Buljum 2015.9.18: Safar: Berjalan, Melihat dan Menafsir

قُل سيروا فِي الأَرضِ فَانظُروا كَيفَ بَدَأَ الخَلقَ ۚ ثُمَّ اللَّهُ يُنشِئُ النَّشأَةَ الآخِرَةَ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلىٰ كُلِّ شَيءٍ قَديرٌ

Katakanlah berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. [QS. Al Ankabut : 20]

فَإِذا قُضِيَتِ الصَّلاةُ فَانتَشِروا فِي الأَرضِ وَابتَغوا مِن فَضلِ اللَّهِ وَاذكُرُوا اللَّهَ كَثيرًا لَعَلَّكُم تُفلِحونَ

Maka bertebaranlah kamu di muka bumi (untuk menjalankan urusan masing-masing), dan carilah apa yang kamu hajati dari limpah kurnia Allah, serta ingatlah akan Allah banyak-banyak (dalam segala keadaan), supaya kamu berjaya (di dunia dan di Akhirat). [QS. Al-Jumu’ah : 10]

هُوَ الَّذي جَعَلَ لَكُمُ الأَرضَ ذَلولًا فَامشوا في مَناكِبِها وَكُلوا مِن رِزقِهِ ۖ وَإِلَيهِ النُّشورُ

“Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. [QS. Al-Mulk : 15]

Salah satu anjuran agama yang sering terlupakan adalah melakukan safar, atau perjalanan. Anjuran ini memiliki pesan yang kuat dan mendalam, agar kita bisa memetik hikmah dan pemahaman yang mendasar dari perjalanan yang kita tempuh, untuk menjalankan fungsi kita, baik secara individu maupun sebagai bagian dari masyarakat.

Secara etimologi safar memiliki makna membuka, menampakkan, menjelaskan, memperlihatkan, atau juga berarti menempuh sebuah perjalanan dengan jarak tertentu. Safar berarti “membuka” karena akan memperlihatkan atau menampakkan sikap, perilaku, dan sifat kita seutuhnya. Ketika safar, akan banyak dijumpai hal-hal yang membuat senang, atau adakalanya mengundang rasa cemas. Kelapangan dan kesempitan akan datang silih berganti. Dalam kondisi seperti itulah, seseorang benar-benar mengalami ujian dan cobaan. Keadaan yang demikian akan membuka tirai dari perilaku dan sikap kita yang biasanya tidak terlihat, memperlihatkan kepribadian kita yang sesungguhnya.

Terdapat hubungan yang sangat erat antara kegiatan melakukan perjalanan (safar) dengan peningkatan kualitas kita sebagai seorang muslim. Dalam safar terdapat aktivitas “bergerak” yang menyebabkan kita memiliki kesempatan untuk berpindah, bukan hanya sekedar jarak, tetapi juga serangkaian perpindahan makna. Gerakan tersebut akan menghasilkan energi yang nantinya mengubah sesuatu menjadi sesuatu yang lain.

Secara eksplisit, perintah untuk melakukan safar yang terkandung di banyak tempat di dalam Al-Qur’an, menunjukkan betapa luasnya makna yang dapat kita petik dalam setiap langkah kita di atas bumi ini. Ini memuat pesan yang kuat, bahwa setiap muslim memiliki keutamaan untuk dapat melakukan safar. Keutamaan ini juga berarti menyempurnakan, karena salah satu bentuk keutamaan safar itu tertuang dalam rukun Islam, yaitu melaksanakan ibadah haji. Ada jarak puluhan, ratusan, bahkan ribuan kilo meter yang harus ditempuh untuk menunaikan ibadah haji ini. Dan pada ibadah haji jugalah berbagai makna dan hikmah safar terhimpun.

Ada banyak kisah yang menakjubkan dalam proses untuk merealisasikan rukun islam kelima ini. Dari kisah-kisah itu, bisa jadi salah satunya ada di dekat kita. Kita perlu menajamkan indera untuk dapat menangkap kisah-kisah ajaib bagaimana seseorang mampu memenuhi panggilan haji. Edarkan pandangan kita pada orang-orang yang hidup sederhana, yang dengan semangat berlipat-lipat berupaya untuk dapat memiliki kesempatan menjejak tanah sang Nabi. Menelusuri setiap jengkal kisah yang terekam membersamai kota Makkah dan Madinah. Terkadang kita merasa takjub, mendengar bahwa sosok yang dikenal sederhana, bahkan mungkin serba kekurangan, mengurai air mata cinta menyisikan seluruh keterbatasannya untuk dapat mewujudkan cita-citanya melakukan perjalanan menuju tanah haram. Mengumpulkan receh demi receh yang berbilang waktu yang sangat panjang. Atas nama cinta untuk menyempurna rukun, mereka berupaya dengan penuh kesabaran. Dan hingga panggilan tersebut tiba, air mata syukur akan terpanjatkan.

Momen lain yang juga memiliki pesan yang kuat dalam lintas sejarah Islam, bahwa safar adalah upaya bergerak menuju kemenangan, terdapat pada momen hijrahnya Rasulullah ﷺ beserta para pengikutnya. Hijrah ini memiliki kandungan makna bergerak yang sesungguhnya. Bergerak dari kegelapan menuju cahaya, bergerak dari keadaan sempit yang membelenggu menjadi jiwa yang merdeka. Hijrah bukan saja telah memberikan perubahan bagi sejarah peradaban Islam sehingga meluas menelusuri pelosok-pelosok bumi, namun ia juga menjadi perlambang, betapa jika kita ingin berubah ke arah yang lebih baik maka bersafarlah.

Di tanah air kita sendiri, banyak kelompok masyarakat yang terkenal telah memahami betul akan besarnya pesan safar. Sebut saja tradisi marantau yang dimiliki oleh orang Minang. Demikian kuatnya budaya marantau ini sampai-sampai ada ungkapan “di mana sih yang tidak ada orang minang?” Rasanya belum dapat dikatakan sempurna keberhasilan seorang Minang itu jika dia belum menjalankan tradisi marantau. Tradisi yang hampir serupa diperankan pula dengan sangat bersahaja oleh orang-orang Bugis, maupun kelompok masyarakat Pidie di Aceh. Ada akumulasi energi yang diperolehnya dari merantau yang kemudian mengubahnya menjadi sosok yang pandangannya meluas, mendalam dan menjejak pada anak-anak karyanya.

Dengan safar juga, sesungguhnya kita sedang membaca. Yakni upaya aktif kita untuk sampai pada sebuah nikmat pemahaman. Pemahaman yang mendalam akan membuahkan kebijaksanaan dan menghasilkan bobot yang belipat-lipat pada karya yang kita wujudkan. Membaca bukan hanya berarti menelusuri susunan kata yang membentuk kalimat. Membaca berarti menghadirkan semua indera untuk melihat, merasa, lalu menafsirkan semua jejak dan tanda yang terdapat di alam. Dan itu hanya bisa kita lakukan dengan melakukan safar.

Begitulah, dengan bergerak kita dapat mengakumulasi energi untuk memberi nutrisi pada kehidupan kita dengan warna yang lebih beragam menuju karya yang memberikan kemudahan untuk sampai pada pintu surga. Maka bersafarlah!

Wallahu A’lam.

Penulis: Alfi

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)