Buljum 2015.12.4: Perjalanan Salman Al-Farisi Mencari Kebenaran

Salman Al-Farisi adalah seorang laki-laki keturunan Persia dari Asfahan (daerah di Iran). Dia tinggal di sebuah kampung bernama Jayy bersama ayahnya. Salman sangat dicintai oleh ayahnya. Betapa sayangnya sang ayah pada Salman sampai-sampai Salman dikurung di dalam rumah untuk senantiasa duduk dekat dengan api dan membaktikan diri dalam agama Majusi, di mana dalam agama tersebut api perlu dijaga terus menerus agar tidak padam.

Ayah Salman memiliki kebun yang sangat besar. Suatu hari sang ayah sibuk bekerja di rumah dan dia memerintahkan Salman untuk keluar mengurus kebun tersebut. Dalam perjalanannya menuju kebun, Salman melalui satu gereja Nasrani dan dia mendengar suara mereka beribadah. Salman yang tidak pernah keluar rumah menjadi penasaran dan melihat apa yang mereka lakukan. Salman pun kagum dengan ibadah yang dilakukan oleh orang Nasrani dan merasa agama tersebut lebih benar dari agama Majusi yang dia anut. Kemudian dia bertanya pada orang Nasrani yang ia temui, “Di mana aku bisa belajar agama ini?” Mereka berkata “Di Syam.” Dia pun menceritakan kekagumannya akan agama Nasrani pada ayahnya. Ayahnya merasa khawatir sehingga mengikat Salman dengan rantai-rantai besi dan dikurung lagi di rumah.

Sampai suatu hari Salman mendapat kabar bahwa ada rombongan pedagang yang akan berangkat menuju Syam dari desanya. Rasa cinta Salman yang besar akan kebenaran mendorong dia untuk meninggalkan ayahnya. Salman pun melepaskan rantai-rantai besi pengikatnya dan bergabung dengan rombongan tersebut menuju Syam.

Sesampainya di Syam, Salman bertanya “Siapa orang yang paling utama dalam agama ini?” “Ada uskup agung di gereja di sana” jawab seseorang. Salman pun mendatangi uskup tersebut dan menyampaikan bahwa ia ingin tinggal bersama sang uskup agar bisa belajar dan beribadah bersama uskup tersebut. Uskup itu mengizinkan Salman. Namun ternyata ia adalah seorang uskup yang buruk akhlaknya. Uskup tersebut memotivasi orang-orang untuk bersedekah, namun sedekah tersebut ia tumpuk dan ia gunakan untuk dirinya sendiri. Salman pun sangat membeci sang uskup. Namun Salman adalah seorang yang berakal, dia menyadari bahwa ini adalah keburukan individu, sehingga kebenciannya pada sang uskup tidak sampai membuat dia benci pada agama yang dianut uskup tersebut.

Kemudian akhirnya sang uskup meninggal dunia dan diangkatlah uskup yang baru. Uskup baru ini berbeda jauh dengan uskup sebelumnya, ia sangat rajin beribadah dan zuhud pada dunia. Salman berkata, “Aku belum pernah melihat orang yang lebih utama, lebih zuhud dan lebih mengharapkan kehidupan akhirat daripada uskup baru ini.” Salman pun tinggal bersama uskup baru ini selama beberapa zaman sampai akhirnya sang uskup pun meninggal. Sebelum meninggal, Salman berkata pada sang uskup, “Wahai fulan, aku sangat mencintai engkau, dan engkau sekarang hendak meninggal dunia, lalu kepada siapa engkau wasiatkan aku dan apa yang engkau perintahkan kepadaku?” Maka uskup ini berkata “Demi Allah, aku tidak mengetahui siapa lagi di muka bumi ini yang mempunyai aqidah seperti aku. Manusia telah meninggalkan agama mereka kecuali saeorang uskup di sebuah negara bernama Mausil. Pergilah kepadanya.”

Salman pun pergi ke Mausil dan bertemu dengan uskup yang dimaksud. Salman tinggal bersamanya dan ia mendapati uskup ini adalah orang yang terbaik, sama seperti uskup sebelumnya. Tapi tak lama kemudian ia pun meninggal dunia. Sebelum meninggal, Salman kembali bertanya “Kepada siapa engkau wasiatkan aku dan apa yang engkau perintahkan kepadaku?” Sang uskup berkata “Demi Allah, aku tidak mengetahui ada orang yang seperti kami, kecuali seseorang yang berada di sebuah tempat bernama Nasibin, pergilah ke sana.”

Salman pun pergi ke Nasibin dan tinggal bersama orang yang dimaksud. Orang ini sangat luar biasa ibadahnya, sebaik-baik manusia yang pernah dijumpai oleh Salman, namun tak lama kemudian orang tersebut meninggal dunia. Sebelum meninggal, Salman kembali bertanya “Kepada siapa engkau wasiatkan aku dan apa yang engkau perintahkan kepadaku?” Orang ini berkata “Demi Allah, kami tidak mengetahui ada orang yang seperti kami, kecuali seseorang yang berada di sebuah negeri bernama Amuriyyah, silakan datangi dia.”

Salman pun pergi ke Amuriyyah dan tinggal bersama orang yang dimaksud. Salman mendapati ia adalah orang yang baik sekali. Setelah beberapa lama Salman pun mulai memiliki harta dan hewan ternak berupa sapi dan kambing. Kemudian orang baik ini pun meninggal dunia. Sebelum meninggal, Salman kembali bertanya “Kepada siapa engkau wasiatkan aku dan apa yang engkau perintahkan kepadaku?” Orang ini berkata “Aku tidak mengetahui ada orang yang seperti kami di zaman ini, tapi ini sudah waktunya keluar seorang nabi yang membawa agama Ibrahim. Ia akan keluar di negeri Arab. Dia akan hijrah ke sebuah tempat yang di sana terdapat pepohonan kurma. Dia memakan hadiah tapi tidak mau memakan sodaqoh. Di antara dua pundaknya ada cincin kenabian. Jika kamu ingin, pergilah ke negeri sana.” Kemudian orang ini pun meninggal dunia dan Salman tetap tinggal di Amuriyyah,

Akhirnya suatu hari Salman bertemu dengan pedagang Arab dari bani Kalb. Mereka bersedia membawa Salman ke negeri Arab dan sebagai gantinya Salman memberikan seluruh harta dan ternaknya kepada para pedagang ini. Namun di tengah jalan mereka menzolimi Salman dan menjualnya sebagai budak kepada seorang Yahudi yang kemudian menjualnya lagi kepada Yahudi lainnya. Hingga akhirnya sampailah Salman di kota Madinah sebagai seorang budak. Ketika melihat sifat-sifat kota Madinah, Salman yakin bahwa kota ini adalah tempat hijrahnya nabi. Lalu Allah mengutus Rasul-Nya di Mekkah, namun karena saking sibuknya membantu majikannya, Salman tidak pernah mendengar berita tentang diutusnya Rasul tersebut.

Sampai suatu hari hijrahlah Rasulullah ﷺ menuju Madinah. Ketika Rasulullah tiba di Kuba, kabar hijrahnya beliau sampai ke telinga Salman. Mendengar kabar tersebut, Salman pun merinding. Kemudian Salman mengumpulkan beberapa kurma dan pergi menemui Rasulullah untuk menyedekahkan kurma tersebut. Rasulullah kemudian membagikan kurma tersebut kepada para sahabatnya, namun beliau sendiri tidak memakannya. “Ini bukti pertama!” kata Salman di dalam hatinya. Kemudian Salman kembali mengumpulkan kurma-kurma dan untuk kedua kalinya menemui Rasulullah yang saat itu sudah tiba di Madinah. Lalu Salman berkata “Aku melihat engkau tidak mau memakan sodaqoh, maka ini hadiah buat engkau sebagai penghormatanku kepada mu.” Maka Rasulullah pun memakan kurma tersebut. “Ini bukti yang kedua!” kata Salman di dalam hatinya. Di lain kesempatan Salman kembali mendatangi Rasulullah di Baqi, saat itu Rasulullah sedang duduk-duduk setelah menyolati jenazah seorang sahabat. Salman mengucapkan salam dan kemudian berputar ke arah belakang Rasulullah. Rasulullah paham apa yang diinginkan Salman, kemudian Rasulullah membuka selendangnya dan tampaklah oleh Salman cincin kenabian di antara dua pundak beliau. Salman pun segera memeluk dan mencium Rasulullah, kemudian Salman menangis. Salman menceritakan kisah perjalanannya selama ini pada Rasulullah ﷺ. Rasulullah ﷺ merasa kagum dengan kegigihan Salman dalam mencari kebenaran.

Singkat cerita, dibantu oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabat lainnya, Salman akhirnya merdeka dari perbudakan. Setelah itu Salman menjadi salah satu sahabat yang paling sering ikut berperang. Hanya dua perang yang dia terluput darinya, yaitu perang Badar dan perang Uhud. Hal ini dikarenakan status Salman yang pada saat itu masih sebagai budak. Tapi kemudian Salman ikut perang Khandaq, bahkan strategi menggali parit pada perang tersebut adalah atas gagasan Salman.

Demikianlah kisah Salman Al-Farisi. Ia mencapai umur 250 tahun dan mendapati zaman sebelum Rasulullah ﷺ diutus. Sebuah jangka waktu yang tidak singkat untuk mencari kebenaran. Kita patut meneladani kegigihan Salman tersebut di mana ia rela meninggalkan keluarga dan mengorbankan hartanya demi mencari kebenaran. Sebuah pelajaran yang agung bagi kita semua, bahwa kebenaran itu tidak akan diperoleh jika dunia ini masih lebih besar nilainya di hati kita.

Wallahu A’lam.

Diringkas dari Hadist ke-894, Silsilah Al-Ahaadiits Ash-Shahiihah. Hadits ini diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas dari Salman Al-Farisi radhiyallahu ’anhuma.

Penulis: Alfian

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)