Buljum 2016.1.1: Mengingatkan dari Kekufuran

Perbuatan seperti apakah yang termasuk ke dalam kekufuran? Apakah aqidah yang salah berarti kufur? Seperti apakah aqidah yang benar? Aqidah umat Islam Sunni (ahlussunnah waljamaah) pun sangat luas variasinya. Satu hal yang menyatukan Sunni adalah ijma bahwa Sahabat adalah umat terbaik yang telah membawa Islam dan sunnah Rasulullah ﷺ kepada kita. (Yasir Qadhi)

Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa barangsiapa yang berkata kepada saudaranya “hai kafir”, maka ucapan itu akan mengenai salah seorang dari keduanya. Karena itu kita harus berhati-hati dalam mengkafirkan orang lain.

Dalam surat Al-Kahfi terdapat banyak kisah yang penuh dengan pelajaran bagi kita semua, salah satunya adalah kisah dua orang, dimana salah satunya telah Allah beri kenikmatan dunia berupa dua kebun penuh buah yang dialiri air melimpah.

Dalam kisah ini, si pemilik dua kebun ini berbincang dengan seseorang. Seseorang inilah yang menjadi contoh bagaimana kita bersikap pada orang yang berbuat kufur.

وَكانَ لَهُ ثَمَرٌ فَقالَ لِصاحِبِهِ وَهُوَ يُحاوِرُهُ أَنا أَكثَرُ مِنكَ مالًا وَأَعَزُّ نَفَرًا {٣٤} وَدَخَلَ جَنَّتَهُ وَهُوَ ظالِمٌ لِنَفسِهِ قالَ ما أَظُنُّ أَن تَبيدَ هٰذِهِ أَبَدًا {٣٥} وَما أَظُنُّ السّاعَةَ قائِمَةً وَلَئِن رُدِدتُ إِلىٰ رَبّي لَأَجِدَنَّ خَيرًا مِنها مُنقَلَبًا {٣٦} قالَ لَهُ صاحِبُهُ وَهُوَ يُحاوِرُهُ أَكَفَرتَ بِالَّذي خَلَقَكَ مِن تُرابٍ ثُمَّ مِن نُطفَةٍ ثُمَّ سَوّاكَ رَجُلًا {٣٧} لٰكِنّا هُوَ اللَّهُ رَبّي وَلا أُشرِكُ بِرَبّي أَحَدًا {٣٨} وَلَولا إِذ دَخَلتَ جَنَّتَكَ قُلتَ ما شاءَ اللَّهُ لا قُوَّةَ إِلّا بِاللَّهِ ۚ إِن تَرَنِ أَنا أَقَلَّ مِنكَ مالًا وَوَلَدًا {٣٩} فَعَسىٰ رَبّي أَن يُؤتِيَنِ خَيرًا مِن جَنَّتِكَ وَيُرسِلَ عَلَيها حُسبانًا مِنَ السَّماءِ فَتُصبِحَ صَعيدًا زَلَقًا {٤٠} أَو يُصبِحَ ماؤُها غَورًا فَلَن تَستَطيعَ لَهُ طَلَبًا {٤١

“Dan dia mempunyai kekayaan besar, Maka ia berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika bercakap-cakap dengan dia, ‘Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat.’ (34) Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri (dengan keangkuhan dan kekafirannya); ia berkata, ‘Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, (35) dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik dari pada kebun-kebun itu.’ (36) Kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya, sedang dia bercakap-cakap dengannya, ‘Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna? (37) Tetapi aku (percaya bahwa) Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku. (38) Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu: Maasya Allah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan, (39) maka Mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik dari pada kebunmu (ini); dan Mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu; hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin; (40) atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, Maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi.’ (41)” [QS. Al-Kahfi: 34-41]

Ayat 34 dan 35 terlihat sudah cukup menunjukkan kekufurannya, namun Allah mengisahkan respon kawannya bukan setelah kedua ayat ini, namun setelah ayat 36 dimana dia mengingkari hari kiamat. Mengapa demikian?

Dalam ayat 34  si pemilik kebun merasa lebih baik karena telah memiliki sesuatu yang diinginkan makhluk-makhluk, yakni harta yang melimpah. (Qatadah) Ini menunjukkan sifat sombong, sifat yang jika dimiliki seseorang, maka ia tak akan bisa masuk surga. Namun kesombongan ada dalam hati seseorang dan tidak ada manusia yang dapat mengetahui isi hati orang lain, bahkan Rasulullah ﷺ berkata bahwa beliau tidak diutus untuk membelah dada dan menghakimi apa yang ada dalam hati seseorang. Seorang muslim tidak perlu mencoba menghakimi isi hati seseorang.

Di ayat 35 dia merasa tamannya kekal dan tak akan binasa. Yang bisa berarti bahwa dia memberikan sifat kekal yang hanya berhak disandang oleh Allah. Namun bisa juga menjadi pertanda kelemahan imannya akan kuasa Allah. (Ibnu Katsir) Seorang muslim baiknya berprasangka baik pada orang lain, yang dalam kasus ini menganggap ucapannya hanya karena lemahnya iman.

Di ayat 36 keluarlah pernyataan yang harus dibantah. Yaitu pernyataan ingkar pada hari kiamat. Salah satu rukun iman yang tidak bisa diganggu-gugat.

Setelah itulah mulai ayat 37 sang kawan yang beriman ini menegur kekufurannya. Pada cara menegur ini pun kita dapat ambil pelajaran. Saat menegur kekufurannya sang kawan bertanya, “Apakah kau kafir pada Tuhan yang menciptakan manusia dari tanah?” Teguran dengan cara bertanya, seperti yang dilakukan para hakim, “Apakah anda mengaku bersalah?” sekaligus mengingatkan bahwa makhluk yang diciptakan dari tanah ini tidak berhak sombong dan tidak berhak menuduhkan kesombongan pada sesamanya.

Di ayat 38 sang kawan mengingatkan bahwa Tuhannya adalah Allah dan jangan menyekutukannya (dia memakai dirinya sendiri sebagai contoh tanpa menuduh saudaranya). Dan mulai ayat 39 dia memberi solusi untuk kelemah-iman-annya si pemilik kebun. Yaitu dengan selalu mengingatkan bahwa semua itu dari Allah dan tidak menilai diri sendiri dari harta dunia karena Allah-lah yang mengatur semua itu dan Allah juga yang bisa mencabutnya kapan saja.

Sedangkan akibat dari kekufuran dan penyesalan oleh pelakunya, diceritakan di ayat 42.

وَأُحيطَ بِثَمَرِهِ فَأَصبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيهِ عَلىٰ ما أَنفَقَ فيها وَهِيَ خاوِيَةٌ عَلىٰ عُروشِها وَيَقولُ يا لَيتَني لَم أُشرِك بِرَبّي أَحَدًا

“Dan harta kekayaannya dibinasakan; lalu ia membulak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata, ‘Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.’” [QS. Al-Kahfi: 42]

Dari penyesalan tersebut terlihat bahwa nasihat sang kawan telah menyentuh hatinya. Dari sini pun kita bisa ambil pelajaran bahwa meskipun tidak terlihat sekarang, nasihat bisa jadi baru menyentuh hati setelah beberapa lama.

Demikian beberapa dari banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah tersebut. Di masa ini, umat muslim sudah tersebar ke seluruh penjuru dunia, kita perlu ingat definisi yang Allah berikan mengenai orang-orang yang bersama Rasulullah ﷺ di ayat terakhir surat Fath.

مُحَمَّدٌ رَسولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذينَ مَعَهُ أَشِدّاءُ عَلَى الكُفّارِ رُحَماءُ بَينَهُم

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. …” [QS. Al-Fath: 29]

Dengan belas kasih berupa prasangka baik, nasehat yang tidak menghakimi inilah persatuan umat muslim dapat tercapai. Dan jangan sampai kita menjadi seperti umat-umat terdahulu yang terlihat bersatu namun saling terpecah belah di dalam.

Wallahu A’lam.

Penulis: Adam

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)