Buljum 2016.3.25: Masuk Islamnya Bangsa Turk

“Demi Allah, sesungguhnya perkara yang kalian tidak sukai ini adalah perkara yang kamu keluar mencarinya, yaitu syahadah (gugur di medan perang di jalan Allah ). Kita itu tidak berjuang karena jumlah pasukan atau kekuatan. Kita berjuang untuk agama ini yang Allah telah memuliakan kita dengannya. Bergeraklah. Hanya ada salah satu dari dua kebaikan: kemenangan atau gugur (syahid) di medan perang.”  – Abdullah bin Rawahah di Perang Mu’tah, ketika Pasukan Muslim berhadapan dengan Pasukan Romawi yang jumlahnya jauh lebih banyak.

Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. Dengan izin Allah, ia membawa kemuliaan bagi kaum-kaum yang menjalankan ajarannya. Kita semua melihat bagaimana di zaman Rasulullah ﷺ, Bangsa Arab menerima Islam, dan hanya dalam beberapa puluh tahun mereka telah mendirikan negara terluas di dunia (Kekhalifahan Bani Umayyah) dalam sejarah hingga masa itu. Kebanyakan kita juga memahami bahwa Bangsa Iran, setelah menerima Islam, melahirkan berbagai pemikir terbaik dalam sejarah Islam, baik dalam bidang agama (Imam Bukhari, Imam Muslim, dan lain-lain) maupun ilmu duniawi (Al Khwarizmi, Al Biruni, Ibnu Sina, dan lain-lain). Para pemikir ini hidup di sebuah zaman yang sering disebut sejarawan modern sebagai salah satu zaman keemasan Islam dari segi kebudayaan. Kali ini, insya Allah saya ingin membahas mengenai sejarah Bangsa Turk setelah mereka menerima Islam, suatu bagian penting dalam sejarah Islam yang sayangnya sering terlupakan, walaupun mereka membawa zaman keemasan Islam dari segi militer.

Bangsa Turk, pada awalnya, adalah bangsa nomaden yang tinggal di wilayah Asia Tengah. Wilayah yang dijelajahi Bangsa Turk sangat luas, diperkirakan dari daerah yang sekarang termasuk ujung barat Mongolia hingga sekitar Laut Aral dan Laut Kaspia. Sejak perluasan Kekaisaran Persia, Bangsa Turk mulai tinggal berdampingan dengan Bangsa Iran. Bangsa Iran membangun kota di berbagai daerah di sekitar sungai-sungai besar Asia Tengah (termasuk di antaranya Bukhara, Khwarazm, Samarkand dan sebagainya) dan menetap, sementara Bangsa Turk menjelajahi wilayah padang pasir dan padang rumput di antara kota-kota tersebut.

Di zaman kekhalifan Umar, Persia masuk ke dalam wilayah umat Islam. Kemudian mulailah sedikit demi sedikit Bangsa Iran menerima Islam, hingga di Zaman Kekaisaran Samaniyah, kebanyakan Bangsa Iran telah memeluk Islam. Melalui usaha keras para da’i Samaniyah, Islam pun mulai tersebar ke Bangsa Turk. Diperkirakan, selama sekitar 180 tahun pemerintahan Samaniyah, 30.000 tenda Bangsa Turk masuk Islam.

Setelah Kekaisaran Samaniyah melemah di sekitar tahun 1000 M, Bangsa Turk mendirikan negara-negara Muslim baru. Pertama-tama, mereka mendirikan Kesultanan Ghaznawi di Ghazni (kota di wilayah yang sekarang termasuk Afghanistan). Setelah itu, sebuah suku dari Bangsa Turk yang disebut Seljuk mulai memasuki wilayah-wilayah pusat Kekhalifahan Abbasiyah di sekitar Baghdad. Pasukan-pasukan ini menjadi aset berharga dalam pertempuran panjang kekhalifahan melawan Romawi (Bizantium) yang semakin menguat sejak abad ke-10 M. Di tahun 1071, pasukan Seljuk berhasil mengalahkan pasukan Romawi di Manzikert (sekarang disebut Malazgirt di ujung timur Turki). Sejak pertempuran ini, Semenanjung Anatolia, yang sejak zaman sebelum Nabi Isa alayhissalam adalah wilayah Romawi, perlahan tapi pasti dikuasai Bangsa Turk, yang kemudian mendirikan Kesultanan Romawi. Sayangnya, Kesultanan Romawi tidak berhasil menyebar lebih ke barat ke jantung Romawi di Konstantinopel.

Ke arah timur, Kesultanan Ghaznawi berhasil mengislamkan wilayah Ghor, yang sekarang termasuk Afghanistan. Bangsa Iran yang tinggal di sini mendirikan Kesultanan Ghor, yang kemudian memperluas lebih jauh ajaran Islam ke timur. Di tahun 1206, Bangsa Turk menaklukkan jantung wilayah India utara dan mendirikan Kesultanan Delhi. Kesultanan ini menyebarkan Islam ke seluruh India, termasuk Gujarat, yang kemudian menjadi cikal bakal penyebaran Islam ke Indonesia.

Di pertengahan abad ke-13, pasukan Mongol, dipimpin oleh Genghis Khan menerjang dunia. Sebagian besar wilayah Kesultanan Romawi jatuh di tahun 1240-an. Baghdad dan Kekhalifahan Abbasiyah ditaklukkan di tahun 1258. Setelah itu, Pasukan Mongol dibasmi pasukan Turk di Ain Jalut, sekarang termasuk di wilayah Palestina (Tepi Barat Sungai Yordan). Kesuksesan ini membuat Bangsa Turk mengambil alih pemerintahan Mesir dan Hijaz dari Dinasti Ayubiyah.

buljum-20160325-1

Hikmah penting dari serbuan Mongol ke berbagai penjuru dunia adalah terdorongnya Bangsa Turk yang masih tinggal di Asia Tengah ke arah barat. Salah satu diantaranya, sebuah kabilah yang dipimpin Osman (ejaan Turk untuk Utsman), terdorong sampai ke semenanjung Anatolia. Setelah pengaruh Mongol di wilayah ini melemah, mereka mendirikan Dinasti Utsmaniyah yang kemudian berkembang menjadi sangat kuat. Setelah mereka sukses mengalahkan Serbia dan Yunani, sebagian umat Muslim menempatkan sultan mereka di posisi khalifah. Terlebih, setelah mereka sukses menaklukkan Romawi di 1453, sangat sedikit di antara umat Muslim yang mempertanyakan legitimasi mereka sebagai kekhalifahan. Mereka berkembang menjadi negara terkuat di Eropa Timur di abad ke-16, dan menyebarkan Islam ke berbagai daerah di Eropa. Termasuk di antaranya adalah Kosovo, Albania, dan Bosnia-Herzegovina yang sekarang masih menjadi negara mayoritas muslim.

Demikianlah kisah Bangsa Turk, sebuah bangsa nomaden yang setelah memeluk Islam, menjadi sebuah bangsa kuat yang memiliki kekuasaan di tiga benua dan membantu menyebarkan dakwah Islam di berbagai penjuru dunia.

Wallahu A’lam.

Bahan bacaan:

Penulis: Hafiyan

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)