Buljum 2015.10.16: Kepuasan dengan Amalan dan Pahala Minimal

Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita sudah merasa puas dengan satu amal shalih tanpa berusaha meningkatkan lagi kualitasnya. Bahkan, terkadang kepuasan akan kualitas amalan dengan “pahala minimal” ini seolah ada legitimasinya dengan dalil tertentu. Mari kita lihat salah satu contohnya dalam mempelajari Al-Quran.

Idealnya, orang yang mempelajari Al-Quran harus dapat membacanya, menghafalkannya, memahami maknanya (dengan belajar bahasa Arab), dan tentunya mengamalkannya. Namun, mungkin karena rasa malas, atau sebenarnya kurang mengalokasikan waktu belajar, kita (tentunya termasuk penulis) terlanjur puas dalam aspek bisa membacanya saja, itu pun dengan terbata-bata.

Sebenarnya tidak masalah kita terbata-bata membaca Al-Quran jika memang sudah batas kemampuan maksimal kita seperti itu. Sayangnya, kadang ada salah kaprah bahwa orang yang terbata-bata membaca Al-Quran akan mendapatkan kebaikan yang lebih banyak dibandingkan yang lebih mahir membaca Al-Quran.

Sebagai akibat dari salah kaprah ini, orang yang terbata-bata membaca Al-Quran tetapi ia sebenarnya memiliki waktu lebih banyak untuk belajar Al-Quran, bisa jadi ada yang sudah puas mencukupkan diri dengan kemampuannya yang segitu-gitu saja. Ini dikarenakan anggapan membaca Al-Quran dengan terbata-bata mendapatkan pahala lebih banyak daripada yang membaca Al-Quran dengan mahir. Benarkah begitu?

Dalil yang digunakan dalam salah kaprah ini adalah salah satu hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha, beliau mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

الماهر بالقرآن مع السفرة الكرام البررة والذي يقرأ القرآن ويتتعتع فيه وهو عليه شاق له أجران

“Seseorang yang mahir (membaca) Al-Quran akan bersama malaikat yang diutus, yang mulia lagi senantiasa berbuat taat, sedangkan orang yang membaca Al-Quran dengan terbata-bata dan kesulitan dengannya akan mendapatkan dua pahala.” [HR. Muslim No. 798]

Di dalam hadits ini disebutkan bahwa orang yang membaca Al-Quran dengan terbata-bata akan mendapatkan dua pahala, yaitu pahala untuk bacaannya dan pahala kesusahannya (upayanya) untuk sungguh-sungguh membaca Al-Quran. Pertanyaannya, apakah dengan begitu orang yang membaca Al-Quran dengan terbata-bata akan lebih baik posisinya dibandingkan orang yang mahir membaca Al-Quran?

Bagi yang salah kaprah, pertanyaan di atas akan dijawab dengan, “Iya, lebih baik, kan dapat dua pahala toh?” Nah, pemahaman seperti ini telah keliru karena mengabaikan bagian awal dari hadits tersebut bahwa orang yang mahir membaca Al-Quran yang justru mendapatkan pahala lebih banyak.

An-Nawawi mengutip perkataan Al-Qadhi dan ulama lainnya dalam penjelasan beliau terhadap hadits ini: “Bukanlah maknanya orang yang terbata-bata dalam bacaannya memperoleh pahala lebih banyak daripada orang yang mahir. Bahkan, orang yang mahir itu lebih utama dan lebih banyak pahalanya karena (kelak di akhirat) dia bersama para malaikat utusan Allah ﷻ dan mendapatkan banyak pahala.”

Al-Qadhi menyebutkan pula, “Dan Rasulullah ﷺ TIDAK PERNAH menyebutkan kedudukan yang mulia seperti itu (orang yang mahir membaca Al-Quran) bagi yang lainnya (yang tidak mahir). Bagaimana mungkin kedudukan orang yang mahir bisa disamai oleh orang yang tidak menjaga, tidak menghafal kitabullah dan tidak mengokohkannya, juga tidak banyak membacanya.” [Syarh Shahih Muslim, Al-Imam An-Nawawi]

Begitu pentingnya membaca Al-Quran dengan benar ini sehingga dalam Islam telah disyariatkan bahwa seorang imam shalat haruslah yang mampu membaca Al-Quran dengan tartil. Imam yang membaca Al-Fatihah dengan tidak benar, terancam batal shalatnya, dan makmum yang tahu bahwa imamnya telah batal, dia juga ikut batal shalatnya jika masih melanjutkan shalat bersama sang imam.

Kriterianya sederhana, jika kesalahan membaca Al Fatihah itu bisa mengubah makna, seperti an’amtu ‘alaihim atau iyyaka dibaca iyyaki, maka itu membatalkan shalat. Jika tidak mengubah makna, misalnya alhamdulillahi rabbul ‘alamin, shalatnya insya Allah tetap sah. Bagaimana dengan imam yang berasal dari daerah tertentu yang sukar mengucapkan sebagian huruf hijaiyah? Misalnya orang Sunda terkadang kesusahan mengucapkan huruf F, atau terkadang mengucapkan Z dengan J.

Imam An-Nawawi menjelaskan kembali,

ولو قال : ولا الضالين بالظاء بطلت صلاته على أرجح الوجهين ، إلا أن يعجز عن الضاد بعد التعلم فيعذر

“Seandainya ia mengucapkan ‘waladh dhaalliin’ dengan huruf zha (ظ), shalatnya batal menurut pendapat yang kuat di antara dua pandangan. Kecuali jika ia lemah dalam mengucapkan huruf dhad (ض) setelah belajar (dan masih belum bisa juga), dalam hal ini ia dimaafkan.” [Kitab Al-Adzkar, Al-Imam An-Nawawi]

Perhatikan penjelasan Imam An-Nawawi tersebut bahwa untuk bisa dimaklumi “kesalahan” dalam membaca Al-Quran pun tetap harus dengan melalui proses belajar. Dengan demikian, sikap yang benar dalam mempelajari Al-Quran adalah terus berusaha untuk sampai mahir membacanya hingga benar-benar menjadi “sahabat” Al-Quran. Kalau perlu, kita sekalian pasang target setinggi-tingginya untuk dapat membaca, menghafalkan, memahami makna, dan mengamalkan isi Al-Quran.

Jangan terlanjur berpuas diri dengan ganjaran “pahala minimal” karena bisa jadi itu tipu daya setan untuk menghentikan upaya kita dalam meningkatkan kuantitas maupun kualitas amalan kita. Sebaliknya, jangan pernah pula kita bersikap merasa mahir hingga merendahkan ataupun mencela orang lain yang kurang baik dalam membaca Al-Quran.

Terkadang ada orang-orang yang didaulat untuk menjadi pengajar Al-Quran (hanya karena kepandaiannya membaca ataupun bagus bacaannya) kurang memperhatikan perasaan orang-orang yang baru belajar sehingga malah membuat mereka tidak mau lagi meneruskan belajar. Ada pula yang merasa sudah mahir sehingga malah tidak pernah lagi membaca Al-Quran. Wal ‘iyaadzu billah.

Semoga Allah memudahkan langkah-langkah kita dalam mempelajari Al-Quran.

Wallahu A’lam.

Penulis: Ahmad Ridwan

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)