Buljum 2016.2.5: Memaknai Waktu

وَالعَصرِ إِنَّ الإِنسانَ لَفي خُسرٍ إِلَّا الَّذينَ آمَنوا وَعَمِلُوا الصّالِحاتِ وَتَواصَوا بِالحَقِّ وَتَواصَوا بِالصَّبرِ

“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keadaan merugi (celaka), kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.” [QS. Al-‘Ashr: 1-3]

Dalam Islam, konsep waktu memiliki tempat yang khusus untuk senantiasa menjadi perhatian kita. Waktu itu sendiri ada yang disebut masa lalu atau sesuatu yang sudah lampau yang kemudian disebut kenangan atau sejarah yang sifatnya semakin berjarak dengan kehidupan kita. Kemudian waktu sekarang atau masa kini adalah kumpulan detik demi detik yang kita jalani dengan kehadiran mental dan fisik, yang tentu saja dapat pula kita melakoninya dengan beragam perasaan yang berupa senang, susah, sedih, bahagia dan sebagainya. Waktu juga dapat berarti masa depan, yaitu sesuatu yang akan kita hadapi di masa yang akan datang, yang mungkin kita memiliki keterbatasan dalam hal menjangkau dan meramalkannya karena dua hal, yaitu: keterbatasan pengetahuan kita dan umur kita yang singkat karena harus berakhir pada waktu yang disebut kematian. Ini adalah hal-hal mendasar yang membantu kita dalam memahami waktu.

Islam mengajarkan agar kita menarik setiap benang pemahaman pada 3 konsep dasar waktu ini, agar senantiasa terhubung dengan kesadaran akan makna waktu, supaya kesempatan hidup yang diberikan selama di dunia dapat lebih optimal. Waktu yang disebut masa lalu atau sejarah member pelajaran supaya kita menoleh sejenak ke belakang, agar kita mampu untuk dapat mengambil banyak hikmah atau pelajaran atas setiap kejadian di masa lalu. Di dalam Al-Quran banyak kisah-kisah umat terdahulu yang ditutup dengan pesan, bahwa kita diharapkan mendapatkan pelajaran darinya.

قَد خَلَت مِن قَبلِكُم سُنَنٌ فَسيروا فِي الأَرضِ فَانظُروا كَيفَ كانَ عاقِبَةُ المُكَذِّبينَ

“Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah, karena itu berjalanlah di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” [QS. Ali Imran: 137]

Dalam Al-Quran juga dituliskan mengenai masa depan, yang menggambarkan kehidupan yang lebih abadi, atau keadaan di mana semua amalan dan kisah hidup kita selama di dunia ditimbang dan dihitung, untuk selanjutnya diberikan balasan atau ganjaran atas apa-apa yang kita kerjakan selama hidup di dunia.

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلتَنظُر نَفسٌ ما قَدَّمَت لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبيرٌ بِما تَعمَلونَ

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yag telah diperbuatnya untuk hari esok.” [QS. Al-Hasyr: 18]

Dan di antara kedua masa tersebut, kita sedang menjalani dan mengumpulkan semua kesempatan dalam hitungan detik, yang tentu saja berkejaran dengan waktu  untuk menuju satu titik yang disebut kematian. Allah berfirman:

الَّذي خَلَقَ المَوتَ وَالحَياةَ لِيَبلُوَكُم أَيُّكُم أَحسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ العَزيزُ الغَفورُ

“Yang menciptakan mati dan hidup supaya Dia mengujimu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” [QS. Al-Mulk: 2]

Kehidupan di dunia adalah untuk melihat siapa yang lebih baik amal-amalnya. Kebanyakan di antara kita dalam memahami ayat ini hanya sebatas pada pemahaman ibadah mahdah saja, semisal shalat, puasa, dan sebagainya. Padahal di dalam ayat ini terkandung makna yang kuat agar kita dapat memahami esensi waktu, yakni bahwa kita hanya memiliki waktu yang sangat sempit untuk melakukan banyak hal. Dalam salah satu hadits Rasulullah ﷺ menyebutkan,

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. [HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hasan menurut Al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no. 3289]

Kita memiliki waktu yang terbatas untuk hidup di dunia ini agar dapat menghasilkan karya-karya terbaik kita untuk umat manusia. Tidak hanya manusia, bahkan ajaran Islam memacu kita untuk menjadi bagian dari pintu-pintu rahmat untuk seluruh alam. Oleh karena itu sangat disayangkan jika ternyata waktu yang terbuang dengan sia-sia lebih mendominasi hidup kita dibandingkan dengan waktu yang kita habiskan untuk hal yang bermanfaat untuk pribadi maupun alam semesta.

Salah satu indikator efesiennya kita dalam memaknai waktu adalah melalui anak-anak karya-karya kita. Para ulama dan ilmuan menyadari betul dengan hakikat waktu dengan bersungguh-sungguh dalam memanfaatkan setiap waktu agar ia sampai pada puncak karya yang dengan itu membuatnya menjadi langgeng bahkan dapat “abadi”. Pikiran saya menjadi teringat pada sebuah pesan bahwa usia kita memang sangat terbatas untuk sampai pada masa depan dengan segala perubahan dan dinamika yang ada. Saat kematian menjemput kita maka saat itulah seakan kita tutup buku atas apa yang kemudian berlangsung dalam kehidupan selanjutnya. Nama kita tidak lebih pada apa yang tertulis dibatu nisan untuk kemudian dilupakan.

Salah satu upaya agar kita tetap “abadi” adalah dengan meninggalkan anak-anak jiwa lainnya, berupa karya yang senantiasa akan dikenang seiring berjalannya waktu. Dalam konteks ini Rasulullah ﷺ menyebutnya “amal jariyah”. Islam memahami bahwa prinsip keberlanjutan adalah hal yang penting dalam menghubungkan masa lalu, sekarang bahkan pada kehidupan berikutnya. Bersungguh-sungguh dalam waktu, berarti pula memahami detail dalam menyempurnakan karya kita agar terpastikan terhubung dengan kemanfaatannya, merajut semua upaya dengan memperhatiakan setiap bagiannya. Tapi tentu saja itu semua berpulang kepada kita. Apakah kita mau mengambil kesempatan ini untuk melahirkan anak-anak jiwa ini, yang akan memberikan kontribusi ke-“abadi”-an kita di dunia yang terbatas ini. Salah satu yang paling efektif dalam memperpanjang usia kita adalah dengan berkarya, lalu catatlah karya itu dengan menuliskannya.

Wallahu A’lam.

Penulis: Alfi

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)