mencapai 20-30 cm, sedangkan di area Tohoku (Sendai termasuk di dalamnya) ketebalan salju bisa mencapai 40 cm, rekor tersendiri untuk area ini.

buljum-20150814-1

Sambil membaca informasi dari koran tersebut, sekitar pukul lima pagi, di tempat menunggu biasanya, si Fulan sudah pesimis bertemu dengan sang kakek. Maklum saja, salju setebal 40 cm di jalanan yang masih sepi belum tergerus arus lalu lintas pagi rasanya agak mustahil diterobos mobil sang kakek. Hampir saja Fulan kembali ke rumah, sambil berpikiran bahwa salju ini bisa menjadi udzur untuk tidak memenuhi panggilan Sang Khaliq di rumah-Nya. Entah sudah keberapakalinya si Fulan mencari-cari udzur untuk tidak turut berangkat bersama sang kakek.

Namun, ketika si Fulan memutuskan berjalan kembali ke rumah yang jaraknya hanya 20 meteran dari tempat menunggu, tepat saat itu pula ada sinar mobil menerobos kegelapan. Alhamdulillah, ternyata beliaulah yang datang. Beliau meminta maaf berkali-kali sambil mengatakan sudah terlambat 1 menit. Padahal sebenarnya tidak telat sama sekali. Setelah beliau memastikan tidak ada lagi yang ikut, dimulailah perjalanan ke tempat itu.

Perjalanan memakan waktu lebih lama dari biasanya karena harus menerobos salju yang sangat tebal dan juga harus berhati-hari agar tidak selip. Sang kakek tidak menggerutu, tidak pula terlihat lelah di raut mukanya. Apalagi saat pulang dari tempat itu dan mengantarkan jamaah yang ikut dengannya menuju rumah masing-masing, mobil beberapa kali selip, harus didorong berkali-kali, hingga membersihkan jalanan dengan sekop.

Salah satu dari jamaah menyarankan pada sang kakek bahwa selama beberapa hari ke depan mungkin beliau tidak perlu menjemput jika salju belum surut jua. Apa jawabannya? Sambil tersenyum, beliau berkata, “Bagaimanapun, hidup harus terus kita lalui. Tidak apa-apa saya pergi sendiri pun.” Fulan tertohok mendengar jawaban tersebut.

Pernah ada pengalaman serupa yang dialami si Fulan dengan orang Jepang, meski dalam urusan duniawi. Fulan pernah datang terlambat ke lab karena salju lebat di ketika ia justru harus memberikan laporan hasil penelitian. Kepala lab bertanya, “Kamu kenapa datang terlambat?” Fulan menjawab, “Maaf, salju turun deras sekali.” Kepala lab melanjutkan, “Terus masalahnya di mana?” Fulan terdiam. Ya, meskipun salju bisa menjadi alasan untuk tidak memenuhi jadwal tertentu, tetapi selalu ada cara untuk mengatasinya jika kita punya kemauan yang kuat untuk selalu berkomitmen.

Kembali ke kisah sang kakek, siapakah gerangan kakek ini? Kaum muslimin yang tinggal di Sendai sudah tentu tahu, tidak perlu disebutkan lagi namanya. Beliau adalah satu-satunya muslim asli Jepang di Sendai yang sudah bertahun-tahun menyediakan jemputan shalat berjamaah ke Masjid Sendai dengan mobilnya, dari mulai berdirinya Masjid Sendai di akhir tahun 2007 hingga saat ini. Beliau tidak pernah peduli ada orang yang ikut atau tidak, selama Allah memberikan kesehatan dan kemampuan pada beliau, maka beliau selalu berangkat shalat 5 waktu di masjid.

Usia sang kakek saat ini sudah sekitar tiga perempat abad, tidak lagi muda, tetapi semangatnya selalu seperti semangat anak muda. Bahkan, bisa dikatakan anak muda di Sendai saat ini pun tak ada yang punya semangat yang sama seperti beliau dalam beramal shalat berjamaah di masjid 5 waktu. Mudah-mudahan Allah selalu melindungi beliau, memberikan kesehatan dan kekuatan untuk dakwah Islam di Jepang, dan kelak Allah mewafatkan beliau dalam keadaan husnul khatimah, dalam barisan orang-orang shalih pejuang Islam di Negeri Sakura ini.

Sahabat KMI-S, memang kita tidak bisa membandingkan keluangan waktu yang dimiliki sang kakek dengan kebanyakan kaum muslimin di Sendai yang hanya memiliki waktu luang saat malam hari ataupun awal pagi. Namun, andaikata pun kita memiliki waktu luang yang sama banyaknya seperti sang kakek, belum ada jaminan kita bisa shalat (fardhu) berjamaah di masjid 5 waktu dengan tingkat konsistensi seperti beliau yang bertahun-tahun hampir tak pernah melewatkan setiap waktu shalat di masjid.

Oleh karena itu, di tengah keterbatasan waktu yang kita miliki, mengapa kita tidak coba menyempatkan shalat berjamaah rutin di masjid setidaknya setiap waktu Isya dan Shubuh? Pada dua waktu tersebut seharusnya kita cukup terbebas dari penatnya pekerjaan saat siang hari. Mari kita perhatikan dua buah hadits yang mudah-mudahan bisa menjadi cambuk bagi kita untuk menyadari keutamaan shalat Shubuh dan Isya berjamaah di masjid.

من صلى العشاء في جماعة فكأنما قام نصف الليل ومن صلى الصبح في جماعة فكأنما صلى الليل كله

Barangsiapa yang shalat Isya berjamaah, maka seolah-olah dia telah shalat malam selama separuh malam. Dan barangsiapa yang shalat Shubuh berjamaah, maka seolah-olah dia telah shalat seluruh malamnya.” (HR. Muslim No. 656)

لو يعلم الناس ما في النداء والصف الأول، ثم لم يجدوا إلا أن يستهموا لاستهموا عليه. ولو يعلمون ما في التهجير لاستبقوا إليه، ولو يعلمون ما في العتمة والصبح لأتوهما ولو حبوا

“Sekiranya orang-orang mengetahui keutamaan menyambut seruan adzan dan berada di shaff pertama, kemudian hal tersebut hanya dapat diraih dengan mengundi, niscaya mereka akan mengundi demi mendapatkannya. Sekiranya mereka mengetahui keutamaan At-Tahjiir (shalat di awal waktunya), niscaya mereka akan berlomba mengerjakannya. Sekiranya mereka mengetahui keutamaan shalat ‘atamah (Isya) dan Shubuh, niscaya mereka akan mendatanginya meskipun harus merangkak. (HR. Muslim No. 437)

Perlu diketahui bahwa jumhur ulama berpendapat shalat (fardhu) berjamaah di masjid bagi laki-laki itu sifatnya wajib. Artinya, kita berdosa jika kita tidak shalat berjamaah di masjid. Namun, hal ini berlaku bagi orang-orang yang mukim di sekitar masjid ataupun yang dapat mendengarkan adzan sampai ke areanya jika adzan dikumandangkan dengan keras dari masjid. Bagi yang tinggal jauh dari masjid, meskipun tidak sampai wajib, tentu sangat dianjurkan untuk shalat berjamaah di masjid.

Dengan berbagai kemudahan transportasi yang ada, kita tentu tidak perlu merangkak seperti yang disebutkan dalam hadits untuk berangkat shalat berjamaah Isya dan Shubuh di masjid. Sang kakek sudah secara rutin memiliki jadwal mengantar jamaah pulang pergi dari area pemukiman ke Masjid Sendai setiap harinya. Kalaupun kita tidak berhasil mendapatkan jemputan tersebut, masih ada transportasi kota yang bisa kita gunakan, masih ada sepeda yang bisa kita kayuh, masih ada kaki yang bisa kita gunakan untuk berjalan.

Semoga Allah memudahkan langkah-langkah kita, para lelaki, para pemuda, untuk menuju masjid, menggemakan syiar Islam melalui shalat berjamaah di masjid. Sungguh sebaik-baik shalat seseorang adalah shalat yang dilakukan di rumahnya (yakni shalat sunnah), KECUALI shalat fardhu (di masjid). Ini dikarenakan shalat sunnah merupakan amalan yang sebaiknya disembunyikan agar terhindar dari riya, sedangkan shalat fardhu 5 waktu merupakan amalan yang terkait dengan syiar Islam.

Wallahu A’lam.

Bahan bacaan:

Penulis: Ahmad Ridwan

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)