Buljum 2015.12.18: Korupsi pada Zaman Rasulullah

Tahukah kita bahwa setiap tanggal 9 Desember diperingati sebagai Hari Anti-korupsi Sedunia atau International Anticorruption Day? Peringatan ini sebagai bentuk tindak lanjut dari mandat United Nations Convention Against Corruption yang di keluarkan pada tanggal 31 Oktober 2003. Tujuannya adalah sebagai kampanye untuk memerangi segala bentuk tindakan dan perilaku korupsi di seluruh dunia. Saat ini, kita bisa melihat sendiri terutama di Indonesia, praktik KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) marak dilakukan oleh pejabat-pejabat pemerintahan, bahkan dilakukan secara terang-terangan tanpa rasa malu. Dalam Islam, terdapat banyak istilah dimulai dari Ghulul (Penggelapan), Risywah (Penyuapan), Ghasab (Mengambil Paksa Hak/Harta Orang Lain), Khianat, Sariqah (Pencurian), Hirabah (Perampokan), Al-Maks (Pungutan Liar), Al-Ikhtilas (Pencopetan), dan Al-Ihtihab (Perampasan). Agama Islam melarang segala praktik korupsi, dan hukumnya adalah haram sesuai dengan aklamasi dan konsensus (ijma’) dari para ulama fiqih. Secara naluriah, kita tentu paham bahwa korupsi adalah perbuatan dosa yang dilaknat oleh Allah ﷻ sebagaimana firman-Nya dalam surat Ali-Imran ayat 161.

وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَن يَغُلَّۚ وَمَن يَغۡلُلۡ يَأۡتِ بِمَا غَلَّ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۚ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفۡسٖ مَّا كَسَبَتۡ وَهُمۡ لَا يُظۡلَمُونَ

“Tidak mungkin seorang nabi berkhianat (dalam urusan harta rampasan perang). Barang siapa yang berkhianat (dalam urusan rampasan perang) maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu; kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.” [QS. Ali Imran: 161]

Namun, sudahkan kita tahu bagaimana awal sejarah korupsi menurut hadits-hadits Nabi Muhammad ﷺ?

Jika menilik sebab diturunkannya surat Ali Imran ayat 161 diatas, menurut sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Jarir yaitu hilangnya sehelai kain wol merah yang diperoleh dari rampasan perang. Setelah dicari, sehelai kain itu tidak ada dalam catatan inventaris harta rampasan perang sehingga ada yang lancang berkata, “Mungkin Rasulullah ﷺ sendiri yang mengambil kain itu untuk dirinya.” Agar tuduhan tersebut tidak menimbulkan keresahan dikalangan umat islam dan membersihkan citra beliau maka turunlah ayat tersebut diatas yang menegaskan bahwa Nabi Muhammad ﷺ tidak mungkin berlaku korupsi dan curang dalam amanah harta publik berupa rampasan perang. Bahkan Nabi mengancam siapapun yang mengkorupsi harta milik negara (ghulul) akan menjadi bara api nantinya di neraka. Menurut At-Tirmidzi sendiri, status hadits ini adalah hasan.

Namun ada ulama yang menyatakan bahwa Surat Ali Imran ayat 116 bukanlah diturunkan untuk menegaskan bahwa Rasulullah ﷺ tidak terlibat dalam praktik korupsi pada perang Badar, melainkan berkaitan dengan peristiwa pada perang Uhud. Muqatil  Ibn  Sulaiman  mengatakan ayat tersebut  turun  menyangkut orang-orang  yang  meminta  ganimah  pada  waktu  Perang  Uhud,  yaitu  pasukan pemanah.  Mereka  meninggalkan  posisi  mereka  dan  mengatakan:  Kami  khawatir Rasulullah  menyatakan:  ‘Barang  siapa  mendapatkan  sesuatu  maka  itu  untuknya,’ sementara  kami  di  sini  hanya  berdiri.  Ketika  Nabi  ﷺ melihat  mereka,  beliau mengatakan: Bukankah aku telah memerintahkan kalian supaya tidak meninggalkan posisi  kalian  sebelum  ada  perintah  dariku?  Mereka  menjawab:  Kami  masih meninggalkan beberapa orang berdiri di sana. Lalu Nabi ﷺ berkata: Atau justru kamu mengira kami melakukan ghulul. Maka Allah menurunkan ayat ini ‘wa ma kana li Nabiyyin an yagull…’ (potongan ayat 116 QS. Ali Imran)

Poin yang perlu ditekankan di sini salah satunya adalah makna ghulul itu sendiri. Dari ungkapan Nabi ﷺ, “Kamu sebenarnya mengira kami melakukan ghulul dan tidak membagikan ghanimah untuk kamu,” terlihat bahwa pengertian ghulul adalah kebijakan pembagian ghanimah yang tidak sebagaimana mestinya, menyimpang dari ketentuan yang ada. Dengan kata lain ghulul (korupsi) dalam konteks ini adalah pembuatan kebijakan yang menyimpang dari yang semestinya.

Selanjutnya, mari kita berpindah ke daerah Khaibar, sebuah perkampungan Yahudi yang ditaklukkan oleh Rasulullah ﷺ pada tahun 6 H. Di sini kita menemukan bentuk korupsi yang nyata, meskipun jumlahnya kecil. Ada dua kasus korupsi di Khaibar yang dilaporkan dalam beberapa kitab hadis. Pertama, peristiwa kematian seorang lelaki yang melakukan korupsi (ghulul) di Khaibar pada waktu penaklukan daerah tersebut, dan kedua, kasus kematian seorang budak bernama Mid‘am yang juga melakukan korupsi mantel dan tali sepatu.

Mari kita simak sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud

“Musaddad telah menyampaikan kepada kami bahwa  seorang  Sahabat Nabi    meninggal  pada  waktu penaklukan Khaibar, maka para Sahabat  melaporkan  hal  itu  kepada  Rasulullah  .  Lalu beliau bersabda: ‘Salatkanlah kawanmu itu.’ Maka berubahlah wajah orang-orang karena sabda tersebut.  Kemudian Rasullah ﷺ bersabda:  ‘Rekanmu itu telah melakukan ghulul dalam perang.’ Maka kamipun memeriksa barang-barangnya, lalu kami temukan  manik-manik  orang  Yahudi  yang  harganya  tidak  mencapai  dua dirham. [HR. Abu Dawud dalam Kitab al-Jihad, Bab fi Ta‘sim al-Gulul]

Secara umum para perawi dalam sanad hadis ini tidak ada yang cacat sehingga haditsnya dapat diterima. Hadits ini merekam sebuah kasus korupsi kecil yang dilakukan oleh salah seorang sahabat yang ikut dalam penaklukan Khaibar. Tidak ada catatan tentang nama orang tersebut. Hanya saja dalam beberapa versi dari hadis bersangkutan
disebutkan bahwa ia berasal dari Bani Asyja‘. Ia melakukan korupsi atas rampasan perang Khaibar dengan jumlah yang tidak mencapi dua dirham — suatu jumlah yang kecil. Mata uang dirham di zaman Nabi ﷺ nilainya sama dengan sepersepuluh dinar. Satu dinar adalah 4,25 gram emas murni. Jadi dua dirham berarti 2 x 0,425 gram emas = 0,85 gram. Apabila dirupiahkan dengan mengasumsikan harga emas per gram adalah Rp. 100.000,-, maka korupsi di Khaibar tersebut hanya sekitar Rp. 85.000,- Periwayatan hadis ini meskipun hanya menyangkut korupsi kecil dimaksudkan untuk menunjukkan beratnya dosa korupsi walaupun jumlah nominalnya kecil.

Cerita kedua adalah korupsi mantel dilakukan oleh Mi‘dam, seorang budak yang mengikuti perjalanan Nabi ﷺ ke Wadi al-Qura beberapa waktu setelah penaklukan Khaibar. Ia terkena tembakan anak panah misterius di Wadi al-Qura ketika hendak menurunkan barang-barang bawaan Rasulullah ﷺ dari untanya sehingga ia meninggal dunia. Para sahabat yang melihat kejadian itu mengatakan ‘Semoga ia masuk syurga.’ Namun Nabi ﷺ menyanggah dan menerangkan bahwa ia pernah melakukan korupsi mantel pada waktu penaklukan Khaibar dan mantel yang dikorupsi itu akan membakarnya di neraka kelak. Korupsi tali sepatu pada waktu penaklukan Khaibar dilakukan oleh salah seorang yang ikut dalam perjalanan ke Wadi Al-Qura tersebut. Identitasnya secara lebih jelas tidak ada informasinya. Ketika mendengar pernyataan Rasulullah ﷺ mengenai mantel yang dikorupsi oleh Mi‘dam dapat menjadi penyebab ia masuk neraka, lelaki itu buru-buru memberikan tali pengikat sepatu yang dikorupsinya pada waktu penaklukan Khaibar kepada Rasulullah ﷺ. Peristiwa ini diungkapkan dalam salah satu Hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitabnya, Shahih Bukhari. (Beirut: Dar Ibn Kasir, 1987, VI: 2466, hadis no. 6329)

“Kami keluar bersama Rasulullah ﷺ pada waktu penaklukan Khaibar. Kami tidak memperoleh rampasan perang berupa emas dan perak. Yang kami peroleh adalah benda tak bergerak, pakaian dan barang-barang, dan seorang lelaki dari Bani ad-Dubaib bernama Rifa‘ah Ibn Zaid menghadiahi Rasulullah seorang budak bernama Mid‘am. Rasulullah berangkat menuju Wadi al-Qura, sehingga ketika ia sampai di Wadi al-Qura itu pada saat Mid‘am menurunkan barang-barang bawaan Rasulullah ﷺ tiba-tiba sebuah panah misterius (mengenai Mid‘am) sehingga menyebabkan ia meninggal. Maka orang-orang (yang melihat) mengatakan: Semoga ia masuk syurga. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Tidak! Demi Tuhan yang diriku berada di tangan-Nya, sesungguhnya mantel yang diambilnya pada waktu penaklukan Khaibar dari rampasan perang yang belum dibagi akan menyulut api neraka yang akan membakarnya. Ketika orang-orang mendengar pernyataan Rasulullah itu, seorang lelaki datang kepada Nabi ﷺ membawa seutas tali sepatu atau dua utas tali sepatu (keraguan dari rawi). Nabi ﷺ lalu mengatakan: Seutas tali sepatu sekalipun akan menjadi api neraka atau dua utas tali sepatu akan menjadi api neraka (seandainya tidak dikembalikan) [HR. Bukhari]

Dari beberapa cerita korupsi yang terjadi di zaman Rasullullah ﷺ, kita dapat mengambil ibrah, atau pelajaran bahwa sekecil apapun perbuatan korupsi, tetaplah merupakan perbuatan dosa bahkan pelakunya dijanjikan oleh Rasulullah dimasukkan ke dalam api neraka. Na’udzubillahi min dzalik. Semoga kita terus dibimbing oleh Allah ﷻ agar terhindar dari perbuatan-perbuatan tercela tersebut.  Di akhir tulisan ini, penulis mengajak para pembaca sekalian untuk sama-sama menghindari perilaku korupsi dimulai dari diri sendiri dan keluarga terdekat. Misalnya selalu bersikap jujur, bertanggung jawab, tidak mengambil hak orang lain ataupun tidak melanggar aturan karena bisa menjadi sebuah kebiasaan. Dan mari kita juga bersama-sama berdo’a agar negara kita segera bersih dari perbuatan korupsi, kolusi dan nepotisme.

Wallahu A’lam.

Penulis: Angga

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)