Buljum 2016.3.18: Identitas Seorang Muslim

Apakah bedanya seorang muslim dengan manusia lainnya? Seorang manusia mendefinisikan dirinya dengan ras, kebangsaan, sebuah identitas yang seorang manusia dapatkan ketika dia lahir dan melekat hingga ajalnya. Seperti orang Jepang yang mendapatkan “identitas”-nya karena dilahirkan oleh orang tua yang berdarah Jepang atau seperti orang Amerika Serikat yang mendapatkan “identitas”-nya karena ia dilahirkan di dalam wilayah Negeri Paman Sam. Di sisi lain, seorang muslim mendefinisikan dirinya dengan sebuah jalan hidup yang telah ia pilih, yaitu Islam.

Kita harus bersyukur bila kita terlahir di keluarga muslim, banyak umat manusia yang tidak mendapatkan hadiah ini dan harus berjuang mencari-cari kebenaran sebelum bertemu Islam. Mari kita amati masyarakat Jepang, tempat dimana kita sekarang tinggal. Tidak sedikit dari nilai kemanusiaan yang diajarkan dalam Islam yang mereka praktekkan. Mulai dari tingkat individu semisal menghormati orang lain, murah senyum—lihat saja pegawai convenient store yang selalu ramah, sampai dengan kemudahan dan bantuan dari pemerintah untuk orang yang kurang beruntung. Namun sisi ketuhanan tidak mereka dapat, bahkan agama-agama bagi kebanyakan mereka tidak lebih dari ritual dan bisnis. Mereka tidak menganut agama mereka karena pilihan mereka, tapi karena itulah yang dikerjakan oleh orang tua dan nenek moyang mereka. Ritual mereka tidak berbeda dengan ritual-ritual umat-umat terdahulu. Seperti perkataan kaum nabi Hud:

قالوا أَجِئتَنا لِنَعبُدَ اللَّهَ وَحدَهُ وَنَذَرَ ما كانَ يَعبُدُ آباؤُنا ۖ فَأتِنا بِما تَعِدُنا إِن كُنتَ مِنَ الصّادِقينَ

“Mereka berkata: Adakah engkau datang kepada kami supaya kami hanya menyembah Allah semata-mata, dan meninggalkan apa yang pernah disembah oleh nenek moyang kami? (Kami tidak akan menurut) maka datangkanlah azab yang engkau janjikan kepada kami, jika betul engkau dari orang-orang yang benar” [QS. Al-A’raf: 70]

Menjadi seorang muslim adalah sebuah pilihan, karena itu rukun pertama dalam Islam adalah syahadat. Mari kita berhenti sejenak dan mengingat kapan kita memilih menjadi muslim? Memilih untuk mematuhi perintah Allah dan jalan hidup berupa Islam yang diajarkan oleh Rasul-Nya Muhammad ﷺ.

Apakah pada saat kita sekolah? Pada saat ketika kita beranjak dewasa? Ataukah kita belum memilih menjadi muslim?

Mari kita hayati firman Allah berikut:

وَإِذ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَني آدَمَ مِن ظُهورِهِم ذُرِّيَّتَهُم وَأَشهَدَهُم عَلىٰ أَنفُسِهِم أَلَستُ بِرَبِّكُم ۖ قالوا بَلىٰ ۛ شَهِدنا ۛ أَن تَقولوا يَومَ القِيامَةِ إِنّا كُنّا عَن هٰذا غافِلينَ

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab: Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” [QS. Al-A’raf: 172]

Kita telah memilih untuk menjadi seorang muslim, mengabdi pada Allah jauh sebelum kita dilahirkan.

Lupa adalah salah satu sifat dasar manusia, karena itu Allah mengingatkan kita dengan mengirim kitab-kitab-Nya bersama Nabi-nabi dan Rasul-rasul-Nya supaya kita tidak lupa akan pengakuan kita bahwa Allah-lah tuhan kita, akan janji kita untuk taat dan patuh pada-Nya.

Marilah kita terus berusaha untuk menghayati makna pengabdian kita pada Allah untuk menjadi insan yang lebih baik. Bahkan Nabi Ibrahim ‘alayhissalam, bapak para nabi pun selalu berdoa supaya dijaga keimanannya. Seperti dalam doa beliau dan putranya Ismail ‘alayhissalam ketika mereka membangun Ka’bah, kiblat dan pusat ibadah kaum muslimin:

رَبَّنا وَاجعَلنا مُسلِمَينِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنا أُمَّةً مُسلِمَةً لَكَ وَأَرِنا مَناسِكَنا وَتُب عَلَينا ۖ إِنَّكَ أَنتَ التَّوّابُ الرَّحيمُ

“Wahai Tuhan kami! Jadikanlah kami berdua: orang-orang Islam (yang berserah diri) kepadaMu, dan jadikanlah daripada keturunan kami: umat Islam (yang berserah diri) kepadamu, dan tunjukkanlah kepada kami syariat dan cara-cara ibadat kami, dan terimalah taubat kami; sesungguhnya Engkaulah Maha Penerima taubat, lagi Maha Mengasihani” [QS. Al-Baqarah: 128]

Marilah kita jaga teguh keimanan kita, terutama di masa ini, di mana setiap muslim menghadapi banyak tantangan dari berbagai penjuru. Ingatlah akan janji Allah pada umat yang memegang teguh Islam.

وَمَن يَرغَبُ عَن مِلَّةِ إِبراهيمَ إِلّا مَن سَفِهَ نَفسَهُ ۚ وَلَقَدِ اصطَفَيناهُ فِي الدُّنيا ۖ وَإِنَّهُ فِي الآخِرَةِ لَمِنَ الصّالِحينَ

“Tidak ada orang yang membenci agama Nabi Ibrahim selain dari orang yang membodohkan dirinya sendiri, kerana sesungguhnya Kami telah memilih Ibrahim (menjadi nabi) di dunia ini; dan sesungguhnya ia pada hari akhirat kelak tetaplah dari orang-orang yang soleh yang (tertinggi martabatnya).” [QS. Al-Baqarah: 130]

Wallahu A’lam.

Penulis: Adam

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)