Buljum 2016.4.15: Menggapai Ridha Allah

Tidak dapat dipungkiri bahwa semua orang yang beriman mengharapkan ridha Allah. Bagaimana cara menggapai ridha Allah? Bagaimana mengetahui Allah ridha pada kita? Maka perhatikanlah keridhaan kita kepada Allah!

رَضِيَ اللَّهُ عَنهُم وَرَضوا عَنهُ ُ

Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadanya. [QS. Al-Bayyinah: 8]

Ridha manusia kepada Allah mempunyai tiga tingkatan. Tingkatan yang pertama adalah ridha kepada Allah sebagai Rabb. Allah sebagai Rabb adalah Allah sebagai pengatur alam semesta, pemberi rezeki, penentu takdir baik dan buruk, semua adalah perbuatan Allah. Seberapa besar keridhaan kita kepada Rabb kita? Apakah kita ridha pada rezeki yang Allah berikan? Apakah kita ridha kepada musibah yang Allah timpakan kepada kita? Rasulullah ﷺ bersabda,

إنَّ اللهَ لَيَرْضَى عَنِ العَبْدِ أنْ يَأكُلَ الأَكْلَةَ ، فَيَحمَدَهُ عَلَيْهَا ، أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ ، فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا

 Sesungguhnya Allah sangat ridho kepada seorang hamba yang memakan makanan lalu memuji Allah karena makanan tersebut, atau meminum suatu minuman lalu memuji Allah karenanya [HR. Muslim]

وَإِن تَشكُروا يَرضَهُ لَكُم ۗ

“Dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu [QS. Az-Zumar: 7]

Tingkatan yang kedua adalah ridha kepada Allah sebagai Ilah, sebagai satu-satunya sesembahan yang hak untuk disembah. Mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah. Jika kita ridha kepada Allah bahwa hanya Dia-lah sesembahan yang hak (benar) maka kita harus mematuhi segala perintah Allah dan menjauhi segala larangannya. Ridha dengan syariat-Nya, semua halal dan haram yang ditetapkan-Nya, dan menjauhi dosa-dosa besar, juga tidak meremehkan dosa-dosa kecil. Rasulullah ﷺ bersabda,

قَالَ رَبُّكُمْ عَزَّ وَجَلَّ : عَبْدِي تَرَكَ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ وَشَرَابَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِي، وَالصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

Rabb kalian azza wajalla berkata: Hamba-Ku meninggalkan syahwatnya, makanannya, dan minumannya karena mencari keridhoanKu, dan puasa adalah untukKu dan Aku yang akan memberi ganjarannya.” [HR. Ahmad di Musnadnya dengan sanad yang shahih]

Yang ketiga adalah ridha terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allah, yaitu nama-nama dan sifat-sifat yang telah Allah tetapkan bagi diri-Nya dalam kitab-Nya atau Sunnah Rasul-Nya ﷺ dengan tanpa melakukan tahrif, ta’thil, takyif, tamtsil dan tafwidh. Allah ﷻ berfirman dalam surat Al-A’raaf,

وَلِلَّهِ الأَسماءُ الحُسنىٰ فَادعوهُ بِها ۖ وَذَرُوا الَّذينَ يُلحِدونَ في أَسمائِهِ ۚ سَيُجزَونَ ما كانوا يَعمَلونَ

Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” [QS. Al-A’raaf: 180]

Tahukah kita siapa yang Allah telah ridhai ketika mereka masih hidup? Allah meridhai mereka selagi mereka masih hidup dunia! Mari kita perhatikan baik-baik Firman Allah berikut,

وَالسّابِقونَ الأَوَّلونَ مِنَ المُهاجِرينَ وَالأَنصارِ وَالَّذينَ اتَّبَعوهُم بِإِحسانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنهُم وَرَضوا عَنهُ وَأَعَدَّ لَهُم جَنّاتٍ تَجري تَحتَهَا الأَنهارُ خالِدينَ فيها أَبَدًا ۚ ذٰلِكَ الفَوزُ العَظيمُ

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.[QS. At-taubah: 100]

Allah telah ridha kepada para sahabat dari muhajirin dan anshar, dan bagi yang mengikuti para muhajirin dan anshar yaitu para ulama di masa setelah sahabat dan setelahnya. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ “Sebaik-baik dari kalian adalah yang hidup di genarasiku, kemudian setelahnya, kemudian setelah mereka.” Jika kita menginginkan ridha Allah sudah seharusnya bagi kita mengikuti mereka yang sudah Allah beri rekomendasi, para pendahulu (salaf) yang shaleh. Untuk mengikuti mereka dibutuhkan akan 4 perkara, yang pertama adalah mengilmui manhaj (metode) salaf dalam beragama, yang kedua berpegang teguh atau komitmen dengan manhaj salaf, berdakwah, bersabar di atas ketiga hal tersebut hingga berjumpa dengan Rabb-nya. Langkah pertama yang paling kita butuhkan adalah mencari ilmu mengenai cara beragama yang benar, cara beragama Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya.

Rasulullah ﷺ bersabda menjelang hari-hari wafatnya, “Aku wasiatkan kalian agar bertaqwa kepada Allah. Lalu mendengar dan taat kepada pemimpin, walaupun ia dari kalangan budak Habasyah. Sungguh orang yang hidup sepeninggalku akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk mengikuti sunnnahku dan sunnah khulafaarraasyidin yang mereka telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dan gigitlah ia dengan gigi geraham. Serta jauhilah perkara yang diada-adakan, karena ia adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat” [HR. Abu Daud no.4609, Al Hakim no.304, Ibnu Hibban no.5]

اهدِنَا الصِّراطَ المُستَقيمَ صِراطَ الَّذينَ أَنعَمتَ عَلَيهِم غَيرِ المَغضوبِ عَلَيهِم وَلَا الضّالّينَ

“Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka” [QS. Al Fatihah: 6-7]

Seorang ahli tafsir dari kalangan tabi’ut tabi’in, Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, menafsirkan bahwa yang dimaksud dalam ayat ini adalah Nabi ﷺ dan para sahabatnya. Jalan yang Allah ridhai adalah jalan para sahabat, semoga Allah memudahkan kita menempuhnya. Terakhir, mari kita biasakan membaca dzikir petang berikut dan menghayatinya.

رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا ، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا ، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا

“Aku ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama dan Muhammad  sebagai nabi.” [HR. Abu Daud no. 5072, Tirmidzi no. 3389]

Wallahu A’lam.

Bahan bacaan:

Penulis: Nailul

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)