Buljum 2017.9.29: Ibnu Khaldun dan Siklus Sejarah

إِن يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ ٱلْقَوْمَ قَرْحٌ مِّثْلُهُۥ ۚ وَتِلْكَ ٱلْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ ٱلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَيَتَّخِذَ مِنكُمْ شُهَدَآءَ ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ ٱلظَّٰلِمِينَ

“Jika kamu (pada Perang Uhud) mendapat luka, maka mereka pun (pada Perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran), dan agar Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan agar sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang zhalim,” (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 140)

Beberapa tahun lalu, penulis pernah membahas sedikit mengenai sejarah beberapa ilmuwan Muslim zaman dahulu dari wilayah Asia (Al Khwarizmi, Al Biruni, Ibnu Sina), khususnya wilayah yang dulunya termasuk dalam kekaisaran Persia. Kali ini, insya Allah penulis ingin memperkenalkan mengenai seorang ilmuwan dari wilayah Afrika, Abu Zayd ‘Abd ar-Rahman ibn Muhammad ibn Khaldun al-Hadhrami (أبو زيد عبد الرحمن بن محمد بن خلدون الحضرمي‎‎), atau lebih dikenal sebagai Ibnu Khaldun. Beliau dikenal sebagai salah satu sejarawan paling terkenal di dunia Islam, hidup di abad ke-14 M. Beliau lahir di Tunis, berkelana menuntut ilmu di berbagai tempat di Afrika dan Eropa, dan meninggal di awal abad ke-15 M di Mesir.

Sesuai gelar ibnu Khaldun dan gelar al-Hadhrami-nya, beliau adalah keturunan dari Khaldun, seorang Arab yang dulunya hidup di Hadhramaut, Yaman. Bangsa Hadhramaut dari dahulu terkenal sebagai bangsa penjelajah, dan keturunannya tersebar di berbagai penjuru dunia Islam (termasuk di Indonesia). Nenek moyang Ibnu Khaldun sendiri, pada awal zaman Kekhalifan Umayyah di sekitar abad ke-8 M, menjelajahi Afrika sebelum akhirnya menetap di Isybiliya di al-Andalus (sekarang Spanyol selatan). Selama masa Umayyah, Bani Khaldun (keluarga keturunan Khaldun) menjadi pemerintah Isybiliya. Tetapi, Kekhalifan Umayyah akhirnya runtuh di abad ke-11 M, dan umat Islam di al-Andalus terpecah belah menjadi kerajaan-kerajaan kecil yang sedikit demi sedikit ditaklukkan Bangsa Eropa. Isybiliya sendiri jatuh ke tentara Castilla di tahun 1248 M dan nama kota ini diubah menjadi Sevilla. Karena penaklukkan ini, Bani Khaldun mengungsi ke wilayah Maghrib. Karena pengalaman keluarga ini sebagai pemimpin, mereka dipercaya untuk memegang posisi-posisi penting di pemerintahan Maghrib, yang waktu itu berada di bawah kekuasaan Dinasti al-Muwahhidun.

Ibnu Khaldun lahir di Tunis, salah satu kota terbesar di Maghrib (di kemudian hari menjadi ibukota negara Tunisia) pada tahun 1332 M. Sebagai anggota Bani Khaldun, selain mempelajari ilmu Al Qur’an, Bahasa Arab, ilmu hadits dan ilmu fiqih di masa muda, beliau juga mempelajari berbagai ilmu politik. Selama hidupnya, Ibnu Khaldun menjadi penasihat bagi berbagai pemimpin di berbagai kota di wilayah al-Muwahhidun, seperti Tunis, Tlemsan (disebut juga Tlemcen, sekarang di Aljazair) dan Fes (disebut juga Fez, sekarang di Maroko).

Karya terpenting Ibnu Khaldun adalah sebuah kitab berjudul al-Muqaddimah (pembukaan). Kitab ini membahas mengenai bidang historiografi, yaitu ilmu tentang penulisan sejarah. Jika sejarah adalah sebuah ilmu yang mempelajari kejadian-kejadian yang telah lampau mengenai suatu subyek (negara, kota atau semacamnya), historiografi adalah ilmu yang mempelajari bagaimana pengetahuan tentang sejarah ini dituliskan. Kitab ini diberi judul “pembukaan” karena Ibnu Khaldun ingin agar para sejarawan menjadikan kitab ini sebagai rujukan sebelum menulis sejarah suatu negara, kota atau semacamnya.

Ketika menulis sejarah, sejarawan umumnya mengutip berbagai berita mengenai peristiwa yang telah terjadi dan merangkumnya. Tetapi, karena berbagai alasan, cukup banyak berita itu palsu (kalau menggunakan bahasa yang populer sekarang, hoax) dan tidak seharusnya dikutip. Dalam kitab al-Muqaddimah Ibnu Khaldun memberi beberapa contoh alasan masuknya hal yang salah dalam catatan sejarah. Alasan terpenting yang ditekankan Ibnu Khaldun adalah bias yang dimiliki sejarawan. Mungkin saja suatu kabar adalah palsu, tetapi jika kabar ini sejalan dengan sangkaan sejarawan, lebih mungkin kabar ini tercatat dalam sejarah. Alasan lain adalah mempercayai kabar dari pihak yang sebenarnya tidak bisa dipercaya.

Agar bisa menilai apakah sebuah sumber berita bisa dipercaya, para ilmuwan Islam, terutama dari ilmu hadits, telah mengembangkan berbagai metode. Tetapi, ilmu ini cukup sulit dan informasi yang benar sering sulit didapat. Ibnu Khaldun berpendapat bahwa untuk menilai kebenaran sebuah kabar, pertama-tama, lebih baik menggunakan logika sebagai tolok ukur. Untuk hadits, hal-hal yang jelas bertentangan dengan al-Qur’an bisa dianggap salah. Untuk kabar-kabar lain, kabar yang secara logika tidak mungkin terjadi bisa ditolak. Jika kebenaran tidak bisa dipastikan menggunakan logika, barulah penilaian dari segi sumber kabar dilakukan. Di dalam al-Muqaddimah, Ibnu Khaldun merangkum berbagai aturan logis yang bisa dirujuk untuk menentukan apakah suatu kabar masuk akal.

Kontribusi terbesar Ibnu Khaldun yang dalam kitab ini adalah penjelasannya mengenai siklus sejarah. Beberapa sejarawan merangkum siklus ini sebagai berikut: (1) zaman yang sulit menghasilkan kaum yang kuat, (2) kaum yang kuat menghasilkan negara yang makmur, (3) negara yang makmur menghasilkan zaman yang mudah, (4) zaman yang mudah menghasilkan kaum yang lemah, (5) kaum yang lemah mengasilkan negara yang lemah, (6) negara yang lemah menghasilkan zaman yang sulit, dan selanjutnya kembali ke poin (1). Di antara hal terpenting yang dilakukan Ibnu Khaldun adalah menjelaskan mekanisme di tahap (2) dan tahap (5) menggunakan teori ashabiyah (عصبيّة, berasal dari kata “mengikat”, kadang-kadang diterjemahkan sebagai solidaritas); pembahasan detailnya jauh di luar cakupan ilmu penulis.

Diperkirakan, Ibnu Khaldun memikirkan teori ini dengan melihat jatuh bangun berbagai negara di sekelilingnya. Di al-Andalus, Islam masuk dibawa para pejuang Umayyah. Mereka kemudian mendirikan kota-kota terkaya di Eropa (di masa kejayaannya di abad ke-10 M, Qurthuba [Cordoba] memiliki penduduk lebih banyak daripada Konstantinopel di Romawi Timur). Setelah itu, Umayyah pecah dan dikalahkan berbagai negara-negara Eropa, yang kemudian bersatu membentuk Spanyol. Tidak semua hal adalah negatif bagi umat Islam; mendekati akhir hayat Ibnu Khaldun, ia menyaksikan orang-orang Turk pengungsi serbuan Mongol berhasil mengalahkan koalisi Pasukan Salib di delta Sungai Danube pada tahun 1396 M. Di kemudian hari orang-orang Turk ini mendirikan negara yang di masa kejayaanya (sekitar abad ke-15/16 M) adalah negara terkuat di Eropa. Meskipun begitu, negara orang-orang Turk ini pun akhirnya jatuh pasca Perang Dunia I. Sebagaimana yang difirmankan Allah, masa kejayaan dan kehancuran dipergilirkan di antara umat manusia agar mereka mendapat pelajaran.

Wallahu a’lam bisshowab.

Bahan bacaan:

  • ‘Abd ar-Rahman ibn Khaldun, ”Al-Muqaddimah”, 1377.
    Terjemahan Bahasa Inggris oleh Franz Rosenthal, 1958.

Penulis: Hafiyan

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:D :) :( :eek: :o :-S 8) :oops: ;-( :lol: :| :x :P :mrgreen: :wink: :dizzy: :roll: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: 0==(D)