Buljum 2015.12.11: Cobaan Akan Berakhir

Umumnya warga Indonesia yang tinggal di kota Sendai ini berstatus sebagai pelajar, entah itu sebagai mahasiswa D3, S1, S2, ataupun S3. Selain itu, beberapa orang sudah merampungkan proses pendidikan formalnya dan berganti statusnya dari pelajar menjadi pekerja, dan ada juga bapak, ibu yang menemani istri atau suaminya dalam menunaikan tugas sekolah. Yang masing-masing memiliki permasalahan hidup yang sebisa mungkin harus ditangani segera untuk mendapatkan solusi terbaik.

Seorang ulama mengatakan bahwa kehidupan manusia di muka bumi ini adalah sebuah ujian. Layaknya ujian di bangku sekolah, ujian kehidupan ini juga akan diketahui hasilnya apakah lulus atau gagal. Bedanya, tidak akan pernah ada ujian susulan ataupun ‘semester pendek’ untuk meningkatkan nilai jika kita gagal lulus dalam ujian kehidupan. Ujian kehidupan itu sangat bervariasi, dan durasinya tergantung jatah hidup masing-masing teritung sejak akil baligh.

Menurut kebanyakan orang, ujian adalah kesusahan, kemalangan, musibah, atau padanan kata yang serupa. Suatu hal yang manusiawi jika kita sering mendengar kesulitan-kesulitan yang dihadapi orang-orang disekitar kita, jikken (eksperimen) tidak kunjung berhasil, makalah ilmiah tidak juga diperiksa oleh professor, atau hal-hal lain yang mengganggu kenyamanan. Namun demikian, jangan sampai ujian-ujian tersebut menjadikan kita lemah.

Kebanyakan manusia dapat lulus ketika menghadapi ujian kesusahan namun sering kali gagal dalam menjalani ujian kesenangan. Seorang sahabat Nabi ﷺ, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, menggambarkan beratnya tantangan dalam menghadapi ujian kesenangan melalui sebuah hadits.

ابْتُلِينَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالضَّرَّاءِ فَصَبَرْنَا ثُمَّ ابْتُلِينَا بِالسَّرَّاءِ بَعْدَهُ فَلَمْ نَصْبِرْ

“Kami diuji dengan kesusahan-kesusahan (ketika) bersama Rasulullah dan kami dapat bersabar, kemudian kami diuji dengan kesenangan-kesenangan setelah beliau wafat, dan kami pun tidak dapat bersabar.” [HR. Tirmidzi; hasan menurut Al-Albani]

Banyak kisah di dalam Al-Qur’an yang dapat kita jadikan pelajaran, seperti kisahnya Qarun yang diabadikan dalam surat Al-Qashash. Seperti nama suratnya, bab ini berisi tentang kisah-kisah yang di antaranya terkait dengan Nabi Musa ‘alayhissalam. Di akhir surat, terdapat kisah menarik tentang seorang dari kaum Nabi Musa yang bernama Qarun. Pada untaian kisah tersebut, Qarun diuji oleh Allah ﷻ dengan nikmat kekayaan, yang bahkan kunci-kunci tempat penyimpanan harta kekayaannya sangat berat hingga sekelompok ajudannya yang kuat dan kekarpun kesulitan untuk memanggulnya. Namun sayangnya nikmat yang dikaruniakan oleh Allah tidak membuat dirinya makin bertakwa, malah menjadikan dirinya sombong dengan menganggap apa-apa yang dimilikinya sekarang adalah karena kepintaran dan kerja kerasnya semata. Alhasil, semua kekayaannya bersama dirinya ditenggelamkan ke dalam perut bumi oleh Allah ﷻ agar dijadikan pelajaran bagi orang-orang sesudahnya yang mau berpikir.

إِنَّ قارونَ كانَ مِن قَومِ موسىٰ فَبَغىٰ عَلَيهِم ۖ وَآتَيناهُ مِنَ الكُنوزِ ما إِنَّ مَفاتِحَهُ لَتَنوءُ بِالعُصبَةِ أُولِي القُوَّةِ إِذ قالَ لَهُ قَومُهُ لا تَفرَح ۖ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الفَرِحينَ {٧٦} وَابتَغِ فيما آتاكَ اللَّهُ الدّارَ الآخِرَةَ ۖ وَلا تَنسَ نَصيبَكَ مِنَ الدُّنيا ۖ وَأَحسِن كَما أَحسَنَ اللَّهُ إِلَيكَ ۖ وَلا تَبغِ الفَسادَ فِي الأَرضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ المُفسِدينَ {٧٧} قالَ إِنَّما أوتيتُهُ عَلىٰ عِلمٍ عِندي ۚ أَوَلَم يَعلَم أَنَّ اللَّهَ قَد أَهلَكَ مِن قَبلِهِ مِنَ القُرونِ مَن هُوَ أَشَدُّ مِنهُ قُوَّةً وَأَكثَرُ جَمعًا ۚ وَلا يُسأَلُ عَن ذُنوبِهِمُ المُجرِمونَ {٧٨} فَخَرَجَ عَلىٰ قَومِهِ في زينَتِهِ ۖ قالَ الَّذينَ يُريدونَ الحَياةَ الدُّنيا يا لَيتَ لَنا مِثلَ ما أوتِيَ قارونُ إِنَّهُ لَذو حَظٍّ عَظيمٍ {٧٩} وَقالَ الَّذينَ أوتُوا العِلمَ وَيلَكُم ثَوابُ اللَّهِ خَيرٌ لِمَن آمَنَ وَعَمِلَ صالِحًا وَلا يُلَقّاها إِلَّا الصّابِرونَ {٨٠} فَخَسَفنا بِهِ وَبِدارِهِ الأَرضَ فَما كانَ لَهُ مِن فِئَةٍ يَنصُرونَهُ مِن دونِ اللَّهِ وَما كانَ مِنَ المُنتَصِرينَ {٨١} وَأَصبَحَ الَّذينَ تَمَنَّوا مَكانَهُ بِالأَمسِ يَقولونَ وَيكَأَنَّ اللَّهَ يَبسُطُ الرِّزقَ لِمَن يَشاءُ مِن عِبادِهِ وَيَقدِرُ ۖ لَولا أَن مَنَّ اللَّهُ عَلَينا لَخَسَفَ بِنا ۖ وَيكَأَنَّهُ لا يُفلِحُ الكافِرونَ {٨٢

“Sesungguhnya Qarun adalah Termasuk kaum Musa, maka ia Berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, ‘Janganlah kamu terlalu bangga; Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri’. Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. Qarun berkata, ‘Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku’. Dan Apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka. Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia, ‘Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; Sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar’. Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu, ‘Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar’. Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. dan Tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya). Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan Qarun itu, berkata, ‘Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang- orang yang mengingkari (nikmat Allah)’.” [QS. Al-Qashash: 76-82]

Semua manusia yang mengaku beriman, akan mendapatkan ujian dari Allah ﷻ.  Kadar ujiannya berbeda-beda antara sesama manusia, bergantung pada kadar keimanan masing-masing. Akan tetapi, Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Allah tidak akan menguji di luar batas kemampuan manusia. Manusia-manusia yang mulia, yaitu para nabi dan rasul adalah kelompok yang mendapatkan ujian yang paling berat, seperti yang yang disampaikan Rasullullah ﷺ menjawab pertanyaan Saad bin Abi Waqash dalam sebuah haditsnya.

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً قَالَ الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ

“Aku (Sa’ad bin Abi Waqash) bertanya: Ya Rasulullah! Siapakah yang paling berat Ujiannya?” Beliau menjawab, “Para Nabi, kemudian orang-orang yang semisalnya, kemudian orang yang semisalnya. Seseorang akan diuji sesuai kadar agamanya. Jika agamanya kuat, maka ujiannya akan bertambah berat. Jika agamanya lemah maka akan …diuji sesuai kadar kekuatan agamanya.” [HR. Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah; Shahih menurut Al-Albani]

Terkait ujian kehidupan orang-orang beriman yang berbanding lurus dengan kadar kekuatan agamanya, hendaknya tidak menjadikan kita enggan meningkatkan kadar keimanan. Karena balasan untuk orang-orang yang lulus ujian juga bergantung pada berat-ringannya ujian yang dihadapi, dan ujian dalam kehidupan adalah tanda cinta Allah pada hamba-hamba terkasih-Nya.

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung dengan besarnya ujian. Sesungguhnya apabila Alloh mencintai suatu kaum, maka Dia mengujinya. Siapa yang ridha dengan ujian itu, maka ia akan mendapatkan keridhoaan-Nya. Siapa yang membenci ujian itu, maka ia akan mendapat kemurkaan-nya. [HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah; Shahih menurut Al-Albani]

Terdapat untaian kalimat yang sangat indah dari Syaikh ‘Aidh Al-Qarni yang sebagiannya sebagai berikut:

Kita bukanlah penduduk asli bumi, asal kita adalah surga
Tempat, dimana orang tua kita, Adam, tinggal pertama kali…
Kita tinggal disini hanya untuk sementara. Untuk mengikuti ujian lalu segera kembali

Maka berusahalah semampumu untuk mengejar kafilah orang-orang shalih, yang akan kembali ke tanah air yang sangat luas, di akhirat sana…
Jangan sia-siakan waktumu di planet kecil ini!

Jadi tidak usah kita bersedih dan berkecil hati, apalagi sampai frustasi ketika urusan dunia tidak sesuai harapan atau angan-angan. Begitupun jangan terlalu bersenang hati dan sombong jika diberi keluasan rejeki seperti Qarun, karena bisa jadi itu adalah ujian bagi kita. Tugas kita hanya berusaha dan lakukan yang terbaik. Hasilnya kita serahkan kepada Penguasa Alam Semesta, Allah ﷻ.

Wallahu A’lam.

Penulis: Muttaqin

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)