Buljum 2016.2.19: Mari Berkumpul di Sana

Bagaimana perasaan kita jika ada teman yang mengundang kita untuk berkumpul bersama menikmati berbagai hidangan lezat yang telah disiapkannya? Bukankah senyum paling merekah yang akan kita berikan pada teman kita itu beserta jawaban yang mantap, ”OK, ikut dong!” Jarang sepertinya ada yang merasa kesal atau jengkel ketika diundang untuk makan. Sekarang bagaimana jika teman kita mengundang kita berkumpul bukan untuk makan bersama, tapi untuk mendengarkan kajian ilmu syar’i yang disampaikan oleh seorang ustadz? Apakah kita akan merasa senang juga? Apakah senyuman merekah itu akan terkembang juga di wajah kita? Semoga kita bisa juga menjawab dengan mantap, “OK, insya Allah saya ikut!” Tapi, kasus yang kedua ini mungkin lebih beragam jawabannya dibandingkan dengan kasus yang pertama. Mungkin yang lebih sering kita rasakan adalah adanya perasaan malas, tidak peduli atau mungkin kesal karena saat itu justru kita sedang ingin jalan-jalan atau refreshing setelah penat di sekolah atau di tempat kerja.

Saudara-saudariku yang kucintai karena Allah, tidak ada yang salah ketika kita merasa senang diajak berkumpul untuk makan, itu fitrah kita sebagai manusia yang memang butuh makan, apalagi jika Allah memberikan kemudahan pada kita untuk mendapatkannya tanpa harus keluar tenaga dan harta. Namun, yang bisa menjadi masalah adalah, ketika kita diajak berkumpul untuk menikmati “santapan rohani” dalam sebuah majelis ilmu syar’i, rasa yang sering muncul di hati kita adalah rasa malas atau enggan. Mungkin ada kalanya kita merasa senang dengan “ajakan bermajelis ilmu” tersebut ketika kita memang sedang merasa sangat suntuk, stress, banyak masalah, dan “lagi butuh pencerahan”. Alhamdulillah jika masih seperti ini, setidaknya ini menjadi tanda bahwa hati kita masih bisa mendeteksi dzikrullah sebagai penentram segala keresahan.

الَّذينَ آمَنوا وَتَطمَئِنُّ قُلوبُهُم بِذِكرِ اللَّهِ ۗ أَلا بِذِكرِ اللَّهِ تَطمَئِنُّ القُلوبُ

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. [QS. Ar-Ra’d: 28]

Akan tetapi, apakah cukup menghadiri majelis ilmu hanya ketika itu saja? Apakah kita butuh pencerahan hanya sesekali saja? Betapa banyak keutamaan majelis ilmu sehingga kita tidaklah hanya membutuhkannya sesekali saja, namun kita membutuhkannya sampai Allah mengirimkan Malaikat Maut untuk memutus hubungan kita dengan dunia ini. Saudara-saudariku, ingatlah bahwa kita adalah hamba Allah. Hamba Allah adalah gelar tertinggi bagi seorang manusia, bukan profesor, doktor, presiden, atau jenderal. Bahkan Nabi kita Nabi Muhammad ﷺ sering disebut dalam Al-Quran sebagai ‘Abduhu (hamba-Nya). Dan sebagai seorang hamba-Nya, kita ditugaskan untuk melakukan satu hal di bumi ini:

وَما خَلَقتُ الجِنَّ وَالإِنسَ إِلّا لِيَعبُدونِ

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku [QS. Adz-Dzariyat: 56]

Satu tugas, yaitu beribadah kepada-Nya. Satu tugas, yang bagaimana kita akan menjalankannya jika kita tidak tahu caranya? Apakah kita akan menjalankannya dengan asal-asalan, hanya ikut-ikut kata orang, kata mbah saya, kata kakek saya? Bukankah kita butuh ilmu untuk bisa menjalankan tugas itu dengan sebaik-baiknya sesuai dengan yang Allah tetapkan? Dan wahai saudara-saudariku, ilmu itu ada di sana, dibagikan di sana, di majelis ilmu syar’i. Tentunya adalah majelis yang pembagi ilmunya adalah para ahlinya, mereka yang telah Allah berikan kelebihan dan kemudahan untuk mencurahkan tenaga, waktu bahkan harta untuk mempelajarinya, seorang ahli ilmu yang amanah yang bisa mempertanggungjawabkan keshahihan ilmu yang disampaikannya.

Mari, kita sama-sama berkumpul di sana, di sana yang disebut sebagai taman-taman surga. Di sana yang ada para malaikat yang akan menaunginya sehingga turunlah ketenangan ke dalam hati kita. Rasulullah ﷺ bersabda:

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ

Tidaklah suatu kaum berkumpul di satu rumah Allah, mereka membacakan kitabullah dan mempelajarinya, kecuali turun kepada mereka ketenangan, dan rahmat menyelimuti mereka, para malaikat mengelilingi mereka dan Allah memuji mereka di hadapan makhluk yang ada didekatnya. Barangsiapa yang kurang amalannya, maka nasabnya tidak mengangkatnya.” [HR. Muslim, dalam Shahihnya, Kitab Adz Dzikir Wad Du’a, Bab Fadhlul Ijtima’ ‘Ala Tilawatil Qur’an Wa ‘Ala Dzikr, no. 6793, juz 17/23]

Di sana yang kita bisa duduk bersama-sama dengan teman-teman yang juga senantiasa menginginkan kebaikan sehingga kita juga ikut termotivasi untuk berusaha terus ada dalam kebaikan. Di sana, yang semoga dengan kita istiqamah berada di sana, Allah akan memudahkan kita memasuki surga-Nya seperti yang Rasulullah ﷺ sebutkan dalam sebuah hadits :

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًـا ، سَهَّـلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَـى الْـجَنَّةِ

Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan untuknya jalan menuju surga. [HR. Muslim no. 2699 dan dari lainnya]

Tidakkah kita ingin lulus sebagai hamba Allah di hari pertanggungjawaban nanti? Kita serius belajar demi lulus ujian sekolah sejak dari sekolah dasar sampai kuliah. Bahkan, kita bisa bersabar, bertahan, kadang memaksakan diri untuk ‘berlama-lama’ berada di lab/kampus demi mendapatkan kata ‘LULUS’ di selembar ijazah kita. Lalu, mengapa untuk “lulus sebagai hamba-Nya”, kita tidak berusaha sekuat itu, berusaha sesabar itu datang dan duduk di majelis ilmu, majelis yang di dalamnya-lah berisi petunjuk-petunjuk bagi kita dalam menghadapi ujian setelah kematian?

Seringkali kita kalah dengan rasa malas atau bosan ketika ada dalam majelis ilmu, apalagi jika sang ahli ilmu kurang menarik menurut pandangan kita atau kita bosan dengan pembahasan yang menurut kita itu-itu saja karena kita merasa sudah paham ilmunya. Jika demikian, apakah itu artinya kita sudah merasa yakin ilmu yang kita punya sebagai bekal menjalankan ibadah kepada-Nya sudah cukup dan sesuai dengan yang diperintahkan-Nya? Hati-hati saudaraku, patut kita waspadai, rasa-rasa seperti itu hanyalah tipu daya yang dihembuskan setan agar kita semakin jauh dengan majelis ilmu. Padahal, semakin kita mempelajari ilmu dien ini, semakin akan kita temukan betapa banyaknya perkara-perkara agama yang belum kita ketahui, kita akan semakin takut, apakah ibadah kita selama ini diterima, sehingga kita akan terus berusaha menuntut ilmu agar bisa memperbagus amal ibadah kita.

Semoga Allah memudahkan kita untuk senantiasa menghadiri majelis ilmu yang shahih, memberikan kita hidayah untuk terus merasa rindu ada di sana dan menuntut ilmu di dalamnya, membiasakan diri bertanya pada ahli ilmu ketika ada perkara yang tidak kita pahami, berkumpul dengan teman-teman yang senantiasa mengajak pada kebaikan, yang senantiasa mengingatkan akan dzikrullah, sehingga kelak kita dikumpulkannya juga bersama di dalam surga-Nya.

اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah, tolonglah aku dalam berdzikir, bersyukur dan beribadah yang baik pada-Mu.” [HR. Abu Daud dan Ahmad, shahih]

Wallahu A’lam.

Penulis: Alfian et al

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)