Buljum 2016.1.8: Sejarah Ilmuwan Muslim: Al Biruni dan Ibnu Sina, serta Perannya Dalam Astronomi dan Astrologi

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah membahas sedikit mengenai sejarah seorang ilmuwan Muslim zaman dahulu (Muhammad bin Musa Al Khwarizmi). Kali ini, insya Allah saya ingin membahas ilmuwan lain yang berasal dari daerah yang sama, tetapi dari zaman setelahnya, yaitu Abu Rayhan Biruni (ابوریحان بیرونی, biasa ‎‎disebut Al-Biruni, berarti “dari pinggiran kota”, yang dimaksud adalah kota Kats di Khwarazm) dan Abu Ali Al-Husayn bin Abdullah bin Al-Hasan bin Ali bin Sina (biasa disebut Ibnu Sina, keturunan Sina, atau Avicenna oleh ilmuwan-ilmuwan Eropa abad pertengahan).

Al-Biruni lahir sekitar tahun 973 M, sementara Ibnu Sina lahir di 980 M. Keduanya berasal dari daerah yang sekarang termasuk di Negara Uzbekistan; Al-Biruni berasal dari daerah Khwarazm dan Ibnu Sina berasal dari daerah Bukhara. Pada masa mereka lahir, wilayah ini termasuk dalam kekuasaan Kekaisaran Samaniyah yang berbangsa Iran, tetapi beribukota di Asia Tengah – ketika Ibnu Sina lahir, ibukotanya di Bukhara. Pada masa itu, mayoritas Bangsa Iran masih menganut akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, dan mengakui kekhalifan Bani Abbasiyah yang berpusat di Baghdad.

Peta Uzbekistan masa kini, dengan Wilayah Khwarazm (Хоразм вилояти/Xorazm Viloyati) diarsir merah dan Wilayah Bukhara (Бухоро вилояти/Buxoro Viloyati) diarsir hijau

Peta Uzbekistan masa kini, dengan Wilayah Khwarazm (Хоразм вилояти/Xorazm Viloyati) diarsir merah dan Wilayah Bukhara (Бухоро вилояти/Buxoro Viloyati) diarsir hijau (Wikipedia)

Al-Biruni dan Ibnu Sina dikenal sebagai dua di antara ilmuwan terbesar di Zaman Abbasiyah. Akan tetapi, berbeda dengan berbagai ilmuwan di abad sebelumnya, mereka tidak pernah melakukan riset di Baghdad. Sejak zaman dahulu, Bukhara termasuk sebuah pusat ilmu pengetahuan di daerah Asia Tengah – ahli hadits paling terkenal dalam Islam berasal dari daerah ini. Di masa pemerintahan Kekaisaran Samaniyah, posisi Bukhara sebagai pusat ilmu pengetahuan semakin meningkat dan bahkan bisa dibilang menyaingi Baghdad. Ibnu Sina berasal dari Bukhara, sementara Al-Biruni di masa mudanya pun pernah tinggal di Bukhara (sekitar tahun 995 – 998 M) dan menekuni berbagai bidang ilmu. Al-Biruni termasuk ilmuwan terpenting di bidang antropologi. Selain itu, bidang keahlian Al-Biruni mencakup ilmu fiqh, matematika, geodesi, dan lain-lain. Ibnu Sina termasuk ilmuwan terpenting di bidang kedokteran dan filsafat. Selain itu, bidang keahlian Ibnu Sina mencakup Quran-hadits, geografi, dan lain-lain. Ketika Al-Biruni tinggal di Bukhara, dia sering bertukar pikiran dengan Ibnu Sina mengenai berbagai hal. Astronomi termasuk di dalam bidang yang sama-sama ditekuni oleh mereka berdua.

Di bidang astronomi, Al-Biruni menurunkan berbagai rumus matematis yang memungkinkan penggunaan astrolab (peta langit) untuk berbagai keperluan, termasuk di antaranya perhitungan posisi (lintang, bujur dan ketinggian), perhitungan waktu (termasuk waktu sholat), perhitungan arah (termasuk kiblat). Ibnu Sina menunjukkan bahwa bintang-bintang menghasilkan cahaya sendiri dan bukan, sebagaimana bulan, memantulkan cahaya matahari.

Al-Biruni dan Ibnu Sina hidup di zaman yang penuh pergolakan. Salah satu sebab Al-Biruni pindah dari Khwarazm ke Bukhara adalah perang lokal yang terjadi di Khwarazm, yang mengakibatkan Dinasti Afrighiyah yang mengendalikan Khwarazm sejak abad ke-4 digulingkan dinasti Ma’muniyah di tahun 995 M. Sementara, Kekaisaran Samaniyah sendiri sejak tahun 962 M mendapat ancaman dari pemberontak di Ghazni (sekarang termasuk wilayah Afghanistan), dan di tahun 999 M, ibukota Bukhara pun dikuasai.

Penguasa Ghazni, Sultan Mahmud bin Sebuktegin (محمود بن سبکتگین), mengundang berbagai ilmuwan dari berbagai daerah yang ditaklukannya untuk melanjutkan pendalaman ilmu di Ghazni. Al-Biruni menyambut undangan ini, sementara Ibnu Sina menolak dan melanjutkan sisa hidupnya mengembara menuntut dan mengajarkan ilmu ke berbagai tempat di utara Iran.

Berbeda dengan dinasti penguasa Samaniyah yang berbangsa Iran, dinasti penguasa Ghazni berasal dari Bangsa Turk. Meskipun begitu, mereka banyak mengambil kebiasaan Bangsa Iran, termasuk kebiasaan lama Kekaisaran Persia dalam mempelajari astrologi. Penguasa-penguasa Ghazni pun banyak memerintahkan para ilmuwan untuk mempelajari astrologi.

Ilmu ramalan, termasuk astrologi, tentunya dilarang dalam Islam. Di dalam beberapa hadits dikatakan:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, maka shalatnya selama 40 hari tidak diterima.” [HR. Muslim no. 2230]

مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

“Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkannya, maka ia berarti telah kufur pada Al Qur’an yang telah diturunkan pada Muhammad.” [HR. Ahmad no. 9532]

Mengenai ilmu astrologi, sebagai astronom, Ibnu Sina tidak menafikan bahwa ada kemungkinan benda-benda langit memiliki peran terhadap kehidupan di bumi. Tetapi, peran ini sangat sulit diteliti secara ilmiah, dan kemampuan untuk mengaitkan, misalnya, bintang apa memiliki efek cuaca di daerah mana tidak dimiliki manusia saat itu. Di masa modern, astronom bisa melihat bagaimana efek gravitasi planet-planet menyebabkan pergeseran perihelion bumi yang, dalam jangka waktu sangat panjang, bisa mengakibatkan perubahan jadwal musim, tetapi secara umum efek benda-benda langit (selain matahari dan bulan, yang telah dipahami manusia dari zaman prasejarah) sangat kecil.

Sementara itu, Al-Biruni menjadi ilmuwan kenegaraan di Ghazni dan bahkan menulis sebuah buku yang terkenal berjudul “Pengenalan Astrologi (Kitab at-Tafhim lil Awa’il Sina’at at-Tanjim)” dalam Bahasa Arab. Meskipun sepintas ini terlihat sebagai dukungan terhadap astrologi, sejarawan berpendapat bahwa buku ini lebih bersifat sebagai hujatan terselubung terhadap astrologi. Al-Biruni menulis buku ini karena perintah penguasa, tetapi buku ini sebagian besar berisi mengenai pengenalan matematika dan astronomi, dan astrologi hanya menjadi selipan, dengan kurang dari 20% buku ini membahas astrologi. Dalam pembahasan yang pendek itu, Al-Biruni juga sangat hati-hati untuk hanya mengutip apa yang dikatakan para astrolog dan menuliskan itu sebagai kutipan. Di tengah-tengah itu, Al-Biruni juga menjelaskan pendapat pribadinya mengenai astrologi (terjemahan penulis, dari teks terjemahan Bahasa Inggris).

Banyak orang berpendapat bahwa efek dari bintang termasuk dalam ilmu eksak, tetapi keyakinan saya dalam hasil-hasilnya dan para pelakunya sangat lemah. Dan di sini, astrologi melampaui batas-batasnya dan mengatakan hal yang ia tidak bisa memiliki pengetahuan tentangnya, karena ia mencoba mengatakan hal-hal yang terlalu rinci. Karena itu, ia melanggar azas-azas yang telah dijelaskan (mengenai ilmu eksak) dan menjadi sekadar ramalan.

Astronomi dan astrologi adalah dua ilmu tentang mempelajari benda langit. Di masa akhir Kekhalifahan Utsmaniyah hingga awal Kekhalifahan Abbasiyah, ilmu mempelajari benda langit ini masuk secara massal ke dunia Islam terutama dari Yunani, Persia dan India; walaupun dilihat dari hadits, kita bisa melihat ada ahli ilmu-ilmu ini yang tinggal di Arab di zaman Nabi. Perbedaan di antara kedua ilmu ini, astronomi memiliki dasar ilmiah untuk memberi penjelasan mengenai gerakan benda-benda langit (dan, di masa modern, termasuk komposisi, asal-usul, dan berbagai informasi lainnya), sementara astrologi memakai dasar yang tidak ilmiah untuk menjelaskan efek-efek benda langit ini dalam kejadian yang terlalu rinci di bumi, termasuk hal-hal yang merupakan rahasia Allah. Pada awalnya, kedua ilmu ini sulit dipahami perbedaannya, tetapi di masa Al-Biruni dan Ibnu Sina, para astronom mulai berusaha keras untuk berlepas diri dari para astrolog, dan perbedaan antara dua ilmu ini menjadi jelas. Walaupun astrologi termasuk syirik, astronomi, dalam perkataan Al-Biruni, adalah “ilmu yang bermanfaat bagi agama”, karena perannya untuk menghitung waktu sholat, arah kiblat, dan kegunaan-kegunaan lain dalam kehidupan secara umum.

Semoga Allah memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat dan melindungi kita dari yang tidak bermanfaat. Wallahu a’lam bisshowab.

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

“Ya Allah, aku memohon pada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang thoyyib dan amalan yang diterima” [HR. Ibnu Majah no. 925, shahih]

Bahan bacaan:

Penulis: Hafiyan

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)