Buljum 2016.4.29: Ajaibnya Doa

Sebagai manusia, tentu kita sering menghadapi berbagai macam permasalahan di dalam hidup kita. Bahkan mungkin pernah suatu permasalahan terasa amatlah besar, sampai-sampai kita merasa bahwa kita tidak punya daya dan upaya lagi untuk keluar darinya. Saudara-saudariku, jika kita mengalami hal seperti ini, ingatlah, sesungguhnya kita masih bisa membuka pintu langit dengan doa-doa kita. Ingatlah, sesungguhnya kita masih memiliki Rabb yang Maha Mampu untuk mengabulkan doa-doa kita tersebut.

Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadits riwayat Imam Ahmad dari Abu Said Al-Khudri,

ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنُْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا. قَالُوا إِذاً نُكْثِرُ. قَالَ  اللَّهُ أَكْثَرُ

Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a kepada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi melainkan Allah akan beri padanya salah satu dari tiga hal: 1) Allah akan segera mengabulkan doanya, 2) Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan 3) Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” [HR. Ahmad 3/18. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanadnya jayyid]

Dari hadits ini bisa kita pahami bahwa ketika kita berdoa kepada Allah, tidak mustahil bagi Allah untuk membayar kontan doa-doa kita dengan menyegerakan terkabulnya doa-doa tersebut di dunia ini. Tidak percaya? Mari kita simak beberapa kisah menarik dari para sahabat radhiyallahu ‘anhum, generasi terbaik umat ini, di mana Allah kabulkan doa-doa indah mereka. Betapa indahnya doa mereka karena doa-doa tersebut lebih banyak berkaitan dengan akhirat daripada dunia.

Pertama, Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu pernah meminta supaya dia mendapatkan demam. Dari Abu Said, ia berkata: “Ubay berkata: Wahai Rasulullah, apakah balasannya penyakit demam? Nabi menjawab: “Kebaikan akan mengalir pada penderitanya”, lalu dia berdoa : “Ya, Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu penyakit demam yang tidak menghalangiku untuk keluar berjihad di jalan-Mu”, maka tidaklah lama kemudian Ubay menderita penyakit demam”. [HR Ahmad, dan dishahihkan Ibnu Hibban, dan diriwayatkan pula oleh Ath-Thabrani]

Masya Allah, pernahkah kita memanjatkan doa seperti yang dipanjatkan Ubay bin Ka’ab pada hadits di atas? Mungkin tidak pernah. Lihatlah betapa inginnya Ubay bin Ka’ab mendapatkan pahala sampai-sampai beliau rela menderita demam. Dalam Tarikh Imam Ibnu Hisyam, dapat kita temukan kisah tentang Ubay bin Ka’ab yang senantiasa demam di sore hari sampai pagi harinya. Tidaklah beliau meminta kecuali satu, beliau meminta supaya dengan demam itu gugur dosanya. Dan bagaimana hasilnya? Allah kabulkan doa tersebut secara kontan.

Kedua, kisah seorang wanita ayan yang dijanjikan oleh Nabi sebagai penduduk surga. Kisah ini cukup popular karena terdapat dalam shahih Bukhari dan Muslim, di mana seorang wanita yang menderita penyakit ayan (epilepsi) berkata kepada Rasulullah ﷺ, “Ya Rasulullah kalau penyakit ayanku sedang kambuh, sering sekali auratku tersingkap, doakanlah agar auratku tidak tersingkap.” Kemudian Allah kabulkan permintaan wanita ini secara kontan, Allah tutup auratnya sampai beliau meninggal dunia. Masya Allah, kita lihat apa yang diminta oleh wanita mulia ini, dalam keadaan tidak sadar sekalipun, beliau masih memikirkan aurat. Padahal secara hukum, tidak ada masalah orang yang tidak sadar tersingkap auratnya. Hal ini amat bertolak belakang dengan banyak wanita di zaman kita ini, dalam keadaan sadar sesadar-sadarnya, mereka malah membuka aurat dan mempertontonkannya kepada laki-laki yang bukan mahramnya. Semoga Allah melindungi istri, anak perempuan, saudara perempuan dan wanita muslimah lainnya dari hal demikian.

Ketiga, kisah ‘Ashim bin Tsabit Radiyallahu ‘anhu, seorang sahabat yang jasadnya tidak mampu disentuh kaum musyrikin. Beliau meminta supaya jika beliau terbunuh di jalan Allah, tidak ada satu orang musyrik pun yang mampu menjamah tubuhnya. Perlu kita ketahui, bahwa ‘Ashim bin Tsabit adalah seorang sahabat yang banyak diincar oleh kaum musyrikin Quraisy. Mereka sangat dendam kepada ‘Ashim bin Tsabit karena banyak orang musyrikin yang terbunuh dengan pedangnya ‘Ashim bin Tsabit. Sampai-sampai ada seorang wanita musyrikin yang bersumpah barang siapa yang mampu membawa kepala ‘Ashim bin Tsabit, maka akan dibayar dengan harga yang mahal, di mana kepala tersebut akan dijadikan tempat minum khamr.

‘Ashim bin Tsabit akhirnya terbunuh di dalam suatu peperangan. Orang yang membunuh beliau ternyata tidak sadar bahwa itu adalah ‘Ashim bin Tsabit, sehingga ditinggalkanlah jasadnya begitu saja. Sampai kemudian mereka mendapatkan berita bahwa itu adalah ‘Ashim bin Tsabit yang kepalanya dihargai mahal. Mendengar hal tersebut, orang-orang musyrikin kembali lagi untuk mencari jasad ‘Ashim bin Tsabit. Tapi mari kita perhatikan bagaimana Allah mengabulkan doa ‘Ashim bin Tsabit. Sekembalinya orang-orang musyrikin ke tempat tergeletaknya jasad ‘Ashim bin Tsabit, mereka ingin memenggal kepalanya untuk dibawa kepada wanita musyrikin yang menjanjikan harga yang mahal. Tetapi kemudian Allah turunkan bala tentara-Nya berupa tawon dan lebah untuk menyerang siapapun yang mendekati jasad ‘Ashim bin Tsabit. Setiap kali ada yang mendekati jasad tersebut, tawon dan lebah akan menyerang. Begitu seterusnya sampai akhirnya orang-orang musyrikin tersebut keletihan, kemudian mereka saling berbicara dan berembuk. Di antara mereka mengusulkan agar jasad tersebut dibiarkan saja dulu sampai tawon dan lebah tersebut kembali ke sarangnya. Ketika mereka sedang menunggu, Allah turunkan air hujan sebagai bala tentara-Nya yang kedua setelah tawon dan lebah. Allah turunkan hujan yang begitu deras, saking derasnya sehingga air mengalir bagaikan air bah dan menyeret jasad ‘Ashim bin Tsabit sehingga hanyut bersama dengan aliran air. Orang-orang musyrikin berusaha mengejar jasad ‘Ashim bin Tsabit, namun langkah kaki mereka tak mampu menjangkau cepatnya air yang menyeret jasad tersebut. Sampai akhirnya Allah tempatkan jasad ‘Ashim bin Tsabit di tempat yang sampai hari ini tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Lihatlah bagaimana Allah membayar kontan doa ‘Ashim bin Tsabit.

Kisah-kisah di atas menunjukkan kepada kita bahwa doa itu mustajab. Sehingga seorang muslim sepatutnya tidak menggampangkan dan menganggap remeh doa. Kisah-kisah di atas juga memberi pelajaran bagi kita bahwa generasi terbaik umat ini, yakni para sahabat radhiyallahu ‘anhum, banyak meminta hal-hal terkait akhirat dalam doa mereka, dan bisa kita lihat bagaimana Allah menyegerakan terkabulnya doa-doa mereka di dunia ini. Mudah-mudahan Allah ﷻ senantiasa mengabulkan doa-doa kita dan menerima amal ibadah kita. Amin Ya Mujiibas Sa’iliin.

Tapi tentu saja, jika doa kita tidak kunjung dikabulkan oleh Allah, maka hendaknya kita tidak bersuudzon kepada Allah. Karena sebagaimana yang tercantum pada hadits di awal tulisan ini. Masih ada dua kemungkinan lagi jika doa kita tidak segera Allah kabulkan di dunia ini yaitu: 2) Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan 3) Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.

Wallahu A’lam.

Bahan bacaan:

Penulis: Alfian

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)