Buljum 2015.8.28: Menuntut Ilmu Sebagai Mahasiswa di Jepang

Cukup banyak anggota komunitas Muslim di Sendai adalah mahasiswa di Tohoku University, termasuk penulis. Tulisan ini hanyalah sebagai catatan dan pengingat untuk para penuntut ilmu, khususnya untuk penulis sendiri, mengenai proses menuntut ilmu sebagai mahasiswa di Jepang.

Setiap orang mempunyai tujuannya masing-masing dalam menuntut ilmu. Ada yang menuntut ilmu untuk mencari ijazah demi mendapatkan kesempatan meraih penghasilan yang lebih tinggi di masa depan. Ada yang menuntut ilmu untuk memuaskan rasa ingin tahu, mencari jawaban untuk berbagai persoalan hidup. Ada juga yang berniat untuk memajukan negara dengan ilmunya. Atau ada juga yang sekedar mengikuti arus orang-orang di sekelilingnya. Dan bermacam tujuan-tujuan lainnya.

Apapun tujuan kita mencari ilmu, perlu diperhatikan bahwa dalam Islam, hukum mencari ilmu adalah wajib, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits terkenal dari Anas bin Malik dan beberapa sahabat lainnya.

عن أنس بن مالك , قال : قال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم : طلب العلم فريضة على كلّ مسلم

“Dari Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda: Menuntut ilmu itu adalah kewajiban bagi setiap Muslim.” (Shahih: Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah rahimahullah didalam Sunan nya, hadits no 223. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Karena itu, bagi seorang muslim, mencari ilmu bisa menjadi suatu bentuk ibadah, dan inilah yang seharusnya menjadi tujuan utama kita dalam mencari ilmu, sebelum tujuan-tujuan lainnya.

Ada berbagai macam ilmu yang perlu kita cari. Di antara ilmu-ilmu itu, ilmu mengenai Islam tentunya ilmu yang sangat penting. Walaupun di tengah-tengah kesibukan duniawi kita, usaha mencari ilmu Islam adalah sesuatu yang perlu kita prioritaskan. Membaca Al-Quran, menghadiri majelis ilmu, membaca buku-buku tentang Islam, kita usahakan sejauh kemampuan kita. Bagaimana mungkin kita bisa mempraktikkan Islam dengan benar tanpa memiliki ilmu tentangnya?

Sebagai mahasiswa, kita juga menuntut ilmu-ilmu lain. Ilmu apapun yang kita tuntut, ilmu berasal dari Allah, sebagaimana disebutkan berkali-kali di dalam al-Quran, seperti di dalam surat Al ‘Alaq.

عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

“Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq : 5)

Karena itu, kita perlu berdoa, memohon petunjuk pada Allah dalam proses menuntut ilmu.

Sebuah poin yang menarik dalam proses menuntut ilmu di perguruan tinggi, terutama bagi mahasiswa program pasca-sarjana, adalah riset atau penelitian. Pada umumnya, pelajar yang menuntut ilmu dari guru, berusaha menuntut ilmu yang sudah dipahami oleh manusia (paling sedikit, telah dipahami sang guru). Demikian juga dengan mahasiswa, yang mempelajari berbagai hal dari dosen, termasuk cara untuk melakukan riset. Ilmu mengenai cara untuk melakukan riset juga termasuk ilmu lama yang sudah dipahami sang dosen. Tetapi, dalam proses “belajar melakukan riset” ini, mahasiswa memiliki kesempatan untuk melakukan riset itu sendiri.

Riset memiliki posisi yang istimewa dalam ilmu pengetahuan. Melakukan riset adalah cara untuk menuntut ilmu, tetapi ilmu ini bukan ilmu lama. Melalui riset, kita bisa mendapatkan ilmu mengenai hal baru yang belum pernah diketahui umat manusia sebelumnya. Ilmu baru ini bisa menambah khazanah ilmu pengetahuan umat manusia, dan bisa bermanfaat untuk memecahkan persoalan-persoalan dalam hidup manusia.

Salah satu unsur penting dalam riset adalah mendokumentasikan hasil riset kita agar bisa diketahui, dan bermanfaat bagi orang lain, atau umat secara umum. Hal ini bisa dilakukan dengan mempresentasikan hasil riset di konferensi, pertemuan-pertemuan ilmiah, atau mempublikasikannya di jurnal. Ilmu yang bermanfaat bisa menjadi jalan amal jariyah yang terus-menerus, seperti dalam sebuah hadits yang terkenal dari Abu Hurairah, yang semoga bisa menjadi motivasi bagi kita.

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh.” (HR. Muslim no. 1631)

Kita juga perlu mengingat bahwa orang yang paling takut pada Allah adalah ulama (orang yang berilmu), sebagaimana disebutkan di dalam Surat Fathir.

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَٰلِكَ ۗ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّـهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّـهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

“Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Fathir: 28)

Menuntut ilmu seharusnya membuat kita bertambah takut kepada Allah. Jangan sampai mempelajari ilmu membuat kita congkak, dan semoga Allah melindungi kita semua.

Bahan bacaan:

Penulis: Hafiyan

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)