Buljum 2017.10.13: Toleransi Beragama yang Salah

Dalam syahadat kita terdapat pengakuan bahwa satu-satunya yang berhak diibadahi adalah Allah subahnahu wa ta’alaa dan berlepas diri dari kesyirikan dan pelakunya. Ibadah tidak disebut ibadah kecuali dengan tauhid.

Allah berfirman :

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَاء مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاء أَبَداً حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَه

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.’” (QS. Al Mumtahanah: 4)

Dalam ayat ini Nabi berlepas diri kesyirikan dan mengumumkan permusuhan kepada pelaku kesyirikan selama-lamanya.

Nabi Ibrahim tidak mentolerir kesyrikan; ini beliau tunjukkan dengan menghancurkan patung-patung orang musyrikin. Tetapi, kalau di zaman sekarang, malah di ajak foto selfie patung-patungnya. Rekreasi ke tempat ibadah orang musyrik sambil selfie, bangga. Itu mungkin karena belum belajar tauhid dengan baik, atau lupa. Mereka tidak paham atau lupa kalau dalam kalimat laa ilaaha illallaah berisi kebencian dan permusuhan kepada kesyrikan dan kekufuran.

Contoh lainnya, Rasulullah membersihkan Ka’bah dari 360 berhala ketika fathu Makkah, dan tidak setelah itu mentolerir kesyirikan dan orang-orang musyrik yang berada di tanah suci. Membeci karena Allah adalah bagian dari iman sebagaiamana diriwayatkan dari Abdullah Ibnu Mas’ud. Rasulullah bersabda:

أوثق عرى الإيمان : الحب في الله والبغض في الله

Tali iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” [Hadits ini diriwayatkan oleh Thabarany dalam Kitab Al Kabir (10531)]

Selain itu, tidak ada loyalitas dan kecintaan kepada orang-orang musyrik dan orang-orang kafir. Mengapa? Karena mereka adalah musuh-musuh Allah, meskipun mereka adalah orang-orang yang memiliki kekerabatan yang sangat dekat dengan kita. Jika kita mematuhi perintah ini maka Allah menjanjikan syurga dan dimasukkan dalam golongan orang-orang yang beruntung.

لَّا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ ۖ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ أُولَٰئِكَ حِزْبُ اللَّهِ ۚ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُون

Tidaklah kamu temukan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir yang berkasih-sayang berwala’ kepada orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya meskipun itu ayah-ayah mereka, atau anak-anak mereka, atau saudara-saudara mereka, ataupun keluarga-keluarga mereka. Mereka itu lah yang Allah tuliskan dalam hati-hati mereka keimanan, dan Allah kuatkan mereka dengan ruh dari-Nya, lalu Allah akan masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai yang mereka kekal di dalamnya. Allah ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada Allah. Mereka itulah golongan Allah dan ketahuilah golongan Allah itu lah orang-orang yang akan beruntung.” (QS. Al Mujaadalah : 22)

Disaat yang sama, kita diperintahkan untuk berbuat baik dan berbuat adil kepada orang-orang kafir. Adil dan baik disini definisinya mengikuti definisi islam, bukan mengikuti definisi orang-orang liberal atau kafir.

Adil itu tidak mesti sama. Misalnya, dalam hukum waris, kita tahu bahwa pembagian warisan tidak sama. Tetapi, itulah keadilan yang Allah tetapkan. Lelaki muslim boleh menikahi wanita ahli kitab yang suci, tetapi tidak berlaku sebaliknya. Orang kafir boleh menolong kita dalam ketaatan kepada Allah, tetapi kita tidak boleh menolong orang kafir dalam ibadah mereka. Karena dalam ibadah mereka terdapat kedzaliman, kekufuran dan kesyirikan kepada Allah. Menolong mereka berarti tolong menolong dalam kedzaliman, kekufuran dan kesyirikan kepada Allah.

 لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al Mumtahanah: 8-9)

Ayat ini mengajarkan prinsip toleransi, yaitu hendaklah setiap muslim berbuat baik kepada yang lainnya selama tidak ada sangkut pautnya dengan hal agama. Sedangkan, menolong mereka dalam agama mereka adalah terlarang. Contoh hal yang dilarang adalah  memberi ucapan selamat atas ibadah mereka, atas perayaan mereka, membangun tempat ibadah mereka, menunjukkan jalan ke mereka untuk beribadah, dan segala macam pertolong atas ibadah mereka yang berisi kekufuran dan kesyirikan.

Kita sering mendengar “Islam adalah agama kasih sayang”, “Islam adalah yang agama toleran”. Sebenarnya pernyataa itu adalah benar dan tepat jika dipahamai dan diartikan dengan cara Rasulullah dan pemahaman para sahabat Rasulullah. Cara mengetahui penyimpangan dalam beragama adalah dengan membandingkan pemahaman Al Quran dan As Sunnah itu sebagaimana yang Rasulullah dan para sahabat pahami.

Siapa yang tidak mengkafirkan orang-orang musyrik, ragu akan kekafiran mereka, atau membenarkan keyakinan mereka, maka dia kafir berdasarkan ijma’ para ulama. Allah sendiri telah mengkafirkan, namun orang ini menentang dengan mengambil sikap yang berlawanan dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Karena itu, tidak mengkafirkan orang yang dikafirkan Allah, ragu, dan bahkan membenarkan mazhab mereka, sama dengan artinya berpaling dari keputusan Allah.

Apakah kita harus menghormati orang-orang musyrik dan kafir, sedangkan Allah sendiri yang mencela dan merendahkan mereka? Kita bisa banyak jumpai banyak ayat-ayat Al Quran membantah trinitas dan logika orang-orang musyrik. Rasulullah diperintahkan untuk memerangi kesyirikaan sebagaimana Allah berfirman,

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّه

Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada lagi fitnah dan (sehingga) ketaatan itu semata-mata untuk Allah” (QS. Al Anfal: 39).

Ketika kondisi umat islam memiliki kekuatan maka ayat ini berlaku. Tujuan memerangi mereka agar agama Allah tersebar dan lenyaplah penghalang dakwah islam dan musuh-musuh agama islam. Lalu, apa yang harus kita lakukan? Bagaimana dalam kondisi lemah? Maka terapkanlah surat Al Kafirun, jangan sekali-kali ikut membantu sedikitpun dalam ibadah mereka.

Jika kita masih belum mampu untuk berdakwah mengajak kepada tawhid kepada temaan kantor atau teman kampus, janganlah secara tidak langsung menolong mereka melakukan ibadah mereka yang berisi kesyrikan dan kekufuran. Janganlah menolong mereka melakukan kedzaliman kepada Allah.

Sebagai penutup, bacalah dan renungkan ayat berikut.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa diantara kalian murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai Allah, bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.” (QS. Al Maidah: 54)

Ini yang bisa saya sampaikan. Hanya Allah yang memberi taufiq.

Penulis: Nailul

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)