Buljum 2015.9.25: Mengambil Hikmah dari Sebuah Pengorbanan

Kamis, 24 September 2015, atau 10 Dzulhijjah 1436 H yang lalu kita telah sama-sama merayakan Idul Adha.  Hari dimana kita berkurban, berbondong-bondong menunjukkan ketaatan kita pada Allah ﷻ. Berbondong-bondong kita lepaskan ikatan dengan harta yang kita cintai demi ketaatan pada Allah ﷻ. Kita rela mengeluarkan sejumlah besar uang untuk membeli hewan kurban, yang berlipat harganya dibanding hari-hari lainnya. Karena semua itu bukan karena uang, akan tetapi upaya untuk menunjukkan ketaatan pada-Nya, Sang Robb Semesta Alam.

إِنَّآ أَعۡطَيۡنَـٰكَ ٱلۡكَوۡثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ

“Sesungguhnya Kami telah memberikan karunia sangat banyak kepadamu, maka sholatlah untuk Tuhanmu  dan sembelihlah kurban.” [QS. Al-Kautsar: 1-2]

Berkorban dalam ketaatan merupakan bagian indah dari Islam. Begitu banyak kita saksikan kisah-kisah tentang pengorbanan para Nabi dan para orang-orang salih dalam ketaatan pada Allah. Mereka mengorbankan jiwa, harta, waktu, kehidupan dan segala sesuatu yang dipunyai, semua dalam rangka ketaatan pada Allah. Marilah kita memetik pelajaran mengenai pengorbanan dari lembaran kisah Keluarga Ibrahim alayhissalam yang hanif.

إِنَّ إِبۡرَٲهِيمَ كَانَ أُمَّةً۬ قَانِتً۬ا لِّلَّهِ حَنِيفً۬ا وَلَمۡ يَكُ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ شَاڪِرً۬ا لِّأَنۡعُمِهِ‌ۚ ٱجۡتَبَٮٰهُ وَهَدَٮٰهُ إِلَىٰ صِرَٲطٍ۬ مُّسۡتَقِيمٍ۬  وَءَاتَيۡنَـٰهُ فِى ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةً۬‌ۖ وَإِنَّهُ ۥ فِى ٱلۡأَخِرَةِ لَمِنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan), (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah, Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.” [QS. An-Nahl: 120-122]

Begitu besar pengorbanan beliau di jalan ketaatan pada Allah ﷻ. Jangka waktu yang begitu panjang dalam penantian seorang buah hati hingga lahirnya Ismail, tak menyurutkannya untuk memenuhi perintah Allah. Ketika turun perintah untuk meninggalkan Siti Hajar dan putranya, Ismail, di gurun pasir nan tandus yang tak ada kehidupan di sana, Nabi Ibrahim patuh melaksanakannya. Bukan karena tak cinta pada istri dan anaknya, namun cintanya pada Allah ﷻ jauh lebih besar. Sang istri menanggapi dengan tak kalah luar biasa , “Ya Ibrahim! Apakah Allah yang telah memerintahkanmu melakukan ini?” Dan ketika sang suami membenarkan pertanyaan tersebut, Siti Hajar menjadi tenang dan berkata, “Dengan begitu, Allah tidak akan meninggalkan kita… Allah tidak akan membiarkan kita.”

Kisah tersebut berlanjut hingga kemudian Ismail beranjak remaja. Di saat itulah turun perintah Allah ﷻ untuk menyembelih Ismail, putranya tercinta. Hal penting yang kemudian kita perlu pahami adalah, bahwa Ismail alayhissalam, sebagaimana Ayah dan Ibunya, memahami akan berharganya ketaatan pada Allah ﷻ, sehingga ketika mengetahui bahwa hal tersebut adalah perintah-Nya, tak surut ia ke belakang dan malah kemudian mendorong sang ayah melaksanakan ketaatan kepada Allah ﷻ. Semangat ketaatan tersebut telah tertanam di usianya yang masih muda. Hingga akhirnya digantikanlah ia dengan seekor domba, yang di kemudian hari menjadi dasar kita berkurban pada hari ini.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ اْلسَعْىَ قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّى أَرَى فِى اْلمَنَامِ أَنِّى أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَاأَبَتِ افْعَلْ مَاتُؤْمَرُ سَتَجِدُنِى إِنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الصَّابِرِيْنَ

“Maka tatkala anak itu sampai (pada usia sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku sedang menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”” [QS. Ash-Shaffat: 102]

Keluarga Ibrahim telah menunjukkan pada kita bahwa ketaatan itu seringkali dibuktikan dengan pengorbanan. Pengorbanan terhadap sesuatu yang kita cintai demi menunjukkan kecintaan kita yang lebih besar pada Allah ﷻ. Dalam hari raya Idul Adha kemarin, kita belajar akan hal itu, belajar melepaskan ikatan kita pada harta yang kita cintai demi ketaatan pada Allah.

 يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُلۡهِكُمۡ أَمۡوَٲلُكُمۡ وَلَآ أَوۡلَـٰدُڪُمۡ عَن ذِڪۡرِ ٱللَّهِ‌ۚ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٲلِكَ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡخَـٰسِرُونَ وَأَنفِقُواْ مِن مَّا رَزَقۡنَـٰكُم مِّن قَبۡلِ أَن يَأۡتِىَ أَحَدَكُمُ ٱلۡمَوۡتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوۡلَآ أَخَّرۡتَنِىٓ إِلَىٰٓ أَجَلٍ۬ قَرِيبٍ۬ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi. Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” [QS. Al-Munafiqun: 9-10]

Wallahua’lam bishshowab

Penulis: Indianto

 

 

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)