Buljum 2015.11.6: Haji dari Jepang: Persiapan

Ibadah haji merupakan salah satu di antara ibadah agung yang disyariatkan oleh Allah ﷻ kepada hamba-Nya, sekaligus merupakan rukun Islam yang terakhir. Firman-Nya:

فيهِ آياتٌ بَيِّناتٌ مَقامُ إِبراهيمَ ۖ وَمَن دَخَلَهُ كانَ آمِنًا ۗ وَلِلَّهِ عَلَى النّاسِ حِجُّ البَيتِ مَنِ استَطاعَ إِلَيهِ سَبيلًا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ العالَمينَ

“Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam“. [QS. Ali Imran : 97]

Menyegerakan Ibadah Haji

Rasulullah ﷺ memerintahkan kepada setiap muslim untuk menyegerakan melaksanakan ibadah haji bila telah berkemampuan untuk melaksanakannya. Hal ini sesuai dengan hadits sebagai berikut:

مَنْ أَرَادَ الْحَجَّ فَلْيَتَعَجَّلْ فَإِنَّهُ قَدْ يَمْرَضُ الْمَرِيضُ وَتَضِلُّ الضَّالَّةُ وَتَعْرِضُ الْحَاجَةُ

“Barangsiapa yang ingin pergi haji maka hendaklah ia bersegera, karena sesungguhnya kadang datang penyakit, atau kadang hilang hewan tunggangan atau terkadang ada keperluan lain (mendesak)”. (HR. Ibnu Majah dan dihasankan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al jami’, no. 6004)

Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Ahmad, dan jumhur ulama berpendapat bahwa kewajiban haji adalah kewajiban yang seketika harus dilaksanakan, artinya seorang mukmin yang memenuhi syarat mampu, maka saat itu ia wajib melaksanakan. Dan jika menundanya, maka ia berdosa.

إِنَّ الله , عَزَّ وَجَلَّ , يَقُولُ : إِنَّ عَبْدًا أَصْحَحْتُ لَهُ جِسْمَهُ ، وَأَوْسَعْتُ عَلَيْهِ فِي الْمَعِيشَةِ تَمْضِي عَلَيْهِ خَمْسَةُ أَعْوَامٍ لاَ يَفِدُ إِلَيَّ لَمَحْرُومٌ.

“Abu Sa’id Al Khudry radhiyallahu ‘anhu, meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Allah berfirman: “Sesungguhnya seorang hamba telah Aku sehatkan badannya, Aku luaskan rezekinya, tetapi berlalu dari lima tahun dan dia tidak menghadiri undangan-Ku, maka sungguh dia orang yang benar-benar terlarang (dari kebaikan)”. [HR. Ibnu Hibban dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, no. 1662]

Namun demikian, Imam Syafi’i berpendapat bahwa haji itu kewajiban yang longgar. Maka orang yang menundanya padahal ia mampu ia tidak berdosa, selama ia laksanakan sebelum wafat. Sedangkan jika wafat telah mendahuluinya sebelum haji padahal ia mampu, maka ia berdosa. Seperti juga yang dikatakan Imam Al Ghazali dalam Ihya’.

Berhaji dari Jepang, Insya Allah..

Mempertimbangkan hal-hal di atas, berangkat haji dari Jepang adalah salah satu alternatif yang perlu dipertimbangkan. Kenapa?

(1) Faktor usia dan stamina. Rukun Islam yang memerlukan tenaga yang banyak adalah Haji. Berjalan kaki puluhan kilometer pada suhu 45˚C setelah sebelumnya menginap di alam terbuka, tentu memerlukan stamina prima. Sehingga selagi kita masih muda mari kita tunaikan ibadah ini.

(2) Biaya dan kuota. Biaya ONH Indonesia (sekitar 35 jutaan untuk reguler, dan 100 jutaan untuk ONH plus) sepintas memang lebih murah jika dibandingkan dengan berangkat dari Jepang (kisaran 55-80 juta rupiah). Akan tetapi jika kita mempertimbangkan masa tunggu akan berbeda hasilnya. Masa tunggu haji reguler di Indonesia sekarang sudah mencapai sekitar 15 tahun, dan ONH plus mencapai sekitar 4 tahun. Sementara itu, hanya dibutuhkan waktu beberapa bulan untuk mendaftar haji melalui kuota Jepang. Kita tidak dapat memprediksi kondisi ekonomi yang mempengaruhi ONH 15 tahun mendatang, misalnya kurs dollar. Di sisi lain meningkatnya tingkat kesejahteraan masyarakat akan semakin menambah daftar tunggu haji. Sebagai contoh di Malaysia, daftar tunggunya sudah mencapai 67 tahun. Di sisi lain karena pendapatan yang relatif lebih besar, untuk mengumpulkan biaya pergi haji dari Jepang relatif lebih cepat dibandingkan dengan menabung dari Indonesia.

Apa yang perlu disiapkan?

Haji bukanlah perjalanan wisata, tetapi ibadah badaniyah (fisik), ruhiyah dan maaliyah (harta). Layaknya kematian, pernikahan dan ibadah lainnya, ibadah haji juga perlu dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Persiapan apakah yang harus dilakukan, untuk dapat menyegerakan beribadah haji secara umum dan khususnya dari Jepang?

(1) Persiapan ruhiyah. Mulailah dengan menguatkan ruhiyah dan niat, munculkan azam (tekad) yang kuat untuk dapat segera berhaji. Luruskan niat, bahwa beribadah haji bukanlah untuk mendapat gelar Haji atau Hajjah, bukan untuk prestise, atau status sosial lainnya. Niatkan bahwa berhaji adalah kewajiban seorang muslim untuk menyempurnakan rukun Islamnya. Tiada yang kita harapkan kecuali Allah ﷻ menerima amal ibadah kita, menghapuskan seluruh dosa kita, dan memasukkan kita ke dalam surga-Nya. Ikuti azam ini dengan doa yang penuh perasaan khauf (takut) dan raja’ (harap) agar Allah mengabulkan azam kita untuk segera berhaji.

(2) Persiapan maaliyah (harta). Niat berhaji tidak hanya lintasan pemikiran. Akan tetapi harus diikuti dengan persiapan harta yang tak jarang memerlukan waktu yang lama. Persiapan maaliyah itu antara lain: membuka tabungan atau rekening khusus haji dan mengkhususkan pendapatan yang halal setiap bulan untuk biaya haji.

(3) Persiapan ilmiyah (ilmu). Wajib bagi kita mempelajari tata cara haji Rasulullah ﷺ, mulai dari tata cara berihram, tawaf, sa`i, wukuf, sampai melontar jumrah. Tidak cukup mengerjakan amalan-amalan tersebut karena melihatnya dikerjakan orang lain tanpa mengetahui dasarnya dari Rasulullah ﷺ. Ilmu lain yang perlu dipahami adalah hukum-hukum dan adab yang berkaitan dengan safar (perjalanan), misalnya; bagaimana tata cara bersuci (wudhu dan tayamum), shalat jamak dan qashar dalam perjalanan, doa dan zikir yang diajurkan selama perjalanan haji hingga pulang ke tanah air, serta adab dan akhlak yang patut dijaga selama berada di tanah haram.

(4) Persiapan badaniyah (fisik). Ibadah haji adalah ibadah badaniyah, karena para hujjaj harus melaksanakan rangkaian manasik haji yang memerlukan kekuatan fisik, seperti mabit di Arafah, Muzdalifah, dan Mina, melontar jumrah, thawaf dan sa’i. Pada saat hari tarwiyah (10 Dzulhijjah), jama’ah haji harus berjalan kaki dari Muzdalifah atau Mina (bila mampir ke tenda dari Muzdalifah) ke lokasi jamarat. Apabila jama’ah haji melanjutkan dengan melaksanakan thawaf ifadah setelah jumrah Aqobah, maka ia harus berjalan kaki ke Masjidil Haram untuk melaksanakan tawaf dan sa’i lalu sore atau malam harinya harus kembali ke Mina untuk mabit. Total jarak yang harus ditempuh dengan berjalan kaki bila ia melaksanakan semua manasik tersebut pada hari tarwiyah adalah sekitar 25-26 km pada suhu 45˚C.

(5) Persiapan administrasi. Keberangkatan haji dari Jepang dapat dilakukan melalui travel agent terdaftar yang mendapatkan kuota haji (per Oktober 2015 ada 2 agen). Dokumen yang perlu dipersiapkan antara lain: paspor dan visa dengan minimal masa berlaku 6 bulan, student certificate, vaksin meningitis, dsb.

Wallahu A’lam.

Penulis: Robi

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)