Buljum 2016.1.22: Islam, Pembangunan, dan Bencana Akibat Ulah Manusia

Pada kesempatan kali ini, penulis tertarik untuk mengulas salah satu artikel ilmiah dalam sebuah jurnal yang berkaitan dengan tema riset penulis saat ini, yaitu mengenai konsep pembangunan dan kebencanaan. Menariknya, penulis artikel ini meninjau konsep industrialisasi dan bencana, khususnya bencana yang  diakibatkan oleh manusia, dengan konsep Islam. Sementara riset dalam bidang ilmu pembangunan maupun kebencanaan pada umumnya lebih mengacu kepada konsep teknis administratif. Judul asli artikel ini adalah, “Revisiting the Concept of Development, Disaster and Safety Management: The Quranic Perspective”. Paper ini ditulis Azizan Ramli, Mazlin Mokhtar dan Badhrulhisham Abdul Aziz dan diterbitkan di International Journal of Disaster Risk Reduction.

Secara umum bencana dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu bencana alam (natural disaster) dan bencana akibat ulah manusia (man-made disaster). Bencana alam merupakan bencana yang terjadi karena proses alamiah dan merupakan hukum alam. Sedangkan bencana akibat ulah manusia, adalah bencana yang terjadi diakibatkan oleh aktivitas manusia. Dalam artikel ini, didiskusikan berbagai isu terkait bencana yang diakibatkan oleh ulah manusia, khususnya terkait bencana industri dan kebutuhan untuk mengelola isu-isu mengenai manajemen keselamatan dan keamanan bencana dalam perspektif Al-Quran. Bencana yang diakibatkan oleh perbuatan manusia diartikan sebagai bencana yang terjadi diakibatkan oleh proses modernisasi dan industrialisasi sebagai sebagai bagian dari proses pembangunan.

Dalam artikel ini dipaparkan apa yang disebut sebagai tripartite konsep dalam Islam, yaitu Al-Istikhlaf, Al-Ta’awun dan Shura, sebagai konsep dasar dalam manajemen keamanan terhadap bencana yang diakibatkan oleh manusia.

Konsep Al-Istikhlaf

Secara umum konsep Al-Istikhlaf (vicegerent) dapat diartikan sebagai tanggung jawab dan akuntabilitas manusia sebagai wakil dari Allah (khalifah). Allah telah menciptakan manusia sebagai khalifah yang diberikan berbagai tugas dan tanggung jawab, yang pada akhirnya akan ditanyakan dan ditimbang di hari akhir kelak. Sebagai wakil Allah, sudah merupakan tanggung jawab dari umat manusia untuk menegakkan konsep keadilan untuk semua.

Dalam konteks manajemen keamanan, setiap individu, khususnya para pimpinan harus memahami konsep trust (amanah). Sebagai pimpinan dari setiap organisasi, atau dalam sebuah perusahaan, hal tersebut seharusnya dipandang sebagai sebuah amanah, bukanlah sebuah posisi yang harus dibanggakan. Setiap individu, khususnya seorang pimpinan, harus memastikan bahwa dia tidak menjadi penyebab bahaya bagi orang lain dan lingkungannya. Ini berarti suatu aksi yang secara sengaja menyebabkan bencana, polusi atau dampak negatif lainnya adalah dosa yang harus dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.

Konsep Bekerjasama untuk Kebaikan (Al-Ta’awun)

Islam mengajarkan agar kita senantiasa dapat bekerjasama dalam kebaikan dan ketakwaan, namun jangan bekerjasama dalam dosa dan keburukan. Konsep untuk bekerjasama dalam kebaikan merupakan konsep yang sangat penting untuk manajemen keamanan. Harus ditekankan bahwa konsep Al-Ta’awun dalam Islam sangatlah berbeda dengan konsep bekerjasama dalam sekularisme. Konsep ta’awun dalam Islam berhubungan dengan religiusitas dan merupakan salah satu aspek yang akan dijadikan sebagai bahan penilaian pada hari pembahasan kelak. Kerja sama dalam manajemen keselamatan penting untuk memenuhi tuntutan kebutuhan Ilahi, dan ini berarti peran khalifah untuk menghilangkan atau meminimalkan dampak terhadap pekerja, komunitas dan lingkungan. Seluruh pihak harus bekerjasama dalam mewujudkan manajemen keamanan bencana  yang efektif dan optimal.

Konsep Musyawarah (Syura)

Musyawarah (Syura) sangat penting untuk dilakukan untuk mendapatkan masukan dari berbagai pihak. Sukses atau tidaknya manajemen keamanan/keselamatan membutuhkan konsensus untuk menghindari konflik di kemudian hari. Keterlibatan seluruh pemilik kepentingan, seperti karyawan, teknisi professional, komunitas, pengambil kebijakan, serta institusi lain yang relevan, sangat direkomendasikan dalam Islam. Prinsip integritas, transparansi dan kejujuran dalam manajemen keamanan dijunjung tinggi sebagai upaya untuk mensukseskan sebuah sistem, dan yang paling penting adalah upaya untuk mendapatkan Ridho Allah.

Manajemen Bencana sebagai Bagian Sistem Islam  

Artikel ini telah memberikan perspektif yang menarik mengenai manajemen bencana khususnya yang diakibatkan oleh ulah manusia. Pembangunan dan modernisasi yang identik dengan transformasi ekonomi melalui industrialisasi telah mengubah kondisi sosial ekonomi dari berbagai segi. Meskipun banyak memberikan keuntungan, dampak negatif dari perkembangan teknologi, khususnya terkait dengan keamanan dan kesehatan pekerja serta masyarakat harus menjadi prioritas utama. Manajemen keamanan dan keselamatan bencana merupakan bagian dari sub-sistem dalam kerangka yang lebih besar; sistem Islam. Ini karena Islam bukan hanya ritual, namun juga merupakan sebuah tata cara kehidupan yang komprehensif. Oleh karena itu sangat penting untuk meninjau manajemen keamanan dalam sebuah industri sebagai bagian dari kewajiban agama dan tidak hanya sebagai sebuah kewajiban administratif.

Wallahu A’lam.

Bahan bacaan:

Penulis: Oscar

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)