Buljum 2015.11.27: Mari Membaca Al-Qur’an

Seruan tersebut adalah seruan yang ringkas namun mengandung makna yang dalam di baliknya. Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam. Kitab yang merupakan kalam Allah ﷻ yang diturunkan melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad ﷺ. Ia diriwayatkan secara tawatur, bersambung terus-menerus seperti rantai dan oleh banyak orang sehingga menjadi kebenaran umum yang tak terbantahkan, kepada para sahabat, tabi’in dan seterusnya hingga sampai kepada kita saat ini dengan berisikan pesan-pesan Allah ﷻ yang dimulai dari Al-Fatihah hingga ditutup dengan An-Nas. Merupakan suatu Ibadah yang luar biasa ketika kita membacanya, dan ia juga merupakan petunjuk bagi manusia dalam menjalani jalan kehidupan.

عَنْ عَبْد اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ رضى الله عنه يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ »

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi bersabda: Barang siapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur’an) maka dengannya akan mendapat satu kebaikan; satu kebaikan itu akan dilipatgandakan menjadi sepuluh kebaikan semisal. aku tidak mengatakan Alif Laam Miim satu huruf. akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf, Miim satu huruf.[HR. Tirmidzi no. 2910, disahihkan dalam al-Misykat no. 2137 dan Shahih al-Jami’ ash-Shaghir no. 6469]

Bayangkan jika kita sedang melakukan sebuah kebaikan. Sebagai contoh, menyeberangkan seorang nenek di jalan, yang kiita bersepakat bahwa itu adalah sebuah kebaikan. Kemudian kita coba renungkan hadits di atas. Membaca satu huruf dalam Al-Qur’an adalah setara dengan sebuah kebaikan. Yang dari satu kebaikan tersebut dilipatgandakan atau setara dengan 10 kebaikan. Maka bayangkan 10 kebaikan itu serupa dengan menyeberangkan 10 orang nenek di jalan. Tentunya ini hanya merupakan perumpamaan dari penulis yang masih sangat fakir akan ilmu, akan tetapi dari perumpamaan sederhana tersebut dapat kita pahami bahwa membaca Al-Qur’an merupakan suatu ibadah yang sangat tinggi nilainya di mata Allah ﷻ.

Al-Qur’an adalah mukjizat yang diturunkan Allah ﷻ kepada Nabi Muhammad ﷺ. Kemukjizatan dari Al-Qur’an ini akan berlaku sampai hari kiamat dan akan senantiasa menguat seiring berjalannya waktu.

إِنّا نَحنُ نَزَّلنَا الذِّكرَ وَإِنّا لَهُ لَحافِظونَ

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan AlQur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” [QS. Al-Hijr: 9]

Allah ﷻ memelihara Al-Qur’an melalui lisan hamba-hamba-Nya yang senantiasa melantunkan ayat-ayat-Nya. Melalui hamba-hamba-Nya yang senantiasa menghafalnya. Perjuangan ini bukanlah perjuangan mudah yang dilalui dengan begitu saja. Tercatat dalam sejarah panjang umat Islam, darah dan air mata para ulama telah tertumpah dalam upaya menjaga kemukjizatan Al-Qur’an tersebut. Teringat kisah pada dinasti Abbasiyah dimana ketika itu merebak paham mu’tazilah bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. Paham tersebut menjadikan sifat makhluk melekat dalam Al-Qur’an yaitu fana, yang dengannya maka Al Qur’an takkan kekal sebagaimana makhluk lainnya. Begitu banyak para umat Islam dan ulama ahlussunnah yang menentang paham tersebut dan kemudian berakhir dengan jeruji penjara, salah satunya adalah Imam Ahmad bin Hambal. Oleh karena itu peran kita dalam mengisi kehidupan dengan membaca dan menghafal Al-Qur’an adalah upaya kita untuk menggabungkan diri kita dalam perjuangan panjang para ulama dan generasi salafus-shalih dalam menjaga kemukjizatan Al-Qur’an, Insya Allah.

Membaca Al-Qur’an memiliki banyak keutamaan bagi para pembacanya.

عَنْ أَبي أُمَامَةَ الْبَاهِلِىُّ رضى الله عنه قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ

“Abu Umamah Al Bahily radhiyallahu ‘anhu berkata, Aku telah mendengar Rasulullah bersabda: Bacalah Al-Quran karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at kepada orang yang membacanya.” [HR. Muslim no. 804]

Syafaat merupakan suatu hal yang sangat diharapkan oleh manusia pada hari kiamat nanti. Di hari dimana umat manusia hanya dapat memikirkan dirinya sendiri. Memikirkan balasan dari segala dosa-dosa kemaksiatan yang bergelimang ketika di dunia. Bagaimana kita ingin mengharapkan syafaat dari Al-Qur’an jika tak pernah kita membacanya?

“Siapa yang membaca Al-Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaiakan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, ‘Mengapa kami dipakaikan jubah ini?’ Dijawab, ‘Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al-Qur’an.’ [HR. Al-Hakim]

Banyak di antara kita yang mencintai kedua orang tua kita. Banyak cara yang kita lakukan untuk menunjukkan kecintaan kita kepada mereka. Merenungkan hadits di atas, apakah tidak ingin kita melihat kedua orang tua kita dimuliakan oleh Allah di hari akhir nanti. Dipakaikan jubah kemuliaan yang tidak pernah didapatkan di dunia ini.

Begitu banyak keutamaan dari membaca Al-Qur’an yang barangkali terlupa kita akannya karena segala kesibukan dunia kita. Maka mari kembali kita galakkan semangat membaca Qur’an kita. Semoga Allah merahmati dan memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada segala niat baik kita untuk kembali pada Al-Qur’an.

شَهرُ رَمَضانَ الَّذي أُنزِلَ فيهِ القُرآنُ هُدًى لِلنّاسِ وَبَيِّناتٍ مِنَ الهُدىٰ وَالفُرقانِ

Bulan Ramadhan, bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia, dan penjelasan bagi petunjuk tersebut, serta pembeda (antara yang hak dan yang bathil). ….” [QS. Al-Baqarah: 185]

Mengenai sebuah kebaikan yang dicontohkan dengan menyeberangkan seorang nenek di jalan. Kita menyepakati bahwa hal tersebut adalah kebaikan. Bagi kita seorang muslim tentunya kebaikan tersebut bukan sekedar kebaikan. Kebaikan tersebut adalah dalam rangka ibadah kita pada Allah. Dalam rangka mengamalkan apa yang terkandung dalam Al-Qur’an dan sunnah yang menjadi pondasi keislaman kita. Maka, dekatnya kita dengan Al-Qur’an akan memunculkan ribuan kebaikan yang terkandung di dalamnya. Al-Qur’an adalah huda-lin-nas, petunjuk bagi umat manusia, petunjuk bagi kita semua.

Wallahu A’lam.

Penulis: Indianto

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)