Buljum 2016.4.8: Pelajaran dari Mu’adz bin Jabal

Pada suatu hari di masa-masa akhir kehidupan Rasulullah ﷺ, beliau ﷺ berbicara dengan seorang pemuda yang hendak dikirim ke Yaman untuk menyebarkan dakwah islam. Dialog tersebut adalah mengenai salah satu dasar dalam penentuan tingkatan hukum islam yang berdasarkan pada Kitabullah Al-Quran, Sunnah Rasul dan Ijtihad Ulama Salafush-Shalih. Pemuda tersebut ialah Mu’adz Bin Jabal.

Mu’adz Bin Jabal adalah seorang tokoh dari golongan anshar yang ikut serta dalam baiat aqabah kedua yang membuat beliau termasuk assabiqunal awwalun, golongan pertama yang masuk islam. Ia adalah orang yang paling baik membaca Al-Qur’an serta paling memahami syariat-syariat Allah. Oleh sebab itulah Rasulullah ﷺ memujinya dengan bersabda, “Yang kumaksud umatku yang paling alim tentang halal dan haram ialah Muaz bin Jabal.” [HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah]

Banyak pengakuan dari para sahabat generasi pertama akan keluasan ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya. Mu’adz telah menyerahkan seluruh jiwa raga dan nasibnya kepada Allah ﷻ. Ibnu Mas’ud mengambarkan kepribadian Mu’adz bin Jabal, “Mu’adz adalah seorang hamba yang tunduk kepada Allah dan berpegang teguh kepada agama-Nya. Dan kami menganggap Mu’adz serupa dengan Nabi Ibrahim alayhissalam .

Ada beberapa pelajaran yang ditinggalkan oleh Mu’adz bin Jabal, khususnya bagi para pencari ilmu. Beliau menyeru manusia untuk mencari ilmu, dan berdzikir kepada Allah. Diserunya para manusia untuk mencari ilmu yang benar lagi bermanfaat. Beliau berkata, “Waspadalah akan tergelincirnya orang yang berilmu! Dan kenalilah itu dengan kebenaran pula! Karena kebenaran itu mempunyai cahaya!

Saat ini banyak sekali orang-orang berilmu, namun keilmuan mereka hanya sedikit memberikan manfaat bagi kemaslahatan umat. Dari mereka banyak yang tergelincir demi meraih kenikmatan hidup di dunia tanpa merasa malu berpaling dari kebenaran. Dengan kepintaran dan propaganda mereka, yang benar menjadi terlihat salah dan yang salah menjadi benar, sebagaimana yang dicontohkan para pembesar agama dan tukang-tukang sihir di zaman Fir’aun.

Pembelajaran lain yang bisa kita petik adalah bahwa hendaknya ibadah dilakukan dengan cermat dan jangan berlebihan. Yang lebih penting dalam beribadah adalah konsistensi atau ke-istiqomah-annya. Setidaknya ada 5 hal berikut yang diajarkan beliau kepada umat.

  1. Shaum dan berbukalah.
  2. Lakukan sholat dan tidurlah. Dalam artian janganlah berlebihan dalam beribadah. Tubuh manusia juga memerlukan istirahat yang berguna untuk beraktivitas dipagi dan siang harinya.
  3. Berusahalah mencari nafkah dan janganlah berbuat dosa.
  4. Janganlah kamu mati kecuali dalam beragama islam.
  5. Serta jauhilah doa dari orang-orang yang teraniaya. Ini menganjurkan kepada kita untuk senantiasa berhati-hati, jangan sampai perkataan dan perbuatan kita menyakiti ataupun mendzalimi orang lain.

Terakhir, beliau juga berpesan, ”Ilmu itu ialah mengenal dan beramal. Pelajarilah segala ilmu yang kalian suka, tetapi Allah tidak akan memberi kalian manfaat dengan ilmu itu sebelum kalian mengamalkannya lebih dulu.

Ilmu dan amal adalah dua sisi yang saling berkaitan tanpa bisa dipisahkan. Ilmu tanpa amal laksana pohon tanpa buah. Dalam suatu hadits, Rasulullah ﷺ bersabda, “Kedua telapak kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai dia akan ditanya tentang empat perkara, diantaranya adalah tentang ilmunya dan apa yang sudah diamalkannya. [HR. Tirmidzi no. 2341]

Adapun amal tanpa ilmu ialah laksana fatamorgana, atau seperti orang yang diliputi oleh kegelapan yang sangat, sebagaimana firman Allah ﷻ:

وَالَّذينَ كَفَروا أَعمالُهُم كَسَرابٍ بِقيعَةٍ يَحسَبُهُ الظَّمآنُ ماءً حَتّىٰ إِذا جاءَهُ لَم يَجِدهُ شَيئًا وَوَجَدَ اللَّهَ عِندَهُ فَوَفّاهُ حِسابَهُ ۗ وَاللَّهُ سَريعُ الحِسابِ {٣٩} أَو كَظُلُماتٍ في بَحرٍ لُجِّيٍّ يَغشاهُ مَوجٌ مِن فَوقِهِ مَوجٌ مِن فَوقِهِ سَحابٌ ۚ ظُلُماتٌ بَعضُها فَوقَ بَعضٍ إِذا أَخرَجَ يَدَهُ لَم يَكَد يَراها ۗ وَمَن لَم يَجعَلِ اللَّهُ لَهُ نورًا فَما لَهُ مِن نورٍ {٤٠

“Dan orang-orang kafir, amal-amal mereka laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi apabila didatangi ‘air’ itu, dia tidak mendapati apa pun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya. Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih. Apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barang siapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, tiadalah dia mempunyai cahaya sedikit pun.” [QS. An-Nur: 39-40]

Wallahu A’lam.

Bahan bacaan:

  • Karakteristik Perihidup 60 Shahabat Rasulullah. Penulis: Khalid Muhammad Khalid, Alih bahasa: Mahyuddin Syaf dkk, Penerbit CV. Diponegoro Bandung, 1992.

Penulis: Muttaqin

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)