Buljum 2015.11.13: Makna Kehidupan

Seorang ulama bijak berkata, “Apapun cita-cita yang ingin seseorang capai, dan betapapun usaha dan kerja keras yang diusahakan, serta waktu-waktu yang dialokasikan untuk mendapatkannya, tetap seseorang akan menjemput kematiannya”. Kematian adalah sesuatu yang pasti, dan  almarhum adalah keniscayaan gelar setiap individu, entah dia orang kaya, miskin, berpendidikan ataupun tidak, besar maupun kecil, semuanya akan memperoleh gelar tersebut cepat atau lambat.

يا قَومِ إِنَّما هٰذِهِ الحَياةُ الدُّنيا مَتاعٌ وَإِنَّ الآخِرَةَ هِيَ دارُ القَرارِ

“Hai kaumku, sesungguhnya hidup di dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) sedangkan akhirat itulah negeri yang kekal.” [QS. Ghafir: 39]

Khalifah Umar bin Abdul ‘Aziz berkata dalam sebuah pidatonya, Dunia ini bukan tempat tinggalmu yang kekal, karena Allah telah menakdirkan bahwa dunia akan berakhir dan penduduknya bakal meninggalkannya. Banyak orang yang membangun dan mendirikan apa-apa yang sesaat dan pasti akan rusak binasa. Banyak sekali penduduk dunia ini yang merasa nyaman tinggal di atasnya padahal mereka akan segera meninggalkannya. Karenanya, semoga Allah melimpahkan ampunan-Nya kepadamu. Persiapkanlah perjalananmu dengan menggunakan bekal yang paling baik yang kau temukan. Bekalilah dirimu dengan bekal yang memadai, dan sesungguhnya bekal yang terbaik adalah taqwa. Karena dunia ini bukanlah tempat tinggal yang abadi, maka seyogyanya seorang mukmin menjadi seperti orang asing di sebuah negeri asing, mencurahkan segala perhatiannya untuk kembali ke kampung halamannya. Atau dia berlaku sebagai seorang musafir yang tidak tinggal di suatu tempat yang tetap, tetapi dia senantiasa berjalan siang dan malam menuju kediamannya yang tetap.

اقتَرَبَ لِلنّاسِ حِسابُهُم وَهُم في غَفلَةٍ مُعرِضونَ

Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya). [QS. Al-Anbiya’: 1]

اقتربت الساعة ولا يزداد الناس على الدني إلا حرصا, ولا يزدادون من الله إلا بعدا

Rasulullah ﷺ bersabda, “Kiamat telah dekat, dan tidaklah bertambah kecuali manusia semakin rakus terhadap dunia, dan tidak bertambah melainkan mereka semakin jauh dari Allah.” [HR. Hakim dan dihasankan oleh Al-Albani]

Hasan al-Basri berkata, Jauhilah segala aspek hidup yang melengahkan, dan sesungguhnya, hidup ini memiliki segudang aspek yang melengahkan. Manusia yang terjerumus didalamnya lalu mengisi hidupnya dengan itu, maka pintu yang telah dia buka akan membuka sepuluh pintu lagi dari aspek yang melengahkan tersebut.”

Sa’id bin Mas’ud berkata, “Jika kamu melihat seorang hamba yang merasa puas tatkala hartanya bertambah sedangkan amal akhiratnya berkurang, ketahuilah bahwa dia adalah orang yang tertipu yang mukanya sedang diperolok, tetapi dia tidak tahu apa yang sedang terjadi padanya.”

Salafus sholeh yang lain berkata, Dunia ini laksana ingar-bingar pasar yang hanya berlangsung sebentar saja, dan setelah itu berubah menjadi sunyi dan sepi.

Sesuatu yang paling mirip dengan dunia adalah bayang-bayang. Disangka memiliki hakikat yang tetap, padahal tidak demikian. Dikejar untuk digapai, sudah pasti tidak akan pernah sampai. Dunia juga sangat mirip dengan fatamorgana. Orang yang kehausan menyangkanya sebagai air, padahal jika ia mendekatinya ia tidak akan mendapai sesuatupun.

Setiap orang baru menyadari pentingnya arti kehidupan manakala kehidupannya sudah sebentar lagi. Maut sudah mengintai dan kadangkala itu sudah terlambat. Steve Jobs, yang terkadang menjadi simbol kesuksesan di dunia bisnis, siapa yang tidak mengenal kerajaan bisnisnya ‘Apple’, mengungkapkan perasaan hatinya mengenai arti kehidupan, dan menunjukkan betapa lemahnya makhuk yang bernama manusia. Berikut beberapa kata darinya tentang arti kehidupan, Saat ini aku terbaring di rumah sakit, merenung jalan kehidupanku: kekayaan, nama, kedudukan… Semuanya itu tidak ada artinya lagi. Sekarang aku mengerti. Seseorang, asal memiliki harta secukupnya buat digunakan, itu sudah cukup. Mengejar kekayaan tanpa batas bagaikan monster yang mengerikan. Barang hilang bisa didapat kembali, tapi nyawa hilang tak bisa kembali. Saat kamu masuk ke ruang operasi, kamu baru sadar bahwa betapa berharganya kesehatan itu. Kita berjalan di jalan kehidupan ini. Dengan jalannya waktu, suatu saat akan sampai tujuan. Bagaikan panggung pentas. Tirai panggung akan tertutup. Pentas telah berakhir.

Steve Jobs, yang bukan seorang muslim, menyadari bahwa kematian adalah akhir episode kehidupan  seseorang. Namun bagi seorang muslim, kematian adalah awal mula perjalanan menuju kehidupan kekal di akhirat. Jatah hidup yang diberikan Allah ﷻ di dunia ini adalah kesempatan untuk  mempersiapkan bekal yang terbaik guna menjalani kehidupan setelah kematian. Yang senang bersekolah, bersekolahlah dengan benar. Mari kita jadikan apa-apa yang kita pelajari menjadi ilmu yang bermanfaat yang bisa menjadi bekal, ATM amal kebaikan kita, yang tidak akan pernah habis saldonya setelah mati.

Yang mau dan gemar menjadi orang kaya, bekerja keras dan berdoalah agar keinginannya terwujud. Berdoa untuk menjadi orang kaya jangan tanggung-tanggung seperti yang dicontohkan Nabi Sulaiman alayhissalam yang diabadikan di dalam Al-Quran.

قالَ رَبِّ اغفِر لي وَهَب لي مُلكًا لا يَنبَغي لِأَحَدٍ مِن بَعدي ۖ إِنَّكَ أَنتَ الوَهّابُ

“Ia berkata, ‘Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.’” [QS. Shaad: 35]

Tentunya bagian akhir doa di atas (anugerah kerajaan yang tidak dimiliki seorang pun setelah beliau) adalah doa yang khusus untuk Nabi Sulaiman ‘alaihissalam sebagai mukjizat beliau, sehingga bisa kita modifikasi dulu sesuai kebutuhan. Mari kita perbanyak dan perluas jaringan dengan individu atau kelompok yang memiliki kesamaan minat dari sekarang.  Dengan kelapangan harta, seseorang memiliki peluang untuk beramal lebih banyak. Risalah dakwah Rasulullah ﷺ juga ditopang oleh individu-individu yang memiliki kelapangan dalam harta. Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu salah satunya.  Saking dermawannya beliau, salah satu wakaf beliau (dalam bentuk sumur air, kebun, dan rekening) masih bisa dirasakan manfaatnya oleh saudara-saudara kita hingga saat ini. Dengan kelimpahan harta, seseorang dapat beramal lebih bayak. Pintu-pintu kebaikan terbentang dihadapannya yang menunggu kontribusi aktif dari para dermawan.

Dan bekal terakhir adalah mencetak generasi penerus yang rabbani. Yang senantiasa mendokan kebaikan dan keselamatan kedua orang tuanya, baik selama hidup, lebih-lebih setelah mati. Ketiganya adalah sebaik-baiknya bekal untuk dibawa setelah kematian, yakni ilmu yang bermanfaat, amal jariyah, dan generasi penerus yang saleh.

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Rasulullah ﷺ bersabda, “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” [HR. Muslim no. 1631]

Wallahu A’lam.

Penulis: Muttaqin

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)