Buljum 2017.9.21: Menuntut Ilmu

 

“Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri China”. Ungkapan ini sering kita dengar di kalangan masyarakat, terutama di lingkungan sekolah. Meskipun ungkapan ini bukanlah hadits seperti banyak dianggap orang, ungkapan ini tetap mengandung kebenaran. Menuntut ilmu memang hal yang sangat penting, dan seseorang tak perlu ragu untuk mengejar ilmu tersebut, dimanapun ia berada.

Mengapa menuntut ilmu itu penting? Ilmu dan pengetahuan adalah landasan dari segala tindakan manusia. Tanpa ilmu dan pengetahuan, seseorang tidak akan bisa melakukan apa yang harus dilakukannya, dan kalaupun dia mencobanya, dia tidak akan bisa melakukannya dengan benar. Seseorang tidak akan bisa melakukan shalat atau puasa dengan benar jika ia tidak tahu apa itu shalat dan puasa, atau bagaimana cara melakukannya dengan benar; dan orang tersebut tidak akan bisa mencari nafkah yang cukup untuk dirinya jika ia tidak bisa membaca, menulis, dan berhitung.

Selain sebagai landasan dari tindakan, ilmu juga merupakan bahan baku peradaban manusia. Dengan ilmu, manusia dapat mengembangkan teknologi dan kebudayaan yang akan meningkatkan kualitas hidup masyarakat umum. Misalnya, dengan ilmu kimia dan fisika, manusia dapat mengembangkan berbagai macam material baru dengan sifat-sifat yang berguna, untuk kemudian diterapkan dalam berbagai perangkat untuk mempermudah hidup sehari-hari. Contoh lain, dengan ilmu sosiologi dan antropologi, manusia dapat memperoleh sudut pandang baru untuk menelaah kehidupan sehari-hari mereka, untuk mengubah masyarakat sekitarnya menjadi lebih baik.

Melihat betapa pentingnya ilmu, wajarlah jika banyak orang berusaha memperdalam ilmu dan pengetahuan mereka, terutama dalam bidang yang mereka minati dan/atau tekuni. Namun, bagi orang-orang tersebut pada khususnya dan bagi semua orang pada umumnya, mereka harus berhati-hati agar usaha mereka memperdalam ilmu di bidang masing-masing tidak membutakan mereka dari ilmu yang ada di luar bidang mereka. Jangan sampai banyak di antara kita menjadi ilmuwan ekor gajah, yang hanya tahu detil tentang ekor gajah, tapi tidak tahu apa-apa tentang telinga atau kaki gajah. Berusahalah untuk menjadi orang yang tahu banyak tentang banyak hal.

Mungkin kita berpikir, bagaimana caranya untuk mencari ilmu, sementara kita tidak punya waktu dan/atau biaya? Ilmu dapat diperoleh dari berbagai macam sumber, tidak hanya lewat kuliah di kampus. Buku-buku dapat ditemukan dengan mudah, baik buku tradisional dengan lembaran kertas dari perpustakaan dan toko buku, maupun buku elektronik yang banyak tersebar di Internet. Untuk yang lebih suka mendengar daripada membaca, ada audiobook, rekaman orang lain membacakan sebuah buku tertentu yang dapat didengarkan sambil mengerjakan pekerjaan lain. Banyak pula video-video yang penuh ilmu dan pengetahuan menarik yang dapat ditonton pada waktu luang atau didengarkan saja sambil melakukan pekerjaan lain di Internet. Mengenai Internet, banyak juga artikel-artikel dan website-website menarik dan penuh ilmu dan pengetahun yang tersebar di segala penjuru Internet. Bahkan sesuatu seperti video game, yang sering dianggap antitesis belajar di kelas, dapat megandung berbagai ilmu dan pengetahuan menarik yang dikemas dalam formatnya yang menarik. Singkatnya, “tuntutlah ilmu, walaupun sampai negeri China video game”.

Namun, tentu saja, semua ilmu dan pengetahuan tersebut akan sia-sia jika tidak diamalkan. Orang yang punya banyak ilmu tapi tidak mengamalkannya, baik dengan menerapkannya dalam hidup sehari-hari atau menyedekahkannya, sama saja dengan orang kaya yang pelit dalam mengeluarkan uangnya, yang uangnya tidak disedekahkan dan tidak pula dibelanjakan, tapi malah ditimbun dalam gudang uang.

Penulis: Taqwa

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)