Buljum 2015.11.20: Bersyukur dengan Membagi Rasa Bahagia

وَإِذ تَأَذَّنَ رَبُّكُم لَئِن شَكَرتُم لَأَزيدَنَّكُم ۖ وَلَئِن كَفَرتُم إِنَّ عَذابي لَشَديدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’” (QS. Ibrahim: 7)

Kebahagiaan adalah salah satu wujud nikmat yang dapat dirasakan, yang kemudian kita perlu bersyukur untuk itu. Bahkan rasa nikmat itu akan tumbuh dan berkembang saat kita mengetahui bagaimana semestinya kita bersyukur. Syukur itu dapat pula dimaknai bertambah dan menumbuh. Demikian janji Allah di dalam surat Ibrahim ayat 7. Salah satu penanda bahwa kesyukuran kira berhasil adalah dengan bertambahnya nikmat.

Salah satu hal yang dapat dibagi pada sesama adalah kebahagiaan, tanpa mengurangi kualitas sumber rasa bahagia itu sendiri. Bahkan rasa bahagia itu menjadi berlipat ketika ia dibagikan. Menularkan kebahagiaan berarti sedang mengokohkan dan mengamalkan rasa syukur.

Rasa bahagia itu adalah kumpulan persepsi positif dalam menghadapi setiap episode kehidupan. Bahagia itu adalah rasa yang dapat diciptakan, dihadirkan dan dipersepsikan. Betapapun buruknya keadaan di luar sana tak akan mampu secara tiba-tiba menjadikan rasa bahagia itu tercerabut. Namun yang harus diingat adalah memang ia tidak mudah diciptakan dan dihadirkan sehingga menyatu dalam setiap detik kehidupan kita.

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” [QS. An-Nahl: 97]

Saat Allah menyediakan hidup dan mati sebagai sarana untuk menyeleksi siapa yang memiliki amal-amal terbaik harusnya muncul kesadaran dalam setiap jejak kehidupan kita agar senantiasa berada dalam jalan yang benar. Karena bahagia itu hadir pada setiap amal yang terbaik dari diri kita. Saat segala upaya terbaik itu diciptakan sebagai wujud dari rasa syukur, maka Allah akan membuka jalan untuk hadirnya bahagia yang berikutnya.

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآَخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” [QS. Al-Hadid: 20]

Begitu banyak orang meletakkan persepsi bahagia itu pada ukuran materi, jabatan, dan berbagai kemudahan yang tersedia. Dengan begitu saat semua ukuran itu belum tercapai maka bahagia itu seakan berjarak dari hidupnya. Banyak orang kaya merasa dirinya tidak bahagia. Padahal semua ukuran alasan kebahagiaan itu benar-benar ada pada hartanya, jabatannya, fisiknya. Tetap saja ia akan mengatakan jika harta dan segala yang banyak itu tak serta merta membuat  ia bahagia.

Saya selalu takjub saat bertemu sosok pribadi bahagia dimana semua kehidupan yang ia miliki adalah perjuangan. Bahkan untuk hal-hal sesederhana dan sesulit apapun kehidupannya itu, dapat menuntun hadirnya bahagia dengan begitu mudah. Ketakjuban saya itu bertambah-tambah pada aura bahagianya yang menularkan. Dan bagi saya bertemu dengan sosok yang demikian adalah salah satu jalan untuk merasakan kebahagiaan pula.

Sayapun selalu merasa beruntung saat bertemu sosok inspiratif, bersemangat, terbuka. Dengan begitu selalu ada bahagia yang tertularkan, yang saya perlukan adalah selalu membuka pintu agar mudah menerima energi bahagia itu untuk kemudian saraf kreatifitas bahagia dan rasa syukur saya terstimulasikan. Kemudian saya selalu tahu jika pada kreatifitas yang terstimulasikan itulah karya terbaik akan terpahatkan. Pada akhirnya bahagia itu menemukan muaranya yaitu kesyukuran.

Membangun persepsi bahagia memerlukan suasana. Saat semakin banyak suasana mendukung maka persepsi bahagia itu akan tertanam. Suasana perlu diciptakan, untuk menampung bahagia. Bukan hanya sekedar menampung bahagia, tapi meluberkannya kemana-mana. Allah telah menjanjikan akan menambahkan nikmat berupa rasa bahagia itu saat kita tahu dimana kuncinya. Jadi, wujud syukur itu salah satunya adalah bahagia yang menularkan, menumbuhkan, tanpa mengurangi kualitas sumber bahagia itu sendiri.

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).” [QS. Adh-Dhuha: 11]

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم – إِذَا رَأَى مَا يُحِبُّ قَالَ « الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ ». وَإِذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ قَالَ « الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

“Dari Aisyah, kebiasaan Rasulullah jika menyaksikan hal-hal yang beliau sukai adalah mengucapkan ‘Alhamdulillah alladzi bi ni’matihi tatimmus shalihat’. Sedangkan jika beliau menyaksikan hal-hal yang tidak menyenangkan beliau mengucapkan ‘Alhamdulillah ‘ala kulli hal.’” [HR. Ibnu Majah no. 3803 dinilai hasan oleh al Albani]

Wallahu A’lam.

Penulis: Alfi

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)