Buljum 2015.8.21: Pernikahan Nabi Musa ‘Alayhissalam

Banyak kisah mengenai kaum terdahulu tertulis dalam Al-Quran untuk menjadi pelajaran bagi umat manusia, khususnya umat muslim. Bahkan Rasulullah ﷺ juga mendapat pelajaran dari kisah para nabi terdahulu “…Musa menderita lebih dari ini namun dia sabar” (HR Muslim 5: 2315). Kita sebagai bagian dari umat muslim juga harus mencari hikmah dari kisah-kisah nabi terdahulu yang Allah ceritakan dalam Quran. Salah satu dari sekian banyak ceritera tersebut adalah kisah pernikahan Nabi Musa as, yang terangkum dalam surah Al-Qasas ayat 14-28.

Sebelum masa kenabiannya, Musa pernah tidak sengaja membunuh prajurit Mesir karena beliau tergesa-gesa dalam melerai pertengkaran seorang bani Israil dengan prajurit tersebut. Maksud beliau melerai, namun keperkasaannya membuat si prajurit terbunuh dalam sekali pukul. Setelah itu beliau segera berdoa memohon ampun pada Allah. Singkat cerita, beliau terpaksa lari dari Mesir karena penguasa Mesir akhirnya mendengar berita tersebut dan berencana membalas dendam dengan membunuh Musa (QS. Al-Qasas : 15-16, 20).

Kisah di atas mengajarkan kita bahwa kelalaian harus segera diikuti dengan taubat, memohon ampun pada Allah yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Dalam pelariannya pun Musa terus berdoa memohon perlindungan dan arah kepada Allah yang Maha Melindungi dan Maha Pemberi Petunjuk (QS. Al-Qasas : 21-22). Dan Allah pun mengarahkan perjalanannya ke daerah Madyan.

Sesampainya beliau di sebuah mata air, beliau melihat sekumpulan orang sedang memberi minum ternaknya sementara di belakang mereka dua gadis yang menahan ternaknya. Beliau bertanya pada kedua wanita itu “Ada apa dengan kalian?” dan mereka menjawab “Kami tidak dapat meminumkan ternak kami, sebelum pengembala-pengembala itu selesai, dan bapak kami adalah syaikhul kabir” Beliau langsung mengambil ternak mereka lalu mengembalikan pada mereka. Kemudian beliau kembali berteduh dan berdoa: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku” (QS. Al-Qasas : 23-24).

Kisah di atas mengajarkan bahwa kita harus selalu mencari kesempatan untuk berbuat baik, terutama setelah kita melakukan kelalaian. Selain itu, kisah di atas juga mengajarkan adab percakapan antara pemuda-pemudi yang bukan mahram: singkat, tegas dan padat. Nabi Musa as sebagai pemuda berinteraksi dengan lawan jenis tanpa basa-basi, jangankan berkata “Tak usah berterimakasih,” bahkan tanpa memberi celah untuk kedua gadis itu mengucapkan terimakasih beliau langsung kembali berteduh dan berdoa pada Allah.

Bukan hanya untuk pemuda, pemudi pun dapat mengambil pelajaran dari kisah di atas, dalam kisah ini kedua gadis berkata-kata langsung to the point, tegas ketika bercakap-cakap dengan pemuda yang tak mereka kenal, bahkan memilih kata-kata Syaikhul Kabir (Big Syeikh) untuk menyebutkan tentang bapak mereka. Mereka bisa memilih kata-kata yang hanya berarti seorang tua, namun sengaja memilih kata-kata “Syaikul Kabir” untuk menunjukkan ketegasan mereka.

Setelah dua gadis itu pulang bersama ternak mereka, bapak mereka (yang menurut beberapa riwayat adalah Nabi Syua’ib) otomatis bertanya-tanya kenapa mereka bisa pulang ke rumah dengan cepat. Setelah mengetahui alasannya dan percaya pada penilaian kedua putrinya, beliau mengirim salah satu anak gadisnya untuk mengundang Musa ke rumahnya. Pada saat datang sendiri menemui Nabi Musa as, Allah mendeskripsikan bahwa sang gadis berjalan dengan malu-malu, sesuai fitrah seorang wanita (QS. Al-Qasas : 25).

Menerima undangan tersebut, Nabi Musa menyadari bahwa ini adalah kebaikan yang dikirim oleh Allah. Nabi Musa pun bertemu dengan Bapak gadis itu dan menceritakan kisah pelariannya. Setelah menenangkan Musa bahwa dia telah selamat dari penguasa Mesir yang tak adil, sang bapak berdialog dengan salah seorang putrinya yang menyarankan beliau untuk mempekerjakan Nabi Musa karena keperkasaan dan kejujurannya. Setelah itu beliau langsung menawarkan untuk menikahkan anak gadis beliau tersebut kepada Musa, dengan syarat Musa bersedia untuk bekerja padanya selama 8 tahun. Kontrak nikah antara Nabi Musa dan wali sang gadis ini pun disaksikan oleh Allah (QS. Al-Qasas : 26-28).

Kisah diatas menggambarkan komunikasi ideal antara seorang bapak dan putrinya, kepercayaan seorang bapak atas penilaian putrinya terhadap seorang pemuda, serta kejelian dan pemahamannya dalam menangkap isyarat sang anak gadis saat memintanya mempekerjakan Nabi Musa itu (tanpa perlu menggoda “dipekerjakan atau dinikahkan?”).

Kisah pernikahan Nabi Musa ini tak hanya menggambarkan interaksi ideal antara muslim dan muslimah namun juga mengajarkan pentingnya pendidikan dan komunikasi orang tua dan anak, terutama anak gadis, sehingga meskipun keadaan memaksa putrinya untuk bekerja, sang bapak dapat melindungi putrinya, bahkan dalam lingkungan masyarakat non-muslim. Kepercayaan antara bapak dan anak gadisnya adalah pesan utama dalam cuplikan terakhir kisah ini.

Last but not least, kisah ini mengajarkan para pemuda muslim untuk berani dan nyaman berkomunikasi dengan orang yang lebih tua (bisa jadi ditawari menikah dengan anak putrinya), dan juga untuk optimis pada saat meminang seorang muslimah, karena di kisah ini Musa adalah seorang buronan, tak punya apapun, dan tidak malu untuk tinggal bersama dan bekerja pada keluarga mertuanya.

Wallahu A’lam.

(Disadur dari kisah Nabi Musa oleh Nouman Ali Khan)

Penulis: Adam

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)