Buljum 2016.2.12: Membina Diri Sendiri di Manapun Berada

Ada sebuah fragmen menarik dalam kisah kehidupan Rasulullah ﷺ. Hal ini terjadi setelah umat Islam dengan gilang gemilang meluluhlantakkan benteng Yahudi Khaibar yang merupakan ancaman bagi umat Islam saat itu dalam keterlibatan mereka pada pendanaan perang Khandaq. Ketika itu sepupu Rasulullah ﷺ—Ja’far bin Abi Thalib—bersama sekelompok sahabat kembali dari hijrahnya—ke negeri Habasyah—ke tengah-tengah masyarakat kaum muslimin di Madinah. Ketika itu Rasulullah ﷺ bersabda, “Aku bingung apa yang membuat senang diriku, apakah karena menangnya kita di Khaibar ataukah kembalinya kaum muslimin dari Habasyah.”

Ada dua hal yang membuat Rasulullah ﷺ bahagia pada saat itu, yaitu kemenangan kaum muslimin di Khaibar dan kembalinya kaum muslimin dari Habasyah. Dua hal tersebut sangat membahagiakan beliau hingga beliau pun tak tahu mana yang lebih membahagiakan. Jika kita perhatikan dengan seksama, betapa kembalinya kaum muslimin dari Habasyah, tentunya dengan kondisi keimanan yang baik, sama istimewanya dengan kemenangan kaum muslimin dalam perang Khaibar di mata Rasulullah ﷺ.

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقاتِهِ وَلا تَموتُنَّ إِلّا وَأَنتُم مُسلِمونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. [QS. Ali Imran: 102]

Hidup jauh dari negeri kaum muslimin merupakan sebuah hal yang berat bagi keimanan kita. Tentunya banyak hal yang tidak ideal bagi kehidupan dan keimanan kita jika dibandingkan dengan kehidupan di tengah-tengah kaum muslimin. Sulitnya kita beribadah, sulitnya mencari makanan halal, hingga mungkin di sebagian tempat mengalami diskriminasi dari penduduk setempat. Namun perhatikan fragmen kisah Rasulullah ﷺ di atas. Jika kita berhasil bertahan dengan kondisi tersebut, bahkan bertambah keimanan kita, maka itu merupakan sesuatu yang istimewa di mata Rasulullah ﷺ sebagaimana kisah kaum muslimin yang kembali dari Habasyah.

Bertahan tetap muslim hingga akhir hayat merupakan kewajiban bagi kita setelah sampai kabar kebenaran itu pada kita. Sehingga betapapun beratnya kondisi, kita harus terus bertahan dalam keIslaman kita. Dalam hal ini penting bagi kita untuk terus menjaga dan membina diri kita dimanapun kita berada. Hal ini juga didasarkan bahwa nantinya kita akan dihisab secara individual sehingga penting bagi kita untuk senantiasa memperhatikan pembinaan diri kita pribadi. Hal-hal yang penting untuk diperhatikan dalam pembinaan diri sendiri tersebut antara lain.

Muhasabah. Muhasabah adalah sebuah faktor penting dalam kaitannya dengan pembinaan diri kita pribadi. Dengan muhasabah kita mengevaluasi diri kita, apa yang sudah kita lakukan hari ini, apakah bertambah ketakwaan kita pada Allah, maksiat apa yang telah kita lakukan hari ini, dan sebagainya. Muhasabah dapat membuat kita sadar dan memunculkan dorongan untuk memperbaiki diri kita. Luput dalam muhasabah dapat membuat kita lupa akan akhirat dan tenggelam dalam aktivitas duniawi semata.

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلتَنظُر نَفسٌ ما قَدَّمَت لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبيرٌ بِما تَعمَلونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” [QS. Al-Hasyr: 18]

Mencari ilmu dan memperluas wawasan. Dalam pembinaan diri, penting untuk senantiasa mencari ilmu dan memperluas wawasan. Dengan ilmu kita akan jauh dari kesesatan dan menjadi pribadi yang lebih berhati-hati dalam menjalani segala aktivitas kita sehari-hari. Ilmu tersebut dapat kita temui dalam majelis-majelis ilmu, membaca buku, dan juga berdiskusi dengan orang-orang saleh.

Mengerjakan amalan-amalan iman. Penting untuk kita memerhatikan ibadah-ibadah kita, utamanya ibadah yang wajib. Karena itu akan menjaga kita dalam kehidupan ini. Di samping itu tentunya perlu ditambah dengan ibadah sunnah andalan masing-masing. Mungkin ada yang lebih mudah berpuasa, sholat tahajud, dan lainnya itu dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing pribadi. Di samping itu salah satu amalan iman yang penting adalah dzikir pada Allah ﷻ. Berdzikir di pagi dan petang dengan secara rutin dapat mengokohkan sisi spiritual kita dan menjaga kita untuk tetap bertahan dalam keislaman kita.

Terlibat dalam aktivitas dakwah. Dan satu hal yang tak kalah penting adalah dengan terlibat dalam aktivitas dakwah dimanapun kita berada. Dengan kita berdakwah di setiap kesempatan, secara tidak langsung kita terus mengingatkan diri kita untuk terus dan terus menjadi pribadi yang lebih baik lagi atau setidaknya mengamalkan apa yang kita sampaikan. Kita adalah duta Islam dimanapun kita berada. Karena itulah maka dimanapun kita berada hendaknya kita terlibat dalam segala aktivitas dakwah dan menumbuhsuburkan syiar Islam di seluruh pelosok dunia.

قُل هٰذِهِ سَبيلي أَدعو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلىٰ بَصيرَةٍ أَنا وَمَنِ اتَّبَعَني ۖ وَسُبحانَ اللَّهِ وَما أَنا مِنَ المُشرِكينَ

“Katakan, ‘Inilah jalanku. Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada Allah dengan hujjah yang nyata’.” [QS. Yusuf: 108]

Wallahu A’lam.

Penulis: Indianto

Bookmark the permalink.

3 Comments

  1. Articles like this really grease the shafts of knlowedge.

  2. Hey Anand..Dude..glad to see beautiful comments flowing..You deserve it A request..I missed Nagkiran’s recital function yesterday evening(15th) which was followed by Mangalore’s own Pt.Upendra Bhat’s recital..Would be grt if you could upload it on your YT Channel…thx

  3. If religion is evolving, who are they worshipping? My point is that the only true God is eternally unchanged. We creatures can increase in our understanding of God’s revelation, but He doesn’t change.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)