Buljum 2015.10.2: Perasaan Gembira yang Terpuji dan Tercela

Di dalam Al-Quran, Allah ﷻ memuji kegembiraan namun juga melarangnya. Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ قارونَ كانَ مِن قَومِ موسىٰ فَبَغىٰ عَلَيهِم ۖ وَآتَيناهُ مِنَ الكُنوزِ ما إِنَّ مَفاتِحَهُ لَتَنوءُ بِالعُصبَةِ أُولِي القُوَّةِ إِذ قالَ لَهُ قَومُهُ لا تَفرَح ۖ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الفَرِحينَ

“Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: Janganlah kamu merasa gembira, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang bergembira.” [QS Al-Qashash : 76]

Ayat di atas menceritakan tentang Qarun, yang mana dia bergembira dengan dunia, kedudukan, dan hartanya. Kegembiraaan tersebut menjadikannya congkak dan sombong di hadapan manusia, dan akhirnya ia pun mendustakan ayat-ayat Allah dan menolak seruan-seruan para Nabi untuk senantiasa beribadah kepada Allah semata.

Ketika perasaan cinta kepada dunia sudah mengakar di hati seorang hamba, dia hanya akan merasa gembira pada perkara-perkara duniawi saja. Namun ketika dia menjalankan perintah Allah dia tidak merasa gembira sama sekali. Sifat gembira seperti ini termasuk sifat yang tercela dan dibenci oleh Allah.

Sementara itu, di ayat lain Allah ﷻ justru memerintahkan kita untuk bergembira. Sifat gembira yang bagaimanakah yang terpuji itu, sampai-sampai Allah memerintahkannya? Allah ﷻ berfirman:

قُل بِفَضلِ اللَّهِ وَبِرَحمَتِهِ فَبِذٰلِكَ فَليَفرَحوا هُوَ خَيرٌ مِمّا يَجمَعونَ

“Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” [QS Yunus : 58]

Pada ayat ini Allah memerintahkan kita untuk bergembira atas karunia Allah dan rahmat-Nya yang berupa hidayah, ilmu, dan ketaatan. Maka sepatutnya seorang mukmin merasa gembira ketika dia membaca firman-firman Rabb-nya, merasa gembira ketika menghadiri majelis-majelis ilmu yang di dalamnya dikaji hadits-hadits Rasulullah ﷺ, dan merasa gembira ketika mengamalkan ilmu yang dipelajarinya tersebut.

Imam at-Tirmidzi dan selain beliau meriwayatkan sebuah hadits dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِي فَوَعَاهَا وَحَفِظَهَا وَبَلَّغَهَا ، فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ ، ثَلَاثٌ لَا يُغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ مُسْلِمٍ : إِخْلَاصُ الْعَمَلِ لِلَّهِ ، وَمُنَاصَحَةُ أَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ ، وَلُزُومُ جَمَاعَتِهِمْ ، فَإِنَّ الدَّعْوَةَ تُحِيطُ مِنْ وَرَائِهِمْ

“Semoga Allah memberikan nudhrah (cahaya di wajah) kepada orang yang mendengarkan sabdaku lalu ia memahaminya, menghafalnya, dan menyampaikannya. Berapa banyak orang yang membawa ilmu agama kepada orang yang lebih paham darinya. Ada tiga perkara yang tidak akan dengki hati muslim dengannya: mengikhlaskan amal karena Allah, menasihati pemimpin kaum muslimin, dan berpegang kepada jamaah mereka karena doa mereka meliputi dari belakang mereka.”

Imam Ibnu Qoyim rahimahullah menjelaskan bahwa “yang dimaksud nudhrah adalah cahaya di wajah yang berasal dari kegembiraan hati.” Sehingga apabila seorang hamba membaca sabda-sabda Rasulullah ﷺ, manusia yang paling dicintainya di dunia ini, atau membaca firman-firman Allah, Rabb yang sangat dicintainya, timbul kegembiraan di hatinya, yang mana kegembiraan tersebut menyebabkan wajahnya bersinar dan berseri-seri. Sifat gembira seperti inilah yang seharusnya dimiliki oleh setiap mukmin.

Sekarang mari kita coba bertanya pada diri kita masing-masing, “Di atas apakah kita bergembira selama ini?” Apakah kegembiraan kita ketika mendapatkan perkara-perkara duniawi melebihi kegembiraan kita ketika menaati Allah? Ketika dikumandangkan adzan. apakah hati kita merasa gembira dengan adanya adzan tersebut sehingga kemudian kita dengan semangatnya pergi ke masjid? Ataukah kita merasa lebih semangat ketika mendengar adanya ajakan/seruan dunia? Apakah kita merasa semangat ketika melangkahkan kaki menuju menuju majelis-majelis ilmu? Ataukah kita lebih semangat untuk menuju ke tempat-tempat hiburan? Kalau ternyata kita lebih semangat mengikuti ajakan dunia daripada ajakan kepada kehidupan akhirat, mungkin itu adalah tanda bahwa dunia sudah tertancap lebih dalam di hati kita.

Jika memang saat ini hati kita lebih condong kepada kegembiraan yang sifatnya duniawi, maka kita harus berusaha merubahnya. Pertama, renungkanlah tentang hakikat kehidupan dunia ini. Dunia ini kesenangannya menipu dan tidak akan bertahan selama-lamanya, sedangkan akhirat itu kekal, kesenangan di surga kelak tidak akan bisa dibandingkan dengan sesuatu apapun. Kemudian, biasakanlah diri kita senantiasa berada di atas ketaatan, sehingga kita bisa merasakan kelezatan ketaatan. Misalnya, orang yang sudah terbiasa shalat wajib secara berjamaah tentu akan merasa ada yang kurang apabila dia shalat wajib sendirian. Ini adalah sebuah tanda bahwa dia sudah bisa merasakan kelezatan ketaatan. Di saat kita sudah bisa merasakan kelezatan ketaatan, maka kita akan bergembira ketika menaati Allah.

Wallahu A’lam.

Bahan bacaan:

Penulis: Alfian

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)