Buljum 2016.5.20: Allah Tidak Mempersulit Hamba-Nya

Ungkapan “Allahumma yassir wa laa tu’assir” cukup populer di telinga kita sebagai “doa” ketika menghadapi kesulitan. Apakah doa ini dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ?

Dari salah satu hadits shahih terkait menghadapi kesulitan, ternyata bukan doa itu yang diajarkan.

عن أنس رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: “اللهم لا سهل إلا ما جعلته سهلا وأنت تجعل الحزن إذا شئت سهلا”

“Dari Anas radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah ﷺ (ketika dalam kesulitan) berkata, ‘Allahumma laa sahla illaa maa ja’altahu sahlan wa anta taj’alul hazna idzaa syi’ta sahlan.’ Terjemahnya, ‘Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mudah, dan yang sulit bisa Engkau jadikan mudah apabila Engkau menghendakinya menjadi mudah.’” [As-Silsilah Ash-Shahihah, Hadits no. 2886]

Mengapa “Allahumma Yassir wa laa Tu’assir” bukan doa yang dicontohkan oleh Rasulullah ? Tidak ada jawaban mutlak. Namun, secara adab kurang tepat jika kita menyatakan pada Allah, “Permudahlah! Jangan Kau persulit!” Justru, Allah ﷻ berfirman:

 …يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesulitan bagimu …” [QS. Al- Baqarah: 185]

Karena Allah tidak pernah mempersulit urusan hamba-Nya, mengapa kita berdoa minta tidak dipersulit seolah-olah sudah Allah persulit sebelumnya? Maha Suci Allah dari sifat mempersulit hamba-Nya. Inilah yang dimaksud dengan kurang tepat secara adab.

Lalu, dari mana muncul ungkapan “Allahumma yassir wa laa tu’assir”? Mungkin “doa” tersebut (dalam tanda petik) adalah hasil dari modifikasi terhadap pernyataan Rasulullah ﷺ kepada para da’i dari kalangan sahabatnya.

Dugaan ini cukup kuat dengan berdasarkan pada salah satu riwayat Anas radhiyallahu’anhu dan Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu’anhu.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه، عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا

“Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, dari Nabi ﷺ, beliau berkata, ‘Yassiruu wa laa tu’assiruu wa basysyiruu wa laa tunaffiruu.’ Terjemahnya, ‘Permudahlah, jangan kamu persulit, dan berilah kabar gembira, jangan kamu takut-takuti.’” [HR. Muslim no. 1734]

عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه أن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لما أرسله ومعاذاً إلى اليمن فَقَالَ : يَسِّرَا وَلاَ تُعَسِّرَا، وَبَشِّرَا وَلاَ تُنَفِّرَا،وَتَطَاوَعَا وَلاَ تَخْتَلِفَا

“Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu’anhu, bahwa Nabi ﷺ ketika mengutus Mu’adz ke Yaman berkata, ‘Yassiraa walaa tu’assiraa, wa bassyiraa wa laa tunaffiraa, wa tathoowa’aa, wa laa takhtalifaa.’ Terjemahnya, ‘Permudahlah, jangan kamu persulit, dan berilah kabar gembira, dan jangan kamu takut-takuti, dan bekerjasamalah, dan janganlah berselisih.’” [HR. Muslim 1733]

Mungkin dari perkataan “Yassiruu wa laa tu’assiruu” itu muncullah “doa” kepada Allah seperti yang disebutkan di awal (“Allahumma yassir wa laa tu’assir”). Padahal, perkataan tersebut adalah perintah Rasulullah ﷺ kepada para sahabatnya, bukan “doa” beliau kepada Allah . Kesimpulan singkatnya, sesuai judul tulisan ini, bahwa Allah tidak mempersulit hamba-Nya.

Wallahu a’lam.

Catatan: Perbedaan dari kata kerja perintah (fi’il amr) semacam “yassir”, “yassiraa”, atau “yassiruu” terletak pada jumlah lawan bicara yang dihadapi, yakni satu orang, dua orang, atau jamak lebih dari dua orang.

Bahan bacaan:

  • Situs “Ad-Durar As-Saniyyah” (Mutiara Sunnah), salah satu tulisannya membahas tentang kisah Rasulullah shallallaahu’alaihi wa sallam melarang para sahabatnya menakut-nakuti target dakwah ataupun memberatkan mereka. Kisahnya bisa dibaca di: http://www.dorar.net/enc/akhlaq/1918

Penulis: Ahmad Ridwan

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)