Buljum 2016.6.3: Sungai-Sungai Surga di Dunia

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda,

فُجِّرَتْ أَرْبَعَةُ أَنْهَارٍ مِنَ الْجَنَّةِ: الْفُرَاتُ، وَالنِّيلُ، وَسَيْحَانُ، وَجَيْحَانُ

“Ada empat sungai yang dialirkan dari surga, yaitu sungai Efrat, Nil, Saihan dan Jaihan.” [HR. Ahmad]

Sungai adalah sebuah fitur geografis dan keindahan alam yang sangat penting bagi manusia di dunia. Di akhirat pun, sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur’an, suatu ciri khas dari surga yang sangat ditekankan adalah sungai-sungai yang mengalir dibawahnya (jannatin tajri min tahtihal anhar). Ada berbagai ayat di dalam Al-Qur’an dan hadits yang menjelaskan mengenai ciri-ciri sungai di surga. Di antaranya, sungai yang mengalirkan berbagai kelezatan seperti susu, madu, dan khamr.

مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ فِيهَا أَنْهَارٌ مِّن مَّاء غَيْرِ آسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِن لَّبَنٍ لَّمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِّنْ خَمْرٍ لَّذَّةٍ لِّلشَّارِبِينَ وَأَنْهَارٌ مِّنْ عَسَلٍ مُّصَفًّى وَلَهُمْ فِيهَا مِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَمَغْفِرَةٌ مِّن رَّبِّهِمْ كَمَنْ هُوَ خَالِدٌ فِي النَّارِ وَسُقُوا مَاء حَمِيمًا فَقَطَّعَ أَمْعَاءهُمْ

“(Apakah) perumpamaan (penghuni) jannah yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka, sama dengan orang yang kekal dalam jahannam dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong ususnya?” [QS. Muhammad: 15]

Selain itu, menurut beberapa riwayat hadits, beberapa sungai di surga juga dialirkan dunia. Allah Maha Mengetahui mengenai arti pasti hubungan antara sungai-sungai ini dengan surga – Syaikh Nashiruddin Al-Albani berpendapat bahwa ini kemungkinan memiliki arti yang mirip dengan mengatakan bahwa manusia berasal dari surga karena Nabi Adam berasal dari surga, dan tidak bertentangan dengan pengetahuan bahwa mata air sungai ini bisa dijumpai di dunia. Beliau juga mengutip pendapat Al-Qari bahwa sungai-sungai ini disebut sungai surga karena kesegarannya dan manfaat penting yang dibawanya; termasuk bagi jutaan umat Islam yang tinggal di pesisirnya.

Sungai yang pertama disebut adalah Sungai Efrat. Nama Efrat dalam Bahasa Indonesia datang dari nama yang diberikan orang Yunani untuk sungai ini, Euphrates (Ευφράτης), sementara di Bahasa Arab sungai ini disebut Furat (الفرات). Sungai ini terletak di sisi barat Mesopotamia (sekarang wilayah Irak). Berbeda dengan sungai tetangganya di daerah Mesopotamia, Sungai Tigris (Dijlah [دجلة] dalam Bahasa Arab) yang alirannya secara umum lebih deras, Sungai Efrat secara umum lebih tenang. Sungai Efrat adalah sungai terpanjang di Asia Barat, dengan panjang sekitar 2.780 km. Mata air sungai ini terletak di pegunungan di pedalaman Turki. Dari Turki, Sungai Efrat mengalir ke selatan ke Suriah dan kemudian ke Irak dan bermuara di Teluk Persia. Perahu bisa mengarungi sungai ini dari Teluk Persia hingga ke beberapa kota besar di Irak seperti Karbala dan Fallujah.

Sungai yang kedua adalah Sungai Nil (النيل‎‎). Sungai ini adalah salah satu sungai terpanjang di dunia, panjangnya dari muara terjauh ke mata air terjauh sekitar 6.800 km. Sebagai perbandingan, jarak antara Sabang dan Merauke kurang lebih 5.200 km. Sungai ini mengairi wilayah yang sangat luas, terutama di wilayah kering di Gurun Sahara. Tanpa sungai ini, hanya sedikit orang yang bisa tinggal di Mesir dan Sudan. Wilayah pesisir Sungai Nil termasuk di antara wilayah luas dengan kepadatan penduduk tertinggi di dunia.

Sungai yang disebut berikutnya adalah Sungai Sayhan dan Jayhan, disebut juga Sirhan dan Jirhan atau Sayhun dan Jayhun menurut jalur hadits lain; dalam Al-kitab disebut Pishon dan Gihon. Berbeda dengan Sungai Efrat dan Sungai Nil, kedua sungai ini tidak familiar bagi para sahabat di zaman Nabi. Karena itu, ketika Islam menyebar, umat Islam memberi nama ini ke sungai yang mereka temui. Ada dua pasang sungai kembar yang kemudian diberi nama Sayhan dan Jayhan.

Sungai kembar pertama berada di Asia Tengah, bermuara di Laut Aral dan berasal dari Uzbekistan. Walaupun Laut Aral hampir menghilang di abad ke-20, tetapi sungai kembar ini masih mengalir. Sungai Sayhan mengalir terutama melalui Kazakhstan dan memiliki panjang sekitar 2.200 km, sementara Sungai Jayhan 2.400 km, mengalir dari Uzbekistan ke Turkmenistan sebelum kembali lagi ke Uzbekistan. Walaupun Asia Tengah tidak sekering Asia Barat atau Mesir (padang rumput lebih banyak daripada padang pasir), dua sungai ini sangat penting bagi umat Islam di sana. Sejak penjajahan Rusia di Asia Tengah, Sungai Sayhan disebut lebih umum disebut Syr Darya, sementara Sungai Jayhan disebut Amu Darya.

Sungai kembar kedua cukup pendek (sekitar 500 km), seluruh alirannya terletak di Turki selatan dan bermuara di Laut Tengah. Menurut ejaan Turki modern, sungai-sungai ini disebut, masing-masing, Sungai Seyhan dan Ceyhan.

Wallahu a’lam.

Penulis: Hafiyan

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)