Buljum 2015.12.25: Berislam Secara Kafah

Mungkin kita sering memerhatikan segelintir dari kaum muslimin. Ada di antara mereka yang ketika diingatkan untuk menjalankan syariat tertentu seperti mendirikan shalat atau mengenakan jilbab (bagi muslimah), mereka enggan melakukannya dan malah menanggapi dengan dalih bahwa penampilan luar itu tidak penting selama hatinya bersih. Kita kemudian dihadapkan pada beberapa contoh saudari muslimah yang berjilbab ataupun saudara muslim yang rajin shalat berjamaah tepat waktu tetapi mereka juga berakhlak buruk, kerap berbohong, bergunjing, temperamen, dan perilaku buruk lainnya.

Namun, tentunya menjadi seorang muslim yang memiliki akhlak baik adalah hal yang sangat penting, seperti pentingnya selalu shalat tepat waktu, berpuasa, membayar zakat, dan ritual ibadah lainnya. Demikian pula mengenakan jilbab bagi seorang muslimah adalah sebuah kewajiban yang perlu dilaksanakan dan disandingkan dengan ketakwaan serta rasa malu dalam hati mereka. Seluruh aspek ini adalah bagian dari agama kita, bagian dari Islam secara utuh. Jangan sampai kita meninggalkan, mengabaikan, atau menunda satu bagian dari Islam (apalagi yang wajib dilakukan) dengan alasan kita sedang berkonsentrasi pada bagian yang lain. Allah ﷻ telah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara kafah, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” [QS. Al-Baqarah: 208]

Kita dapat lihat ayat di atas diawali dengan petikan, “Hai orang-orang yang beriman,” yang berarti Allah ﷻ menujukannya secara khusus kepada kita (jika kita mengaku sebagai orang yang beriman). Setiap ayat yang diawali petikan seperti itu sudah sepatutnya kita renungkan lebih mendalam dan diperhatikan dengan seksama. Khususnya pada Surat Al-Baqarah ayat 208 ini, Allah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk masuk ke dalam Islam secara kafah, yakni secara menyeluruh. Dengan demikian, ayat ini menjadi dalil yang sangat jelas bahwa menjadi “muslim” saja belumlah cukup, tetapi kita harus menjadi “muslim yang kafah”.

Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan kafah? Dalam bahasa Arab, kafah berasal dari kata kaaffatun (كافَّة) yang bisa dimaknai sebagai “keseluruhan tanpa pengecualian” (http://www.almaany.com/ar/dict/ar-en/كافة/). Dalam bahasa Indonesia sendiri, makna utama kafah adalah “sempurna” (sebagai contoh, bisa cek: http://kbbi.web.id/kafah).  Berdasarkan beberapa rujukan tafsir, setidaknya ada dua aspek kafah yang perlu diperhatikan, yakni berislam secara menyeluruh dalam diri pribadi kita dan berislam secara menyeluruh dalam menjalani kehidupan dengan sesama.

Untuk berislam secara kafah dalam diri pribadi kita, ini berarti tangan kita, kaki kita, mata, telinga, hati, pikiran, semuanya haruslah berdasarkan standar-standar perilaku yang telah ditetapkan oleh Allah melalui Al-Quran dan Sunnah Rasul-Nya. Jika kita lihat kembali contoh yang diajukan di awal tulisan ini tentang seorang saudara muslim yang rajin shalat tepat waktu tetapi lisannya kasar, maka perilaku yang tepat darinya adalah bahwa ia harus rajin shalat tepat waktu DAN juga harus berlisan baik. Demikian pula seorang muslimah yang berjilbab selayaknya ia berjilbab dengan benar DAN berhias dengan rasa malu.

Perhatikan kata sambung yang digunakan di sini adalah “DAN”, bukan “ATAU”. Secara logika biasa, kita tahu ada perbedaan makna dalam penggunaan kata “DAN” dengan “ATAU”. Jika disebutkan, “Seorang muslim harus shalat tepat waktu DAN memiliki akhlak yang baik,” tentu ini beda maknanya dengan (contoh saja), “Seorang muslim harus shalat tepat waktu ATAU memiliki akhlak yang baik.”

Selanjutnya, kita perlu berislam secara menyeluruh juga dalam menjalani kehidupan dengan manusia lainnya. Misalnya dalam hal perdagangan, hubungan pertemanan, bahkan politik dan pemerintahan, semuanya harus berlandaskan tuntunan Al-Quran dan As-Sunnah. Sebagai contoh, jika kita orang yang rajin shalat 5 waktu tepat waktu, maka hal itu tidak menjadi alasan untuk tidak profesional dalam bekerja, pun ketika bekerja dengan orang kafir. Kadangkala kita merasa sudah cukup saja menjadi seorang muslim yang taat beribadah, tetapi kemudian “memble” dan tidak berprestasi dalam bidang pekerjaan kita masing-masing sehingga memunculkan “image” muslim itu pemalas dan bodoh. Justru kita harus buktikan sebaliknya, dengan menjadi seorang muslim yang taat beribadah, insya Allah kita dapat pula berprestasi di dunia profesi kita masing-masing tanpa melanggar syariat Islam.

Oleh karena itu, cukup jelas bahwa berislam secara kafah hanya bisa dilakukan dengan menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi apa-apa yang dilarang Allah secara sempurna, tanpa tawar-tawar, tanpa pilih-pilih. Dan dalam Al-Quran sebenarnya sudah disebutkan juga beberapa contoh pelaksanaan Islam yang menyeluruh dalam kehidupan kita. Misalnya, dalam Surat An-Nisa disebutkan,

وَاعْبُدُوا اللَّـهَ وَلَا تُشْرِ‌كُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْ‌بَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ‌ ذِي الْقُرْ‌بَىٰ وَالْجَارِ‌ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّـهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالًا فَخُورً‌ا

“Sembahlah Allah DAN janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. DAN berbuat baiklah kepada dua orang tua, DAN karib-kerabat, DAN anak-anak yatim, DAN orang-orang miskin, DAN tetangga yang dekat DAN tetangga yang jauh, DAN teman sejawat, DAN ibnu sabil DAN hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membangga-banggakan diri.” [QS. An-Nisa: 36]

Perhatikan kembali dalam ayat di atas, kata sambung yang digunakan adalah “DAN”, bukan “ATAU”. Ini berarti kita harus memenuhi semua perintah tersebut secara kafah, dengan sempurna. Islam bukanlah hanya ibadah ritual seperti shalat 5 waktu, puasa, atau haji. Tentu saja ketika kita menjalankan ritual-ritual tersebut kita akan mendapatkan pahala, insya Allah. Tetapi di saat yang bersamaan ketika kita sering menyakiti hati orang, arogan, sombong, merusak lingkungan, dan perilaku buruk lainnya, kita pun akan mendapatkan dosa. Hal yang sama jika ada seseorang (yang mengaku) muslim dan memiliki akhlak yang (tampaknya) baik, tetapi ia tidak shalat, tidak puasa, tentunya ia pun mendapatkan dosa. Bahkan, orang-orang yang mati dalam keadaan kafir ataupun musyrik, meskipun mereka dikenal berakhlak baik semasa di dunia, pastikan saja tempatnya di neraka.

Pada akhirnya, bagi setiap muslim, amalan kita di akhirat nanti akan ditimbang mana yang lebih berat antara amal kebaikan atau keburukan. Allah berfirman dalam Surat Al-Anbiya’,

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا ۖ وَإِن كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْ‌دَلٍ أَتَيْنَا بِهَا ۗ وَكَفَىٰ بِنَا حَاسِبِينَ

Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” [QS. Al-Anbiya’: 47]

Renungkan pula petikan firman Allah dalam Surat Al-Mu’minun,

فَمَن ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَـٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ . وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَـٰئِكَ الَّذِينَ خَسِرُ‌وا أَنفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ

“Barangsiapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang dapat keberuntungan. Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam.” [QS. Al-Mu’minun: 102-103]

Kita berharap dan berdoa pada Allah agar diberikan kemudahan untuk menjalankan Islam secara kafah.

Wallahu A’lam.

Penulis: Ahmad Ridwan

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)