Buljum 2017.10.6: Seputar Tentang Halal-Haramnya Makanan

Sebagai sebuah negara dimana rakyatnya mayoritas nonmuslim, hidup di Jepang tentunya rasanya sangat berbeda dengan hidup di Indonesia. Salah satunya merupakan makanan yang tersedia di sekitar kita, dimana daging babi tidak jarang digunakan sebagai lauk, makanan-makanan yang mengandung daging sangat jarang bersertifikasi halal, dan bahan-bahan khamr terkadang juga digunakan sebagai bumbu masak, sehingga kita sepatutnya selalu waspada dalam memilih makanan, terutamanya di negeri minoritas muslim seperti Jepang ini. Dalam kesempatan ini, penulis ingin membahas tentang seputar halal-haramnya makanan, terutama yang sering kita hadapi di dalam keseharian di luar Indonesia, mudah-mudahan bisa menjadi pengingat bagi kita semua untuk memakan makanan dari rizki Allah SWT yang baik-baik.

Asal-usul halal-haram terhadap makanan dalam Islam.

Secara umum, di dalam Alquran, Allah SWT berfirman beberapa kali tentang makanan yang baik dan makanan yang diharamkan kepada manusia oleh-Nya, seperti dalam firman-Nya di surat al-Baqarah ayat 172-173 yang seperti berikut;

﴾يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ  ﴿١٧٢

﴾إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ ۖ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ  ﴿١٧٣

Hai orang-orang yang beriman! Makanlah yang baik-baik dari apa-apa yang telah Kami berikan kepadamu, serta bersyukurlah kepada Allah kalau betul-betul kamu berbakti kepada Nya. Allah hanya mengharamkan kepadamu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang disembelih bukan karena Allah. Maka barangsiapa dalam keadaan terpaksa dengan tidak sengaja dan tidak melewati batas, maka tidaklah berdosa baginya, karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Belas-kasih.” (QS 2:172-173)

Selain pada ayat tersebut, Allah SWT juga membahas tentang makanan-makanan ini dengan lebih terperinci dalam firman-Nya dalam potongan surat al-Maidah ayat 3 seperti berikut:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِالْأَزْلَامِ ۚ  … .٣

Telah diharamkan atas kamu bangkai, darah, daging babi, binatang yang disembelih bukan karena Allah, yang (mati) karena dicekik, yang (mati) karena dipukul, yang (mati) karena jatuh dari atas, yang (mati) karena ditanduk, yang (mati) karena dimakan oleh binatang buas kecuali yang dapat kamu sembelih dan yang disembelih untuk berhala.” (QS 5:3)

Seperti disebutkan dalam ayat-ayat tersebut, daging babi dan darah yang mengalir sudah jelas keharamannya. Untuk bangkai, terdapat sebuah pengecualian pada makhluk air dan belalang, dan oleh sebab itu makanan air seperti ikan bisa menjadi makanan paling aman di saat terdesak. Untuk tanaman seperti sayuran dan buah-buahan, tidak terdapat banyak perselisihan dikarenakan hukum asal semua makanan adalah mubah, kecuali yang khamr atau yang memabukkan. Yang cukup rawan menjadi bahan perselisihan adalah masalah daging selain daging babi, dikarenakan lafaz ‘binatang yang disembelih bukan karena Allah’ dapat mengundang perbedaan pendapat.

Ayam dan daging selain daging babi.

Mungkin ada yang berpendapat bahwa daging ayam dan daging lainnya selain daging babi halal untuk dimakan untuk kasus di Jepang dikarenakan kita tidak tahu apakah daging tersebut disembelih dst. Untuk itu, penulis tidak dapat berkata banyak, tapi kurang lebih penulis mengkategorikan daging seperti ini ke golongan syubhat, khususnya di negara Jepang yang mayoritasnya Ateis dan kecil kemungkinannya bahwa daging tersebut disembelih oleh seorang Muslim ataupun seorang ahli kitab sebelum dimakan. Dan di dalam Islam, terdapat sebuah prinsip untuk menjauhi yang syubhat agar kita selamat, seperti yang terdapat pada hadits Rasulullah SAW berikut:

Yang halal sudah jelas dan yang haram pun sudah jelas, diantara keduanya itu ada beberapa perkara yang belum jelas (syubhat), banyak orang yang tidak tahu: apakah dia itu masuk bagian yang halal ataukah yang haram? Maka barangsiapa yang menjauhinya karena hendak membersihkan agama dan kehormatannya, maka dia akan selamat, dan barangsiapa mengerjakan sedikitpun daripadanya hampir-hampir ia akan iatuh ke dalam haram, sebagaimana orang yang menggembala kambing di sekitar daerah larangan, dia hampir-hampir akan jatuh kepadanya. Ingatlah! Bahwa tiap-tiap raja mempunyai daerah larangan. Ingat pula, bahwa daerah larangan Allah itu ialah semua yang diharamkan.”(HR Bukhari, Muslim dan Tarmizi, dan riwayat ini adalah lafal Tarmizi)

Dan oleh sebab itu, maka sudah sepatutnya kita menjauhi hal-hal yang syubhat ini demi menjaga keselamatan beragama diri kita sendiri.

Khamr atau alkohol yang terdapat pada makanan.

Terkadang di dalam beberapa masakan di luar Indonesia, minuman khamr atau minuman yang memabukkan seperti wine terkadang digunakan sebagai bahan masakan untuk beberapa jenis makanan. Sementara di Jepang sendiri, beberapa masakan Jepang kerap kali dimasukkan sake (酒,sejenis minuman beralkohol Jepang) dan mirin (味醂, みりん,sebuah bumbu beralkohol) sebagai bumbu masakkan tersebut. Sebagai seorang muslim, sudah sepatutnya kita waspada untuk menjaga diri agar tidak memakan makanan yang mengandung khamr, dikarenakan khamr diharamkan untuk dikonsumsi sebagaimana terdapat pada surat al-Maidah ayat 90 seperti berikut:

﴾يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ  ﴿٩٠

Hai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya arak, judi, berhala, dan undian adalah kotor dari perbuatan syaitan. Oleh karena itu jauhilah dia supaya kamu beruntung.” (QS 5:90)

Untuk kasus khamr ini, mungkin ada yang berpendapat walaupun jika dikonsumsi dalam jumlah banyak akan menyebabkan kemabukan, tidak apa-apa jika hanya dikonsumsi dalam jumlah kecil karna tidak akan memabukkan. Namun, ada hadits yang menjelaskan bahwa meminum khamr walau sedikit itu diharamkan, dikarenakan walaupun niatnya hanya meminum sedikit dapat membuat ketagihan dan akhirnya malah meminum banyak. Hadits terebut seperti berikut:

Rasulullah SAW pernah menegaskan: “Minuman apapun kalau banyaknya itu memabukkan, maka sedikitnya pun adalah haram.” (HR Ahmad, Abu Daud, Tarmizi)

Oleh sebab itu, mari kita jaga diri dari makanan-makanan yang mengandung alkohol.

Sejatinya penulis juga manusia dan penuh keterbatasan, dikarenakan yang Maha Sempurna hanyalah Allah SWT semata, dan oleh sebab itu penulis tidak dapat menjelaskan segala hal secara terperinci. Namun, dikarenakan kita hanyalah manusia yang pengetahuannya sangat terbatas, sudah sepatutnya kita menaati segala firman Allah sebisa mungkin tanpa banyak mempertanyakannya, dikarenakan Allah-lah yang Maha Tahu apa yang terbaik bagi makhluknya. Oleh sebab itu, marilah kita menjaga makanan yang kita makan demi kebaikan diri kita sendiri.

Wallaahu a’lam bisohawab. Segala yang benar hanya dari Allah, dan segala kesalahan berasal dari saya.

Bahan bacaan:

  • Kitab Halal-Haram dalam Islam oleh Syaikh Yusuf Qardhawi (terjemahan Bahasa Indonesia), Bab 2.1 : Makanan

Penulis: Reyhan

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)