Buljum 2015.10.9: Mengingat Mati

Selama kurang lebih sebulan terakhir penulis berulang kali diingatkan tentang satu hal yang pasti akan dihadapi oleh setiap makhluk yang hidup dan bernyawa: kematian. Mulai dari kematian rekan kerja, baik yang sebaya maupun yang senior; teman yang sudah lama saling mengenal; maupun saudara dekat yang meninggal pada saat hari raya idul adha beberapa waktu lalu. Peristiwa tersebut seakan mengingatkan kembali kepada satu tema dalam fase akhir dari kehidupan manusia di dunia ini; kematian.

Al Quran dan Kematian

Allah ﷻ berfirman dalam beberapa ayat-Nya mengenai kematian, bahwa kematian akan menghampiri makhluk yang hidup.

كُلُّ نَفسٍ ذائِقَةُ المَوتِ ۗ وَإِنَّما تُوَفَّونَ أُجورَكُم يَومَ القِيامَةِ ۖ فَمَن زُحزِحَ عَنِ النّارِ وَأُدخِلَ الجَنَّةَ فَقَد فازَ ۗ وَمَا الحَياةُ الدُّنيا إِلّا مَتاعُ الغُرورِ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” [QS. Ali Imran : 185]

إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَيِّتونَ

“Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula).” [QS. Az-Zumar : 30]

وَما جَعَلنا لِبَشَرٍ مِن قَبلِكَ الخُلدَ ۖ أَفَإِن مِتَّ فَهُمُ الخالِدونَ

“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad); maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?.” [QS. Al-Anbiya’ : 34]

Berulang kali disebutkan dalam Al-Qur’an, mengenai kematian, agar kita dapat menyadari titik akhir yang pasti kita tuju, sehingga tema “kematian” dapat menjadi dasar bagi kita dalam bervisi dan misi di dunia ini. Bahkan, pada dasarnya keimanan dalam diri setiap muslim selalu bermula dari kesadaran bahwa kita akan memiliki kehidupan lain setelah kehidupan kita di dunia ini.

Allah tidak pernah memberi tahu kapan, di mana dan dalam kondisi seperti apa kita akan meninggal. Tidak seorangpun dari kita mengetahui sampai kapan kesempatan hidup akan diberikan oleh Allah. Dalam situasi inilah Allah memberikan hikmah, bahwa dimanapun dan kapanpun kita harus senantiasa siap untuk menghadapi kematian.

Mengingat Mati

Mengingat mati merupakan salah satu cara untuk mempersiapkan kematian. Rasulullah ﷺ bersabda mengenai pentingnya mengingat kematian:

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ

“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan (yaitu kematian)” [HR. An-Nasai no. 1824, Tirmidzi no. 2307 dan Ibnu Majah no. 4258 dan Ahmad 2: 292. Hadits ini hasan shahih menurut Syaikh Al-Albani]

Dalam sabdanya yang lain, Rasulullah ﷺ mengabarkan kepada kita mengenai orang yang cerdas.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ : كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ : « أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا ». قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ : « أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ »

Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang Anshor mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaknya.” “Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?”, ia kembali bertanya. Beliau bersabda, “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas.” [HR. Ibnu Majah no. 4259, Thabrani, dan Al-Haitsamiy. Syaikh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah 2/419 berkata: hadits hasan]

Dari hadits tersebut dapat diambil sebuah hikmah bahwasanya mengingat kematian dan memperbanyak persiapan untuk menghadapinya, merupakan salah satu amal baik yang dapat memberikan kemuliaan dunia dan kehormatan akhirat. Dari hadist tersebut pula dapat kita pahami bahwa manusia yang paling cerdas bukanlah manusia yang memiliki gelar akademik yang berjajar; Professor, Doktor, Master, Sarjana, dan seterusnya. Manusia yang paling cerdas adalah yang paling banyak mengingat kematian.

Rasulullah ﷺ juga menyebutkan dalam haditsnya yang lain, mengenai beberapa hikmah mengingat kematian. Salah satu hikmahnya adalah memperbagus shalat kita.

اذكرِ الموتَ فى صلاتِك فإنَّ الرجلَ إذا ذكر الموتَ فى صلاتِهِ فَحَرِىٌّ أن يحسنَ صلاتَه وصلِّ صلاةَ رجلٍ لا يظن أنه يصلى صلاةً غيرَها وإياك وكلَّ أمرٍ يعتذرُ منه

“Ingatlah kematian dalam shalatmu karena jika seseorang mengingat mati dalam shalatnya, maka ia akan memperbagus shalatnya. Shalatlah seperti shalat orang yang tidak menyangka bahwa ia masih punya kesempatan melakukan shalat yang lainnya. Hati-hatilah dengan perkara yang kelak malah engkau meminta udzur (meralatnya) (karena tidak bisa memenuhinya).” [HR. Ad-Dailami dalam musnad Al-Firdaus. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan]

Hikmah yang disebutkan dalam hadits Rasulullah ﷺ yang lain, yaitu memperbaiki kehidupan.

أكثروا ذكر هَاذِمِ اللَّذَّاتِ فإنه ما ذكره أحد فى ضيق من العيش إلا وسعه عليه ولا فى سعة إلا ضيقه عليه

“Perbanyaklah banyak mengingat pemutus kelezatan (yaitu kematian) karena jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya sempit, maka ia akan merasa lapang dan jika seseorang mengingatnya saat kehiupannya lapang, maka ia tidak akan tertipu dengan dunia (sehingga lalai akan akhirat).” [HR. Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi, dinyatakan hasan oleh Syaikh Al-Albani]

Semoga kita semua termasuk dalam golongan orang orang yang selalu mengingat mati dan mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian.

Wallahu A’lam.

(Dirangkum dari Taushiyah Ust. Anis Matta, Lc)

Penulis: Oscar

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)