Buljum 2015.10.30: Sejarah Ilmuwan Muslim: Al Khwarizmi

Menurut sebuah hadits dari Anas radhiyallahu ’anhu, menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim. Perintah ini mendorong umat Islam di berbagai masa untuk menuntut berbagai macam ilmu (semoga ini menjadi pengingat bagi kita yang sedang merantau untuk menuntut ilmu, termasuk penulis, untuk meluruskan niat kita mencari ilmu). Sehingga pada zaman dahulu, dunia Islam pernah menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan di dunia, dengan para ilmuwan dari berbagai penjuru dunia datang berguru menuntut ilmu ke kota-kota umat Islam. Khususnya untuk ilmu-ilmu duniawi, banyak ahli sejarah memandang zaman Kekhalifahan Abbasiyah (abad ke-2–7 H / 8–13 M) sebagai puncaknya.

Melihat pentingnya hasil karya ilmuwan-ilmuwan Muslim pada zaman itu, ada banyak pelajaran yang bisa kita (terutama sebagai perantau penuntut ilmu) ambil dari mereka. Ada banyak ilmuwan Muslim yang bisa diangkat untuk tema ini, tetapi karena latar belakang penulis di ilmu komputer, kali ini insya Allah penulis akan mengulas sedikit mengenai Muhammad bin Musa Al Khwarizmi (محمد بن موسى الخوارزمی, biasanya disingkat Al Khwarizmi, atau Algoritmi oleh ilmuwan-ilmuwan Eropa abad pertengahan).

Ada cukup banyak perbedaan pendapat di antara sejarawan mengenai riwayat Al Khwarizmi. Untuk tulisan ini, penulis akan banyak mengambil pendapat Frederic Rosen, seorang sejarawan Inggris yang menerjemahkan beberapa naskah Al Khwarizmi ke Bahasa Inggris di tahun 1831. Wallahu a’lam.

Dilihat dari nama panggilannya, Al Khwarizmi kemungkinan besar berasal dari Khwarazm, suatu daerah di Asia Tengah yang sekarang termasuk di bagian barat Uzbekistan. Sebelum zaman Nabi Muhammad ﷺ, daerah ini dahulu berbatasan dengan Kekaisaran Persia. Kemudian, Islam mulai masuk ke daerah ini sekitar awal abad ke-2 H / 8 M, setelah Persia masuk ke wilayah kekhalifahan.

Daerah Khwarazm, dan Wilayah Xorazm (Хоразм вилояти/Xorazm Viloyat) di Uzbekistan masa kini. Arsiran hijau adalah wilayah Kekhalifahan Abbasiyah di puncak kekuasaannya.

Daerah Khwarazm, dan Wilayah Xorazm (Хоразм вилояти/Xorazm Viloyat) di Uzbekistan masa kini. Arsiran hijau adalah wilayah Kekhalifahan Abbasiyah di puncak kekuasaannya.

Al Khwarizmi datang ke Baghdad, ibukota Kekhalifahan Abbasiyah, dan memulai berbagai macam riset di zaman pemerintahan Khalifah Harun ar Rasyid (170 – 194 H/ 786 – 809 M). Saat itu, sponsor utamanya kemungkinan adalah Pangeran Al Ma’mun, yang kemudian naik menjadi khalifah di tahun 197 H / 813 M. Al Ma’mun terkenal sebagai pecinta ilmu pengetahuan; konon ketika dia menjadi khalifah, dia memberi gaji sangat besar kepada para ilmuwan di Baytul Hikmah, termasuk Al Khwarizmi (walaupun harus diakui juga bahwa Al Ma’mun terkenal dekat dengan golongan Mu’tazilah, golongan yang dianggap sesat dalam Mazhab Hanbali).

Karya terpenting Al Khwarizmi adalah “Buku Ringkasan Mengenai Perhitungan Menggunakan Metode Pelengkapan dan Penyeimbangan” (الكتاب المختصر في حساب الجبر والمقابلة, Al Kitab Al Mukhtashar Fil Hisab Al Jabr Wal Muqabalah), atau biasanya disingkat Aljabr (atau Algebra oleh ilmuwan Eropa abad pertengahan). Buku ini selesai ditulis sekitar tahun 200an H / 820an M. Di dalam buku ini, Al Khwarizmi menulis mengenai cara pemecahan persamaan kuadrat menggunakan metode pelengkapan dan penyeimbangan, dan darinya beliau juga memberikan contoh-contoh aplikasi perhitungan ini untuk berbagai keperluan, diantaranya menentukan bagian-bagian warisan dan rute paling efektif untuk pembuatan kanal.

Di bidang geografi, Al Khwarizmi juga meneliti mengenai posisi bujur dan lintang berbagai kota di daerah Sindhind (daerah Pakistan dan India masa kini). Di bidang astronomi, beliau juga menulis buku mengenai kalender kaum Yahudi.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa Al Khwarizmi menemukan ilmu aljabar dan konsep nol sebagai sebuah bilangan, tetapi kelihatannya pendapat yang menyatakan bahwa ia belajar ilmu-ilmu itu dari para matematikawan India (terutama Brahmagupta, hidup sekitar 598 – 670 M, lebih dari seabad sebelum Aljabr ditulis) lebih tepat. Judul lengkap Aljabr dan kata pengantarnya menunjukkan bahwa Aljabr adalah buku ringkasan, yang mengindikasikan bahwa ilmu aljabar (atau disebut Al Khwarizmi dengan nama “metode pelengkapan dan penyeimbangan”) sudah dimengerti oleh sebagian ilmuwan di zaman itu. Bahwasanya Al Khwarizmi banyak melakukan penelitian di daerah India dan kemungkinan besar cukup dekat dengan banyak ilmuwan-imuwan India juga mendukung pendapat ini.

Al Khwarizmi mungkin bukan penemu, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa beliau adalah salah seorang ilmuwan di awal masa Kekhalifahan Abbasiyah dengan impact factor terbesar, yang dikutip ratusan ilmuwan lain di zamannya dan zaman-zaman sesudahnya. Salah satu faktor pentingnya adalah ciri khas tulisan-tulisan Al Khwarizmi. Ketika menjelaskan metode-metode perhitungan, beliau tidak hanya menyebutkan hasil akhirnya. Beliau juga menjelaskan mengenai jalan pikirannya, tahap demi tahap dengan sangat rinci menggunakan berbagai macam contoh persoalan (soal latihan maupun persoalan dalam kehidupan nyata). Karena itu, melalui tulisannyalah para ilmuwan lain bisa memahami metode yang dijelaskan dalam Aljabr, dan bukan melalui tulisan-tulisan Brahmagupta. Penjelasan terperinci yang sering ia berikan membuat cara mengejarkan tugas step by step identik dengan namanya; bahkan di zaman modern, kita menyebut cara ini “algoritma”.

Kita bisa mengambil beberapa pelajaran dari kesuksesan Al Khwarizmi. Pertama, agar ilmu bisa berkembang, ilmu harus bisa diajarkan ke orang lain. Dengan melakukan riset, kita mungkin bisa mendapatkan ilmu pengetahuan baru. Setelah mendapatkan pengetahuan itu, kita perlu menjelaskannya dengan cara yang baik agar mudah dimengerti orang lain, misalnya dengan memberikan contoh. Kedua, kita perlu mempelajari ilmu dari berbagai sumber. Untuk itu, mempelajari bahasa asing bisa sangat membantu. Al Khwarizmi tidak lahir di tanah Arab (Asia Tengah ditinggali Bangsa Turk dan Bangsa Iran), tetapi dia mempelajari berbagai bahasa yang akhirnya memungkinkan dia untuk belajar berbagai ilmu di Baghdad menggunakan Bahasa Arab, dan ia juga bisa mempelajari ilmu dari ilmuwan-ilmuwan India dan Yahudi. Ketiga, ilmu yang baik adalah ilmu yang bisa dimanfaatkan. Pemanfaatan ini bisa berarti berguna bagi dari sendiri, ilmuwan lain, ataupun masyarakat luas. Di dalam sebuah hadits, diajarkan agar kita berdoa agar mendapat ilmu yang bermanfaat.

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

“Ya Allah, aku memohon pada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang thoyyib dan amalan yang diterima” [HR. Ibnu Majah no. 925, shahih]

Bahan bacaan:

Penulis: Hafiyan

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)