Buljum 2016.2.26: Islam, Cinta Tanah Air dan Nasionalisme

Secara umum, nasionalisme dapat diartikan sebagai suatu semangat kebersamaan yang didominasi karena adanya kesamaan latar belakang geografis dan budaya. Konsep nasionalisme muncul di negara-negara barat sekitar abad ke-18 sebagai respon atas kebutuhan identitas sebuah negara, khususnya sebagai sebuah kesatuan geografis yang mencakup wilayah-wilayah tertentu.

Secara teoretis, nasionalisme tumbuh dan berkembang disebabkan oleh adanya fenomena yang mengancam keberlangsungan sebuah kelompok masyarakat atau negara dalam sebuah wilayah geografis tertentu. Sebagian yang lain menganggap bahwa nasionalisme merupakan kondisi yang sebenarnya telah ada dan terjadi sejak lama, karena nasionalisme merupakan kecenderungan manusia untuk berkumpul dengan didasarkan pada kesamaan tempat kelahiran.

Dalam buku Majmu’ah al-Rasail, kumpulan risalah dakwah Hasan Al Banna, terdapat beberapa pemikiran mengenai nasionalisme dan cinta tanah air yang dapat dijadikan sebagai rujukan dalam memahami konsep tersebut dalam perspektif islam. Nasionalisme, sebagaimana “-isme” (paham) lainnya, tentu juga ada dalam konsep islam. Namun, pemahaman nasionalisme dalam konteks islam tidaklah sama dengan pemahaman nasionalisme secara umum, khususnya konsep nasionalisme “barat”.

Islam, Cinta Tanah Air dan Nasionalisme

Apabila nasionalisme diartikan sebagai paham cinta tanah air dan tanah kelahiran, islam memandang bahwa nasionalisme dalam perspektif ini merupakan sebuah fitrah dan sifat dasar manusia. Bahkan islam justru menganjurkan paham nasionalisme dalam kontens cinta tanah air dan tanah kelahiran ini. Diceritakan bahwa sahabat Rasulullah ﷺ, Bilal bin Rabah, yang telah mengorbankan banyak hal dalam kehidupannya demi akidahnya, adalah Bilal yang juga menyenandungkan bait-bait puisi kerinduan yang tulus terhadap tanah kelahirannya. Bahkan Rasulullah ﷺ sempat mencucurkan air mata dan menampakkan kerinduan yang amat mendalam ketika mendengarkan sajak tentang Makkah dari para sahabat. Ini menunjukkan kerinduan Rasulullah ﷺ ketika hijrah dan tidak sedang berada di Makkah.

Di sisi lain, islam juga memandang nasionalisme sebagai upaya untuk memperkuat ikatan dan saling menghormati antara anggota masyarakat. Nasionalisme sebagai upaya untuk menciptakan suasana yang harmonis, tenggang rasa, saling mengasihi dan bekerja sama untuk mencapai kemasalahatan umum, yang juga merupakan ajaran pokok Islam. Sabda Rasulullah ﷺ untuk mendorong hamba-hamba Allah agar saling memperkuat rasa dan tali persaudaraan:

لاَتَبَاغَضُوْا وَلاَ تَحَاسَدُوْا وَلاَ تَدَابَرُوْا وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَاناً

“Janganlah kalian saling membenci, saling mendengki dan saling membelakangi. Jadilah kalian sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara.” [Muttafaq ‘Alaih]

Oleh karena itu, Islam melarang bentuk nasionalisme yang didasarkan hanya kepada pengelompokan atas dasar fanatisme sempit. Islam merupakan sebuah agama universal dan merupakan rahmat bagi seluruh alam.

Islam juga memandang nasionalisme sebagai sebuah jalan untuk membebaskan tanah air dari cengkraman imperialisme dan menanamkan makna kehormatan (izzah) serta mewajibkan kita untuk melawan segala bentuk penjajahan. Oleh karena itu tidak sepatutnya, kita sebagai muslim menjadi acuh terhadap persoalan-persoalan yang terjadi di negeri yang penduduknya mayoritas muslim. Apalagi jika persoalan-persoalan tersebut terjadi karena imperialisme dan penjajahan, dalam bentuk apapun.

Titik Perbedaan

Titik perbedaan yang jelas antara pandangan nasionalisme dalam perspektif islam dan dalam perspektif umum adalah mengenai batasan nasionalisme. Batasan “nasionalisme” dalam perspetif umum hanya ditentukan oleh batas-batas geografis, kesukuan dan budaya. Memang terdapat konsep nasionalime religius (religious nationalism), namun konsep ini masih berada dalam lingkup suatu kesatuan entitas, seperti misalnya negara, dimana agama, keyakinan, dan dogma dapat berkontribusi kepada negara.

Sementara itu, nasionalisme dalam pandangan islam tidak hanya ditentukan oleh batasan-batasan geografis atau kesukuan dan budaya. Dalam konsep islam, setiap jengkal tanah di bumi ini, di mana di atasnya ada seorang muslim yang mengucapkan “Laa Ilaaha Illallah”, maka itulah tanah airnya. Semua muslim, tidak dibatasi oleh wilayah geografis dan kesukuan apapun, adalah saudara dan keluarga bagi muslim yang lainnya; turut merasakan apa yang mereka rasakan dan ikut memperjuangkan kepentingan kepentingan mereka.

Islam telah memiliki pandangan dan dasar dalam berbagai aspek kehidupan, salah satunya adalah bagaimana memandang cinta tanah air dan nasionalisme. Pemahaman mengenai konsep dasar nasionalisme dalam perspektif islam berbeda dengan pandangan nasionalisme umum, khususnya dalam hal batasan dari nasionalisme itu sendiri. Sebagai seorang muslim, sudah selayaknya kita semua menjadikan dan meletakkan konsep nasionalisme dan cinta tanah air dalam bingkai keislaman.

Wallahu A’lam.

Bahan bacaan:

  • Hasan Al-Banna, Majmu’ah al-Rasa’il

Penulis: Oscar

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)