Buljum 2016.1.15: Menghindarkan Kerusakan dari Muka Bumi

Pada pertengan tahun 2015, bencana kebakaran hutan yang hebat menimpa Indonesia dan menyebabkan berbagai kerugian baik materi maupun non-materi. Dunia mengecam bencana antropogenik (pencemaran yang timbul karena adanya campur tangan manusia) ini yang menewaskan setidaknya 19 jiwa dan menyebabkan lebih dari 500.000 jiwa terkena penyakit ISPA. Selain itu, kebakaran hutan ini menghasilkan konsentrasi gas CO (karbon monoksida) yang sangat tinggi, yaitu sebesar 1.300 ppb (part per billion), sedangkan pada kondisi normal konsentrasi rata-rata CO di Indonesia adalah sebesar 100 ppb.

Sangat disayangkan, sebuah bencana antropogenik besar terjadi di Indonesia yang memiliki penduduk muslim terbesar di dunia. Atsar (jejak) keislaman yang diajarkan oleh agama yang menyeluruh ini untuk tidak berbuat kerusakan, seakan bukan menjadi ruh untuk mengelola karunia Allah ﷻ ini dengan sebaik-baiknya.

Alangkah indahnya agama Islam ini, yang telah mengajarkan manusia untuk tidak berbuat kerusakan di muka bumi. Allah berfirman,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan (maksiat) manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” [QS. Ar-Ruum: 41]

Syaikh al-Utsaimin menyatakan bahwa makna membuat kerusakan di muka bumi ada dua, yaitu (1) berbuat kerusakan secara materi, seperti membakar hutan, menghancurkan rumah, dll; dan (2) berbuat kerusakan secara maknawi yaitu dengan berbuat maksiat atau menciptakan kemaksiatan. Yang kedua ini adalah kerusakan yang paling besar di muka bumi. Imam Asy-Syaukani ketika menafsirkan ayat di atas berkata, “Allah menjelaskan bahwa perbuatan syirik dan maksiat adalah sebab timbulnya (berbagai) kerusakan di alam semesta.”

Allah menamakan orang-orang munafik sebagai orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi karena buruknya perbuatan maksiat yang mereka lakukan dalam menentang Allah dan Rasul-Nya. Allah ﷻ berfirman,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لا تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ، أَلا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لا يَشْعُرُون

Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi,” mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.” [QS. Al-Baqarah: 11-12]

Perhatikanlah pula pesan Rasulullah ﷺ dalam sebuah hadits,

عَنْ أَبِـيْ سَعِيْدٍ سَعْدِ بْنِ مَالِكِ بْنِ سِنَانٍ الْـخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّـى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

Dari Abu Sa’id, Sa’ad bin Sinan Al Khudri radhiyallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak boleh melakukan perbuatan yang memudharatkan, dan tidak boleh membalas kemudharatan dengan cara yang salah.” [HR. Malik dalam al-Muwaththa’ II/571, no. 31]

Islam mengatur tata hubungan manusia dengan Allah, dengan sesamanya, dan dengan lingkungannya. Sehingga Syaikh Hasan Al-Banna menyampaikan, “Maka Islam adalah negara dan tanah air, pemerintahan dan umat, akhlak dan kekuatan, kasih sayang dan keadilan, peradaban dan undang-undang, ilmu dan peradilan, materi dan sumber daya alam, penghasilan dan kekayaan, jihad dan dakwah, pasukan dan pemikiran, sebagaimana juga aqidah yang lurus dan ibadah yang benar, tidak kurang dan tidak lebih.

Kehidupan di Jepang mengajarkan kita untuk menghargai lingkungan dengan sebaik-baiknya. Jelas teringat dalam benak masyarakat Jepang, mimpi buruk akibat kasus Minamata dan Itai-itai yang disebabkan oleh lemahnya pengelolaan lingkungan sektor industri (petrokimia dan tambang). Maka negara ini bangkit dari keterpurukan dan menerapkan standar pengelolaan lingkungan yang sangat ketat. Adapun dalam kehidupan sehari-hari, kita semua mengalami dan menyaksikan kedisiplinan negara dan masyarakat Jepang dalam mengelola sampah rumah tangga, air bersih, air buangan domestik, dan lain-lain.

 Adalah tantangan bagi umat Islam untuk dapat mengimplementasikan nilai-nilai Islam pada setiap sektor kehidupan disertai dengan keimanan pada Allah. Jika setiap anak bangsa memiliki mind set untuk melaksanakan sustainable development (pembangunan yang berkelanjutan) disertai dengan iman, maka niscaya negara ini akan menjadi sebaik-baik negara di akhir zaman. Niscaya anak cucu kita nantinya akan menjadi generasi shalih yang memiliki fisik yang kuat (qowiyyul jism), dapat menghirup udara yang sama (atau bahkan lebih) bersih daripada udara yang kita hirup sekarang, mendapatkan air dengan jumlah yang cukup dan kualitas yang baik, memenuhi kebutuhan pangan dan energi, dan kesejahteraan lainnya yang didambakan setiap negeri.

Mari sejenak berpikir, mengenai bagaimana mengelola hikmah di balik kelimpahan sumber daya alam di Indonesia. Mari menguatkan dan memprioritaskan sektor petanian, kelautan, dan kehutanan sebagai sektor ekonomi fundamental agar dapat menjadi penopang pembangunan di sektor lainnya. Ketahanan energi nasional adalah keniscayaan yang harus diraih dengan menghemat penggunaan sumber daya energi, melakukan intensifikasi pengelolaan sumber daya energi, diversifikasi sumber energi, dan mengembangkan energi baru terbarukan.

Hendaknya setiap muslimin yang sedang menuntut ilmu atau bekerja di sektor pemerintah, swasta, atau masyarakat, mampu mendayagunakan segenap kemampuannya untuk memberikan manfaat bagi lingkungan dan menjauhkan kerusakan di muka bumi.

Bahan bacaan:

Penulis: Arie

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)