Buljum 2015.10.23: Mempelajari Bahasa Asing

اقرَأ بِاسمِ رَبِّكَ الَّذي خَلَقَ خَلَقَ الإِنسانَ مِن عَلَقٍ اقرَأ وَرَبُّكَ الأَكرَمُ

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah” [QS. Al-‘Alaq : 1-3]

Iqro!” adalah kata-kata pertama diturunkan pada Nabi Muhammad ﷺ. Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa iqro yang pertama merujuk pada ilmu agama dan iqro yang kedua merujuk kepada ilmu duniawi. Ilmu agama menjaga kita dari berbagai ujian kehidupan untuk mengantarkan kita kepada kesuksesan di akhirat yang kekal nantinya. Ilmu adalah satu hal yang Allah perintahkan Rasul-Nya ﷺ untuk senantiasa meminta untuk ditambahkan oleh-Nya.

فَتَعالَى اللَّهُ المَلِكُ الحَقُّ ۗ وَلا تَعجَل بِالقُرآنِ مِن قَبلِ أَن يُقضىٰ إِلَيكَ وَحيُهُ ۖ وَقُل رَبِّ زِدني عِلمًا

“Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang Sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al-Qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan Katakanlah: Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” [QS. Taha : 114]

Begitulah kedekatan Islam dengan ilmu pengetahuan. Sehingga tidak mengherankan bahwa pada masa Abbasiyah dimana peradaban muslim menjadi pusat perkembangan peradaban dunia, terutama dari segi ilmu pengetahuan, semua bangsa datang untuk menimba ilmu ke dunia muslim. Jangankan non-muslim, sampai sekarang pun tidak sedikit pelajar muslim yang terinspirasi dari berkembangnya ilmu pengetahuan di masa kejayaan Islam.

Apa yang membuat peradaban Islam berjaya pada masa itu? Salah satu alasannya adalah diterjemahkannya berbagai literatur asing ke dalam bahasa Arab secara besar-besaran. Menerjemahkan berarti memahami bahasa dan isi literatur tersebut. Melalui penerjemahan inilah ilmu-ilmu filsafat yunani dan berbagai cabang ilmu sains masuk dan dikembangkan dalam dunia muslim. Kala itu peradaban muslim menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia dan mencapai puncaknya.

Selain itu, kita dapat melihat pentingnya mempelajari bahasa dalam ungkapan “Barangsiapa mempelajari bahasa suatu kaum, dia akan selamat dari fitnah mereka.”  Mempelajari bahasa adalah salah satu hal yang dapat kita lakukan untuk melindungi diri dari fitnah dunia.

Rasulullah ﷺ juga menekankan pentingnya mempelajari bahasa bahasa. Beliau pun memerintahkan para sahabatnya untuk mempelajari bahasa kaum-kaum yang berinteraksi dengan kaum muslim.

عَنْ خَارِجَةَ بْنِ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ عَنْ أَبِيهِ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ قَالَ أَمَرَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ أَتَعَلَّمَ لَهُ كَلِمَاتِ كِتَابِ يَهُودَ. قَالَ « إِنِّى وَاللهِ مَا آمَنُ يَهُودَ عَلَى كِتَابٍ ». قَالَ فَمَا مَرَّ بِى نِصْفُ شَهْرٍ حَتَّى تَعَلَّمْتُهُ لَهُ قَالَ فَلَمَّا تَعَلَّمْتُهُ كَانَ إِذَا كَتَبَ إِلَى يَهُودَ كَتَبْتُ إِلَيْهِمْ وَإِذَا كَتَبُوا إِلَيْهِ قَرَأْتُ لَهُ كِتَابَهُمْ. قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

“Dari Kharijah bin Zaid bin Tsabit, dari ayahnya; Zaid bin Tsabit, ia berkata: “Rasulullah menyuruhku untuk mempelajari -untuk beliau- kalimat-kalimat (bahasa) dari buku (suratnya) orang Yahudi, beliau berkata, ‘Demi Allah, aku tidak merasa aman dari (pengkhianatan) yahudi atas suratku.’ Maka tidak sampai setengah bulan aku sudah mampu menguasai bahasa mereka. Ketika aku sudah menguasainya, maka jika beliau menulis surat untuk yahudi maka aku yang menuliskan untuk beliau. Dan ketika mereka menulis surat untuk beliau maka aku yang membacakannya kepada beliau.” [HR. Tirmidzi, Abu Isa mengatakan hadits ini hasan shahih]

Fitnah dunia adalah salah satu hal yang kita disunnahkan untuk meminta perlindungan setiap sebelum salam dalam sholat.

 اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِجَهَنَّمَ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ

“Ya Allah, Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksaan kubur, siksa neraka jahanam, fitnah kehidupan dan setelah mati, serta dari kejahatan fitnah Al-Masih Dajjal.”

Melalui bahasa dan ilmu pengetahuan yang Allah anugerahkan kepada kita. Semoga kita dapat menjadi muslim yang dapat melindungi diri sendiri dari fitnah dunia. Akhir kata, hadits berikut mengingatkan kita bahwa orang yang berguna bagi orang lain adalah orang yang paling dicintai Allah.

عن ابن عمر ، أن رجلا جاء إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فقال : يا رسول الله أي الناس أحب إلى الله ؟ وأي الأعمال أحب إلى الله عز وجل ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « أحب الناس إلى الله أنفعهم للناس وَأَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ، أَوْ تَكْشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً، أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْناً، أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوْعًا وَ لَأَنْ أَمْشِيْ مَعَ أَخٍ فِي حَاجَةٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا المَسْجِدِ ، ( يَعْنِي مَسْجِدُ النَبَوِي ) شَهْرًا

“Dari Ibnu Umar bahwa seorang lelaki mendatangi Nabi ﷺ dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling dicintai Allah? dan amal apakah yang paling dicintai Allah?’ Rasulullah ﷺ menjawab, ‘Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia, dan pekerjaan yang paling dicintai Allah adalah menggembirakan seorang muslim, atau menjauhkan kesusahan darinya, atau membayarkan hutangnya, atau menghilangkan laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini (masjid Nabawi) selama sebulan.” [HR. Thabrani di dalam al-Mu’jam al-Kabir, no. 13646]

Wallahu A’lam.

Penulis: Adam

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)