Buljum 2016.3.11: Mungkin Itu Lebih Baik Bagi Kita

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Quran,

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْ‌هٌ لَّكُمْ وَعَسَىٰ أَن تَكْرَ‌هُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ‌ لَّكُمْ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ‌ لَّكُمْ وَاللَّـهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah Mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” [QS. Al-Baqarah: 216]

فَإِن كَرِ‌هْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَن تَكْرَ‌هُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّـهُ فِيهِ خَيْرً‌ا كَثِيرً‌ا

“Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” [QS. An-Nisaa: 19]

Dari dua ayat ini, kita bisa pahami bahwa barangsiapa yang mengetahui tentang Allah, sifat-sifat dan nama-nama-Nya secara benar, ia akan mengetahui dengan seyakin-yakinnya bahwa dalam segala kebencian yang menimpanya dan cobaan yang datang kepadanya, terdapat kemaslahatan dan manfaat yang banyak, yang tidak dapat diprediksi oleh ilmu dan pikirannya. Bahkan, kemaslahatan seseorang dalam sesuatu yang dibencinya lebih besar dari apa yang dicintainya.

Mari kita lihat orang yang bercocok tanam di kebun. Ia memelihara dan mengairi tanamannya dengan harapan agar pohonnya bisa menghasilkan buah. Ia memilah-milah pohon yang bergandengan dan memotong cabang-cabangnya. Ia tahu, jika pohon itu dibiarkan apa adanya, tidak akan menghasilkan buah yang banyak. Pohon-pohon itu bisa jadi merasa sakit karena ditebas dengan pisau atau sabit. Daun-daun yang terlalu lebat dikurangi dan ranting-ranting yang tidak berguna dipotong karena dapat mengganggu pertumbuhan buah. Mereka perlu dipotong demi kemaslahatan pohon itu sendiri.

Sekarang, bagaimana jika perlakuan serupa kita terapkan pada manusia? Kita bisa bayangkan, jika perlakuan seperti pada daun-daun dan ranting-ranting itu diterapkan pada makhluk yang mampu membedakan dan mempunyai pengetahuan seperti manusia, sering muncul anggapan seakan-akan perbuatan itu merusak dan membahayakan. Padahal, boleh jadi di situlah letak kebaikannya.

Orang-orang yang beriman meyakini manusia adalah ciptaan Allah. Oleh karena itu, Allah mengetahui apa yang terbaik bagi kita karena kita adalah ciptaan-Nya. Allah jauh lebih mengetahui tentang manusia daripada sang pecocok tanam mengetahui tentang tanaman yang dipeliharanya di kebun. Semua petunjuk dasar kehidupan untuk manusia sudah tertuang dalam firman Allah Yang Maha Agung. Begitu pula Rasulullah ﷺ telah menunjukkan teladan yang baik dan sempurna dalam sunnah-sunnahnya. Maka, apakah tidak cukup hujjah bagi kita untuk mengikuti Al-Quran dan As-Sunnah dengan pemahaman yang benar?

Ketika Allah menurunkan sesuatu yang dibenci manusia, sebenarnya itu merupakan kebaikan bagi mereka daripada tidak diturunkan kebencian itu. Semuanya atas dasar perhatian, kebaikan, dan kelembutan Allah kepada mereka. Jika mereka harus berikhtiar sendiri, tentu mereka akan kesulitan menentukan mana yang akan memberikan kemaslahatan baginya, baik dalam pengetahuan, kehendak, maupun amal perbuatan. Orang yang telah memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah akan menuruti apa yang telah ditetapkan Allah, berupaya mengambil hikmah di dalamnya dan tidak menentang kebijaksanaan-Nya dengan hukum akal yang rusak, pendapat mereka yang batil, sia-sia, dan keliru.

Perhatikan hadits berikut ini, Rasulullah ﷺ bersabda,

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ لِأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” [HR. Muslim no. 2999]

Semoga bisa menjadi renungan bersama.

Wallahu A’lam.

Bahan bacaan:

  • Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Kitab Al-Fawa’id

Penulis: Ahmad Ridwan

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)