Buljum 2015.9.4: Kerjaku, Ibadahku, Surgaku

Pekerjaan apa yang tepat untuk saya? Apakah pekerjaan ini benar-benar sesuai untuk saya? Halalkah pekerjaan saya ini? Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang kerap dipikirkan masyarakat usia produktif. Hal ini lazim berlaku bagi yang hendak mencari kerja maupun yang sedang dirundung kegalauan atas pekerjaanya sekarang.

Mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang besar, perkembangan karier yang cerah, dan pada perusahaan yang memiliki nama yang baik di masyarakat adalah beberapa kriteria yang banyak orang tetapkan dalam mencari pekerjaan. Apakah itu salah? Tidak. Mendapatkan nominal gaji tertentu, kemudian membandingkan dengan biaya hidup yang dibutuhkan membantu kita menyeleksi perusahaan mana saja yang kira-kira bisa memberi kehidupan yang layak pada karyawannya. Dengan usia yang relatif masih muda, yang berarti puncak karier masih jauh di atas sana, kita juga perlu memastikan tempat kita bekerja menjadi sebuah tangga yang bisa kita daki. Tidak hanya perusahaan saja yang berhak menyaring calon karyawan yang dianggap memiliki kompetensi. Setiap pekerja juga memiliki hak yang sama untuk mendapatkan tempat kerja yang baik.

Apakah kriteria di atas cukup? Al Qur`an dan Sunnah telah menunjukkan manusia agar mencari rizki yang halal lagi thayyib (baik). Sebenarnya, ini adalah kriteria dasar bagi kita yang harus menjadi prioritas utama. Rasulullah ﷺ bersabda:

أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ

Wahai manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, pakailah cara baik dalam mencari (rizki). Sesungguhnya seseorang tidak akan meninggal sampai ia sudah meraih seluruh (bagian) rizkinya, meskipun tertunda darinya. Bertakwalah kepada Allah dan lakukan cara yang baik dalam mencari (rizki)”. [HR. Ibnu Majah, kitab at Tijarat, bab al Iqtishad fi Thalabi al Ma’isyah (2/724), dan dishahihkan oleh al Albani]

Berapa persenkah dari total jatah usia yang kita alokasikan untuk bekerja? Dengan asumsi waktu kerja 8-10 jam/hari, kita mengabiskan porsi waktu hidup kita paling banyak untuk bekerja, setelah porsi untuk tidur. Oleh karena itu, kita perlu memastikan pekerjaan kita akan memperberat timbangan pahala kita saat dihisab nanti. Kita juga perlu menelaah lebih jauh bagaimana sistem kerja yang diterapkan oleh suatu perusahaan yang kita tuju, atau yang sedang kita tempati saat ini. Pengaturan waktu istirahat, lembur, shift, atmosfer pekerjaan yang kondusif, dsb. perlu kita teliti terlebih dahulu dalam menyeleksi tempat kerja. Hal lain yang perlu digaris bawahi adalah kita perlu memastikan tempat kerja yang kondusif untuk kita beribadah, dan memenuhi kewajiban yang lain, seperti tanggung jawab mendidik anak.

Di sisi lain, prestasi terbesar kita adalah jika kita dapat menghantarkan keluarga dan keturunan kita agar masuk surga sehingga bisa reunian di surga. Pekerjaan yang subhanallah, luar biasa berat. Bagaimana caranya? Seorang ustadz mengatakan, salah satunya adalah mengamalkan hadis Nabi Muhammad ﷺ :

عبْد الله بن عَبّاسٍ -رَضِي اللهُ عَنْهُما- قالَ: كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَوْمًا، فَقَالَ: ((يَا غُلاَمُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ؛ احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ

Abdullah bin ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma– menceritakan, suatu hari saya berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, “Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaipun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” [HR. at-Tirmidzi no. 2516 dishahihkan oleh al-Albani dalam Zhilalul Jannah fi Takhrijis Sunnah no. 315-318]

Jagalah Allah disini salah satunya menjaga kehalalan harta kita. Bagi yang berencana untuk bekerja di Indonesia, kita perlu ekstra hati-hati mengingat posisisi negara kita sebagai salah satu negara terkuat se-Asia untuk korupsi (PERC: 2015). Cara-cara yang baik dalam mengais rizki, tidak hanya mendatangkan rizki yang halal lagi thayyib, tetapi juga akan berpengaruh pada kelahiran insan-insan masa depan, yaitu anak-anak yang berjiwa suci lagi berkepribadian luhur, lantaran mendapatkan asupan gizi dari makanan halal. Selain itu, juga dapat menghadirkan karunia lain, yang tidak bisa terpantau oleh indera ataupun dihitung dengan materi. Itulah berkah. Menghindari sektor yang syubhat (meragukan) adalah pilihan bijak sebelum terlanjur melangkah. Memilih di awal lebih mudah dibanding gundah saat anak sudah sekolah.

Mendefinisikan rizki hanya pada capaian materi semata tidaklah tepat. Mendapatkan pekerjaan yang memungkinkan kita membantu anak mengerjakan PR sekolahnya dan dikelilingi oleh teman-teman baik yang bisa saling mengingatkan adalah bentuk lain dari rizki yang perlu kita pertimbangkan dalam memilih pekerjaan. Dan, kriteria yang paling penting adalah kita dapat menggapai rizki yang Allah khususkan bagi orang-orang mukmin. Allah menyempurnakan keutamaan bagi mereka, dan Allah anugerahkan bagai mereka surga di hari akhir kelak. Yaitu, rezeki yang sifatnya khusus, segala sesuatu yang membuat tegak agama seseorang. Rizki jenis ini berupa ilmu yang bermanfaat dan amal shalih serta semua rezeki halal yang membantu seseorang untuk taat kepada Allah. Inilah rezeki yang Allah berikan khusus kepada orang-orang yang dicintai-Nya. Inilah rezeki yang hakiki, yang menghantarkan seseorang akan mendapat kebahagiaan dunia akhirat.

Wallahu A’lam.

Bahan bacaan:

Penulis: Robi

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)